basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Membongkar Mitos 350 Tahun Penjajahan: Padahal Ada Kesultanan yang Baru Dikalahkan pada 1925? Oleh: Nasrulloh Baksolahar “Bangsa...

Membongkar Mitos 350 Tahun Penjajahan: Padahal Ada Kesultanan yang Baru Dikalahkan pada 1925?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu kapan ia pernah benar-benar merdeka dan kapan ia pernah benar-benar dijajah.”



Kita sering mendengar narasi yang terus diulang sejak bangku sekolah dasar: Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Angka itu begitu kuat menancap di benak, seakan tak tergugat, menjadi dogma yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tapi mari kita bertanya secara kritis: benarkah Belanda menjajah Indonesia selama itu? Apakah mungkin satu bangsa asing mampu menjinakkan ratusan kerajaan, suku, dan pulau dalam satu tarikan napas selama tiga setengah abad?



Wilayah yang Luas, Kesultanan yang Tangguh

Nusantara bukan satu pulau kecil. Ia gugusan ribuan pulau dengan ratusan kerajaan bercorak Islam, Hindu, Budha, hingga animisme yang memiliki identitas politik dan militer sendiri. Apakah mungkin Belanda menguasainya semua secara bersamaan sejak 1602, tahun berdirinya VOC?

Sejarawan Prof. Dr. Onghokham menegaskan, kolonialisme Belanda lebih banyak berbentuk “pengaruh terbatas di titik-titik ekonomi strategis”, terutama di pelabuhan besar seperti Batavia, Makassar, dan Semarang. Wilayah pedalaman, apalagi daerah yang dipimpin oleh kesultanan Islam, kerap menjadi medan perang yang tak pernah selesai. Bahkan dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), disebutkan bahwa hingga awal abad ke-20, Belanda hanya menguasai sekitar 60% dari total wilayah geografis Indonesia secara administratif efektif.



Pecahnya Mataram: Tanda Kekalahan atau Awal Perlawanan?

Perjanjian Giyanti pada 1755 yang membelah Kesultanan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta sering dianggap sebagai awal kolonialisasi Belanda di pedalaman Jawa. Tapi benarkah itu bentuk kekuasaan penuh?

Justru setelah itu, perlawanan semakin massif. Perang Jawa 1825–1830, yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, bukanlah perang kecil. Dalam buku The Java War karya Peter Carey, dijelaskan bahwa ini adalah perang gerilya terbesar di Asia abad ke-19, melibatkan lebih dari 200.000 korban jiwa dan menguras kas kolonial sampai ke ambang kebangkrutan.

Jika benar Belanda telah menjajah Jawa sejak abad ke-18, kenapa butuh waktu seabad kemudian untuk “menjinakkan” rakyatnya?



Banten: Dari Batavia hingga Jejak Para Haji Mujahid

Ketika Belanda mendirikan Batavia pada 1619, itu bukan berarti mereka telah menaklukkan seluruh Banten. Kesultanan Banten, yang kala itu dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa, masih menjadi kekuatan maritim yang tangguh. Bahkan pada 1677, Sultan Ageng nyaris merebut kembali Batavia.

Namun keunikan Banten bukan hanya pada militansinya, tapi pada keterhubungannya dengan pusat-pusat keilmuan Islam. Ketika perlawanan rakyat Banten pecah kembali pada Tahun 1888, para pemimpinnya adalah ulama jebolan Mekkah yang pernah berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani, mufti terkemuka di Haramain.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo menulis bahwa pemberontakan 1888 bukan sekadar pemberontakan sosial, tetapi “berbasis ideologi jihad dan ilmu agama.” Bahkan Syekh Yusuf al-Makassari, mufti Kesultanan Banten yang dibuang Belanda ke Afrika Selatan, tetap menyulut perlawanan dengan menemui jamaah haji dari Nusantara yang menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Budak memang bisa dibelenggu, tapi ruh kemerdekaan tak bisa ditawan.



Aceh, Padri, dan Bali: Api Tak Pernah Padam

Aceh bukan sekadar wilayah yang ditaklukkan. Ia adalah simbol perlawanan yang abadi. Belanda baru berhasil menembus jantung Kesultanan Aceh pada 1904, setelah puluhan tahun pertempuran, dan itupun bukan berarti selesai. Perlawanan rakyat Aceh berlanjut hingga tahun 1942, ketika Belanda dipukul mundur oleh Jepang. Bahkan ketika semua wilayah lain telah “diam”, rakyat Aceh tetap menggenggam senjata.

Di wilayah Minangkabau, Perang Padri (1803–1838) adalah babak lain perlawanan. Belanda berhasil masuk ke pedalaman setelah terlibat dalam konflik internal antara kaum adat dan ulama, tapi tetap harus menghadapi perlawanan gigih dari tokoh seperti Tuanku Imam Bonjol. Sejarawan Taufik Abdullah menyebut Perang Padri sebagai bentuk “pembangkangan struktural terhadap sistem kolonial.”

