Adakah Bangsa yang Kuat Bila Terus Bertempur? Belajar dari Perang Paregreg Majapahit
Rencana mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan di Lebanon oleh Israel kembali memunculkan pertanyaan klasik dalam sejarah politik dan militer: apakah sebuah bangsa dapat tetap kuat jika hidup dalam perang tanpa henti?
Laporan media Israel menyebutkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan mobilisasi sekitar 450.000 tentara cadangan, jauh di atas batas sebelumnya yang sekitar 260.000 personel. Langkah tersebut dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan di perbatasan dengan Lebanon serta kemungkinan operasi darat terhadap kelompok bersenjata di wilayah itu, terutama Hezbollah.
Jika rencana ini disetujui, mobilisasi tersebut akan menjadi salah satu pengerahan cadangan terbesar dalam sejarah militer Israel. Hal ini menunjukkan bahwa konflik yang berlangsung di kawasan tersebut berpotensi semakin meluas dan berkepanjangan.
Namun sejarah menunjukkan bahwa perang yang berlangsung terus-menerus jarang menjadi fondasi kekuatan jangka panjang sebuah bangsa. Bahkan kekuatan besar sekalipun sering melemah ketika energi nasionalnya terlalu lama terserap oleh konflik.
Contoh modern dapat dilihat pada pengalaman Amerika Serikat dalam perang panjang di Irak dan Afghanistan. Setelah peristiwa Serangan 11 September 2001, Washington melancarkan invasi militer yang kemudian berubah menjadi konflik panjang selama dua dekade.
Perang tersebut memang menjatuhkan rezim Saddam Hussein di Irak dan menggulingkan pemerintahan Taliban di Afghanistan pada fase awalnya. Namun konflik yang berkepanjangan justru menelan biaya sangat besar bagi Amerika. Sejumlah penelitian ekonomi memperkirakan biaya perang mencapai triliunan dolar, mencakup operasi militer, logistik, rekonstruksi, dan perawatan veteran.
Ironisnya, setelah dua puluh tahun perang di Afghanistan, Amerika akhirnya menarik pasukannya pada 2021, dan Taliban kembali berkuasa. Banyak analis menilai pengalaman ini sebagai contoh bagaimana perang yang panjang dapat menguras kekuatan ekonomi dan politik bahkan bagi negara adidaya.
Di saat yang sama, dunia juga menyaksikan kebangkitan ekonomi dan teknologi Cina. Sementara Amerika menghabiskan sumber daya besar dalam konflik luar negeri, Cina justru memfokuskan diri pada pembangunan industri, teknologi, dan perdagangan global. Akibatnya, persaingan global antara kedua negara semakin terlihat dalam bidang ekonomi dan teknologi.
Pelajaran serupa sebenarnya sudah tercatat jauh sebelumnya dalam sejarah Nusantara melalui peristiwa Perang Paregreg. Konflik ini terjadi pada akhir abad ke-14 di dalam kerajaan besar Majapahit, ketika dua pusat kekuasaan saling bertempur: kubu barat yang dipimpin oleh Wikramawardhana dan kubu timur yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi.
Perang saudara tersebut berlangsung selama beberapa tahun dan menguras kekuatan kerajaan yang sebelumnya sangat kuat di Asia Tenggara. Perdagangan terganggu, stabilitas politik runtuh, dan wilayah-wilayah taklukan mulai melepaskan diri. Banyak sejarawan melihat Perang Paregreg sebagai titik awal melemahnya Majapahit hingga akhirnya kerajaan besar itu perlahan runtuh.
Sejarah Majapahit memberikan pelajaran penting: kekuatan besar dapat hancur bukan karena satu kekalahan besar, tetapi karena konflik yang terus menguras energinya dari dalam.
Dalam perspektif ini, pertanyaan tentang kekuatan bangsa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan militer, tetapi juga dengan kemampuan menjaga stabilitas jangka panjang. Mobilisasi pasukan yang besar mungkin menunjukkan kesiapan bertempur, tetapi perang yang berkepanjangan sering kali membawa konsekuensi yang jauh lebih kompleks: ekonomi melemah, masyarakat terpolarisasi, dan sumber daya nasional terkuras.
Karena itu, sejarah—baik dari pengalaman negara modern maupun kerajaan masa lalu—sering mengajarkan satu hal yang sama: bangsa yang terus hidup dalam perang tanpa henti jarang mampu mempertahankan kejayaannya dalam jangka panjang.
0 komentar: