basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Jürgen Habermas: Humanis, Kecuali dalam Penderitaan Palestina Jürgen Habermas (1929–2026) dikenal sebagai salah satu filsuf pal...




Jürgen Habermas: Humanis, Kecuali dalam Penderitaan Palestina

Jürgen Habermas (1929–2026) dikenal sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh dalam beberapa dekade terakhir. Ia memberi kontribusi besar dalam filsafat, sosiologi, studi komunikasi, dan ilmu politik, serta menjadi tokoh utama dalam tradisi Sekolah Frankfurt. Melalui Teori Tindakan Komunikatif, ia mengadvokasi rasionalitas, demokrasi, dan dialog bebas sebagai fondasi masyarakat modern.

Namun, setelah wafatnya, muncul perdebatan tajam, khususnya di kalangan intelektual Arab, terkait sikap politiknya terhadap Palestina. Habermas dinilai menjunjung tinggi rasionalitas Barat, tetapi mengabaikan penderitaan rakyat Palestina. Dukungan yang ia berikan terhadap Israel, termasuk dalam konteks kehancuran Gaza, dipandang bertentangan dengan prinsip-prinsip universal yang selama ini ia bela.

Kontradiksi ini semakin terlihat jika dibandingkan dengan sikapnya dalam kasus lain, seperti penolakannya terhadap Penghargaan Buku Sheikh Zayed pada 2021 karena alasan kebebasan dan keadilan. Dalam kasus Palestina, ia justru menolak menyebut kekerasan di Gaza sebagai genosida, meskipun korban sipil terus berjatuhan dalam skala besar.

Sebagian analis menjelaskan sikap ini sebagai produk konteks historis Jerman, terutama beban moral akibat warisan Nazi. Dukungan tanpa syarat terhadap Israel dianggap sebagai bentuk penebusan atas kejahatan masa lalu. Selain itu, pengaruh politik dan lobi pro-Israel juga dinilai memperkuat posisi tersebut.

Namun, penjelasan lain melihat persoalan ini lebih luas, yakni sebagai bagian dari pola historis dalam pemikiran Barat yang disebut “humanisme eksklusif.” Dalam kerangka ini, nilai-nilai seperti keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan hanya berlaku penuh bagi kelompok internal, sementara diabaikan ketika berhadapan dengan “yang lain.”

Sejarah kolonialisme memperlihatkan pola serupa: nilai-nilai humanisme diagungkan di dalam negeri, tetapi diabaikan dalam praktik penjajahan. Dalam konteks ini, sikap Habermas bukanlah anomali, melainkan cerminan konsistensi dari tradisi tersebut—di mana universalitas hanya berlaku secara terbatas, bukan global.

Kecerdasan dan Keilmuan Muhammad Al-Ghazali Muhammad Al-Ghazali berasal dari keluarga yang agamis sekaligus berlatar belakang pe...

Kecerdasan dan Keilmuan Muhammad Al-Ghazali


Muhammad Al-Ghazali berasal dari keluarga yang agamis sekaligus berlatar belakang pengusaha. Ayahnya adalah seorang hafizh Al-Qur’an, sementara ia sendiri telah menghafal Al-Qur’an sejak usia sepuluh tahun.

Ia dikenal sebagai ulama dan penulis produktif, dengan lebih dari 90 buku yang telah ditulisnya. Gaya penulisannya mendapat pujian dari Hasan Al-Banna, yang berkata, “Saya sangat kagum dengan tulisanmu yang ringkas, maknanya cermat, dan adabnya sopan. Seperti inilah seharusnya menulis. Menulislah dengan dukungan hati yang tulus. Semoga Allah selalu bersamamu.”

Pujian juga datang dari Syaikh Al-Azhar, Dr. Abdul Halim Mahmud, yang mengatakan, “Kita memiliki Al-Ghazali yang masih hidup (Muhammad Al-Ghazali) dan Imam Al-Ghazali, penyusun kitab Ihya.”

Salah satu karya pentingnya adalah Jahiliyah Modern, yang mengingatkan umat bahwa jahiliyah tidak hanya terjadi pada masa sebelum Rasulullah ï·º, tetapi terus hadir dan mengepung manusia di setiap zaman.

Melalui tulisan-tulisannya, ia juga mengingatkan tentang bahaya berbagai ideologi seperti komunisme, sekularisme, freemasonry, ateisme, eksistensialisme, salibisme, dan zionisme, sekaligus menawarkan cara menghadapi dan melawannya.

Muhammad Al-Ghazali juga mengkritik kondisi bangsa-bangsa Timur dengan mengatakan, “Tiada bangsa yang menghinakan diri seperti bangsa Timur, dan tiada yang hak-haknya dirampas sebagaimana dirampasnya hak agamanya.”

Beliau wafat pada Maret 1996 dan dimakamkan di Madinah, di pemakaman Al-Baqi.


Sumber:
Abdullah Al-Aqil, Mereka yang Telah Pergi, Penerbit Al-I'tishom, 2020

Kezuhudan Umar Tilmisani Syeikh Umar Tilmisani, yang wafat pada Mei 1986, berasal dari keluarga kaya. Ayah dan kakeknya adalah p...


Kezuhudan Umar Tilmisani

Syeikh Umar Tilmisani, yang wafat pada Mei 1986, berasal dari keluarga kaya. Ayah dan kakeknya adalah pengusaha kain dan permata, sementara beliau sendiri dikenal sebagai seorang pengacara terpandang di Mesir.

Namun, Umar Tilmisani memilih jalan hidup sebagai juru dakwah, murabbi, dan pemimpin yang mendedikasikan hidupnya untuk Allah. Dalam ceramah-ceramahnya, ia senantiasa memotivasi umat agar mengambil tanggung jawab dan peran dalam mengembalikan kejayaan Islam, sesuai dengan posisi dan bakat masing-masing. Baginya, itulah tugas setiap Muslim di setiap masa dan tempat.

Dengan latar belakang kekayaan dan posisi yang strategis, bagaimana kehidupannya?

Abdullah Al-Aqil dalam bukunya Mereka yang Telah Tiada menceritakan bahwa Umar Tilmisani tetap teguh dalam kezuhudannya. Ia tidak pernah berubah sikap, tidak plin-plan, serta tidak tergoda oleh keindahan dunia dan gemerlap jabatan. Ia meninggalkan kemewahan dunia untuk menghadap Allah.

Ia tinggal di sebuah apartemen yang sangat sederhana dan menjalani hidup apa adanya. Ia telah membebaskan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, lalu berjuang dan berkorban sepenuhnya untuk agama.

Apartemennya berada di gang yang sempit, dengan tangga yang sudah tua dan usang. Perabotan di dalamnya pun sangat sederhana.

Padahal, ia berasal dari keluarga kaya raya dan memiliki kedudukan penting. Bahkan, para pejabat negara pun mengakui kemuliaan akhlaknya.

Sumber:
Abdullah Al-Aqil, Mereka yang Telah Pergi, Penerbit Al-I'tishom, 2020

Cara Hasan Al-Banna Mengelorakan Kesadaran akan Palestina  Hasan Al-Banna adalah ulama yang sangat peduli dengan kenyataan rakya...

Cara Hasan Al-Banna Mengelorakan Kesadaran akan Palestina 


Hasan Al-Banna adalah ulama yang sangat peduli dengan kenyataan rakyat Palestina, sehingga beliau berusaha dengan sangat serius untuk membangkitkan kesadaran masyarakat Islam, menghilangkan rasa rendah diri dan sikap tuli serta buta dari telinga dan mata Muslimin. Beliau memiliki hubungan yang erat dengan beberapa pemimpin pejuang Palestina, di antaranya adalah seorang pejuang besar Haji Amin al-Husaini.

Hasan Al-Banna menggunakan majalahnya yang bernama An-Nadzir dan Al-Ikhwan, sebagai media untuk membangkitkan kesadaran terhadap masalah Palestina yang sesungguhnya.

Hasan Al-Banna juga memanfaatkan momen peringatan Isra Mi‘raj agar memori masjid Al-Aqsa terus kuat. Juga memperingati perjanjian Belfour pada setiap tanggal 2 November untuk membangkitkan kesadaran umat untuk menolak perjanjian Belfour yang dikeluarkan oleh pihak yang bukan pemiliknya, Inggris, kepada pihak yang sama sekali tidak berhak, Israel.

Sebagimana diibaratkan Amin Al-Husaini, "Palestina bukanlah sebuah negara yang tidak memiliki bangsa, sampai munculnya sebuah bangsa yang tidak memiliki negara."

Pada tahun 1936, Imam Hasan menerbitkan edisi khusus majalah An-Nadzir dengan topik spesial membahas revolusi Palestina. Dalam salah satu rubriknya, ia menulis sebuah artikel yang membangkitkan umat untuk berjihad dan siap syahid fi sabilillah. Sebab siapa pun yang berani mati, Allah akan menganugerahkan kehidupan.

Sumber:
Yusuf Al-Qardhawi, Sang Pelita, Pustaka Al-Kautsar, 2023

Hasan Al-Banna Pelopor Penggelora Kesadaran akan Palestina  Syeikh Yusuf Al-Qardhawi berkisah saat dia masih sekolah di tingkat ...


Hasan Al-Banna Pelopor Penggelora Kesadaran akan Palestina 


Syeikh Yusuf Al-Qardhawi berkisah saat dia masih sekolah di tingkat Tsanawiyah. Saat itu persoalan Palestina merupakan persoalan yang selalu aktual dan menarik perhatian. Saat itu, kalangan Islam-lah yang lebih banyak menarik perhatian tentang Palestina dibandingkan kalangan Nasionalis. Karenanya, sangat sedikit dari kalangan Nasionalis yang menyadari betapa bahayanya gerakan Zionisme di Palestina.

Pada suatu ketika, salah seorang penguasa Mesir yang berjiwa nasionalis ditanya tentang persoalan Palestina, jawabannya,  "Saya perdana menteri Mesir dan bukan perdana menteri Palestina."

Atas sikapnya ini, para mahasiswa dan masyarakat melawan sikap tersebut dengan aksi-aksi demonstrasi dan mengkritik sikap penguasa serta mengobarkan api revolusi di kalangan pelajar, mahasiswa, plus masyarakat luas. Saat itu, aksinya masih menunggu hasil perjanjian Belfour.

Dalam kondisi tersebut, tokoh Islam yang paling peduli dengan Palestina dan menyadari bahaya gerakan dan tujuan zionisme bagi bangsa Arab dan dunia Islam adalah Hasan Al-Banna.

Beliau selalu mengikuti perkembangan peristiwa di Palestina serta beragam rencana busuk yang ingin dilakukan Zionis Israel. Hal ini penting untuk menghilangkan sikap lalai yang menyelimuti hati umat dan membuktikan kebohongannya bahwa Palestina telah menjual negrinya kepada Yahudi dan bahwa mereka sudah tidak mau lagi melakukan perlawanan dan jihad melawan Zionis Israel.

Menurut Hasan Al-Banna, semuanya merupakan kebohongan yang disebarkan oleh Zionis Israel dan penjajah Inggris. Yang benar, hanya 2 persen yang dijual dari seluruh Palestina, yang menjualnya pun orang asing dan non muslim.

Kenyataannya rakyat Palestina selalu gigih melawan Zionis Israel dengan segala kemampuan yang dimiliki, sekalipun penjajah Inggris selalu menghalanginya dengan larangan memiliki senjata apa pun untuk mempertahankan diri. 

Padahal pada sisi lain, Inggris membiarkan dan mempersilahkan Zionis Israel bertindak represif, sadis, dan tidak manusiawi terhadap rakyat Palestina.

Anehnya, sikap politik Zionis dan kolonialis diterima oleh para pemimpin Arab dengan mengesampingkan persoalan Palestina. Penguasa Arab tidak pernah peduli untuk membela harga diri bangsa Palestina. 

Persoalan Palestina hanya menjadi persoalan rakyat Palestina sendiri tanpa perhatian masyarakat Arab dan dunia Islam. Inilah yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam. Padahal pada sisi lain, Zionis Israel sedang membuat gudang senjata yang sangat besar dan selalu mendapatkan bantuan dari berbagai negara lain.

Sumber:
Yusuf Al-Qardhawi, Sang Pelita Umat, Pustaka Al-Kautsar, 2023

Dilarangnya Shalat Idul Fitri di Al-Aqsa dan Retaknya Mitos Ketakterkalahkan Israel Sejarah mencatat, kehancuran sebuah kekuasaa...

Dilarangnya Shalat Idul Fitri di Al-Aqsa dan Retaknya Mitos Ketakterkalahkan Israel

Sejarah mencatat, kehancuran sebuah kekuasaan kerap diawali dari puncak kezaliman. Dalam perspektif Al-Qur’an, kezaliman mencapai titik nadir ketika manusia dihalangi untuk beribadah di rumah-rumah Allah. Apa yang terjadi di Masjid Al-Aqsa pada akhir Ramadhan 2026 menghadirkan kembali pola sejarah itu—bukan sekadar insiden keamanan, melainkan sinyal perubahan yang lebih dalam.

Untuk pertama kalinya sejak pendudukan tahun 1967, otoritas Israel menutup akses ke kompleks suci tersebut dan melarang pelaksanaan Shalat Idul Fitri. Ribuan warga Palestina dipaksa melaksanakan shalat di luar tembok Kota Tua Yerusalem Timur, di bawah bayang-bayang aparat bersenjata, gas air mata, dan granat kejut.

Pemandangan yang biasanya penuh takbir berubah menjadi ruang sunyi yang mencekam. Jalan-jalan yang lazimnya dipadati jamaah dan pedagang kini menyerupai kota mati. Toko-toko ditutup, aktivitas ekonomi lumpuh, dan warga hidup dalam tekanan ganda: spiritual dan material.

Israel berdalih bahwa langkah ini diambil demi alasan keamanan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk konfrontasi dengan Iran. Namun, bagi warga Palestina dan sejumlah organisasi internasional, kebijakan tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi yang lebih luas—memperketat kontrol atas situs suci sekaligus mengubah status historisnya secara bertahap.

Kecaman pun datang dari berbagai pihak, termasuk Organisasi Kerja Sama Islam dan Liga Arab, yang menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran serius terhadap kebebasan beribadah dan hukum internasional. Namun di lapangan, respons tersebut belum mampu mengubah realitas yang dihadapi warga Palestina.

Di tengah tekanan itu, satu hal justru tampak bertahan: perlawanan sosial dan spiritual. Warga tetap berkumpul, mendekati Al-Aqsa sejauh yang mereka mampu, menjadikan ruang-ruang sempit di luar tembok sebagai tempat sujud. Dalam keterbatasan, mereka menegaskan bahwa kontrol fisik tidak selalu berarti kemenangan politik.

Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan dinamika geopolitik yang lebih luas. Selama beberapa dekade, Israel membangun citra sebagai kekuatan yang tak tergoyahkan—ditopang oleh superioritas militer, dukungan Barat, dan dominasi narasi global. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan retakan pada fondasi tersebut.

Di Jalur Gaza, operasi militer berkepanjangan belum mampu memadamkan perlawanan. Di Lebanon, kekuatan penyeimbang terus membatasi ruang gerak militer Israel. Sementara itu, keterlibatan aktor regional lain memperluas medan konflik menjadi lebih kompleks dan tidak terprediksi.

Puncaknya terlihat dalam konfrontasi terbuka dengan Iran. Respons militer yang mampu menjangkau target strategis Israel menandai pergeseran penting: dari dominasi sepihak menuju pola saling menahan. Ini bukan sekadar eskalasi, melainkan perubahan struktur kekuatan di kawasan.

Dalam konteks ini, penutupan Masjid Al-Aqsa menjadi simbol yang lebih besar dari sekadar kebijakan keamanan. Ia mencerminkan kegelisahan sebuah kekuasaan yang mulai kehilangan kendali naratif dan strategisnya. Ketika akses ibadah dibatasi, legitimasi moral turut dipertaruhkan.

Mitos “Israel tak terkalahkan” yang selama ini dipelihara perlahan mengalami erosi. Bukan karena kekalahan militer langsung, tetapi karena ketidakmampuan mengubah keunggulan militer menjadi stabilitas politik yang berkelanjutan.

Sejarah belum selesai. Namun tanda-tandanya mulai terlihat: setiap tindakan represif yang dimaksudkan untuk mengokohkan kekuasaan justru berpotensi mempercepat delegitimasi. Dan dari celah itulah, sebuah babak baru di Timur Tengah perlahan mulai terbentuk.

Mengapa Masih Mempercayai Israel? Pertanyaan ini mengemuka di tengah rangkaian peristiwa yang menunjukkan pola ketidakkonsisten...



Mengapa Masih Mempercayai Israel?

Pertanyaan ini mengemuka di tengah rangkaian peristiwa yang menunjukkan pola ketidakkonsistenan dalam relasi politik dan militer.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak mengetahui serangan Israel terhadap fasilitas gas South Pars di Iran. Pernyataan ini menandakan adanya jarak koordinasi antara dua sekutu strategis, bahkan dalam operasi yang berdampak besar terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.

Di sisi lain, Israel juga dituduh melanggar kesepakatan gencatan senjata di kawasan regional. Operasi militer dilaporkan tetap berlangsung di Lebanon dan Suriah, termasuk penguasaan wilayah perbatasan serta serangan ke Beirut dan Damaskus. Hal ini memperkuat persepsi bahwa komitmen terhadap kesepakatan sering kali bersifat sementara dan situasional.

Jika ditarik ke dalam perspektif sejarah, pola serupa pernah muncul dalam sirah Nabi Muhammad ï·º. Dalam perjanjian Piagam Madinah, sejumlah kelompok Yahudi yang sebelumnya terikat kesepakatan justru melanggarnya, bahkan hingga terlibat dalam upaya yang mengancam keselamatan Rasulullah ï·º.

Dalam peristiwa Perang Ahzab, dinamika pengkhianatan juga terlihat. Di tengah pengepungan Madinah oleh pasukan Quraisy dan sekutunya, sebagian pihak yang semula berada dalam perjanjian justru dilaporkan berbalik, didorong oleh rasa takut dan tekanan situasi, dengan harapan melemahkan kaum Muslimin dari dalam.

Rangkaian peristiwa ini—baik dalam konteks modern maupun sejarah—menunjukkan satu benang merah: kepercayaan dalam politik dan konflik sering kali rapuh, terutama ketika kepentingan berubah.

Dengan demikian, pertanyaan “mengapa masih mempercayai” bukan sekadar retorika, tetapi refleksi atas pola berulang dalam hubungan yang dibangun di atas kepentingan, bukan komitmen yang kokoh.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (361) Al-Qur’an (6) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (2) Kecerdasan (263) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (2) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (3) Nusantara (249) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (604) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (263) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (6) Sirah Penguasa (243) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (160) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (23) Sirah Ulama (157) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)