Sementara di timur, Bali dan Lombok baru bisa direbut Belanda setelah 1894. Bahkan dalam buku Bali: A Paradise Created, Adrian Vickers mencatat bahwa pendudukan Belanda di Bali selalu berhadapan dengan sistem kasta dan kehormatan yang membuat rakyat lebih memilih mati dalam puputan (perang total) daripada tunduk pada kolonial.



Banjar dan Jambi: Kesultanan Terakhir yang Berdiri Tegak

Di Kalimantan, Perang Banjar (1859–1905) menunjukkan bahwa kolonialisme tak pernah nyaman di tanah Dayak dan Banjar. Pangeran Antasari menjadi simbol perlawanan yang hingga kini hidup dalam ingatan sejarah Kalimantan Selatan.

Adapun kesultanan terakhir yang baru dikuasai adalah Kesultanan Jambi. Sultan Thaha Syaifuddin, yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional, memimpin Perang Raja Batu hingga wafat pada 1904, namun sisa-sisa perlawanan masih hidup hingga 1925. Dalam buku Indonesia dalam Arus Sejarah (Kemendikbud), sejarawan mencatat bahwa Jambi adalah salah satu daerah yang waktu penjajahannya paling singkat, tak sampai satu abad.



350 Tahun? Dari Mana Angka Itu?

Jadi darimana datangnya angka 350 tahun itu? Jawaban paling umum: dari berdirinya Batavia (1619) hingga proklamasi kemerdekaan (1945). Tapi apakah seluruh wilayah Nusantara sudah benar-benar tunduk pada 1619? Ataukah Belanda hanya bercokol di beberapa kota pelabuhan saja?

Jika kita menggunakan tolok ukur kontrol militer dan administrasi, maka Belanda baru benar-benar menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia setelah 1925, usai penaklukan terakhir terhadap Jambi. Dan jika kita hitung hingga 1942, ketika Jepang masuk, maka masa “penguasaan total” Belanda atas Nusantara hanya ±17 tahun saja.



Nusantara: Tidak Pernah Tunduk Sepenuhnya

Ustadz Salim A. Fillah dalam berbagai ceramahnya sering menyebut bahwa “Nusantara adalah satu-satunya kawasan yang berhasil bertahan dari kolonialisme secara identitas.” Di Afrika, Asia Selatan, bahkan Australia dan Amerika Latin, penjajahan menyapu bersih agama asli, bahasa, hingga peradaban. Tapi di Nusantara?

Bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan. Islam tetap menjadi ruh masyarakat. Rakyat tetap menunaikan haji. Ulama tetap menjadi pemimpin moral. Belanda gagal menjajah pikiran dan jiwa bangsa ini.



Narasi Harus Dikoreksi, Agar Mental Bangsa Tidak Salah Asuh

Narasi bahwa kita dijajah selama 350 tahun harus dikaji ulang. Ia bukan hanya soal kronologi, tapi soal mentalitas kolektif. Jika kita terus percaya bahwa kita adalah korban pasif selama tiga setengah abad, maka kita akan tumbuh sebagai bangsa yang inferior.

Namun jika kita sadar bahwa kita adalah bangsa yang melawan, menolak, dan berjihad sepanjang sejarah, maka kita bisa bangkit dengan kepala tegak. Kita bukan bangsa yang dijajah, kita adalah bangsa yang terus berjihad sampai penjajah hengkang.

“Sejarah bukan sekadar masa lalu, ia adalah cermin martabat masa depan.”

Pembagian Peran Aceh dan Demak: Strategi Menjelang Badai Penjajahan Oleh: Nasrulloh Baksolahar “Ketika Eropa mulai mencari jalan...

Pembagian Peran Aceh dan Demak: Strategi Menjelang Badai Penjajahan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


“Ketika Eropa mulai mencari jalan laut ke Timur, Islam di Nusantara justru telah menyiapkan dermaga iman, pelabuhan dakwah, dan mercusuar peradaban.” — Catatan Sejarah Nusantara, 1511



Aceh dan Demak: Sebuah Kebetulan atau Desain Ilahi?

Sejarah memiliki caranya sendiri untuk menyimpan rahasia. Kadang ia tampak seperti kebetulan, padahal sejatinya adalah bagian dari skenario besar. Demikian pula kehadiran dua poros besar Islam di Nusantara: Kesultanan Aceh di barat dan Kesultanan Demak di timur. Keduanya tidak berdiri dalam kehampaan, melainkan saling mengisi dalam dua peran yang berbeda namun saling menguatkan. Aceh menjaga simpul hubungan luar negeri dengan dunia Islam internasional. Demak membangun jantung Islam dalam negeri. Apakah ini kebetulan? Ataukah ini desain Allah SWT menjelang badai penjajahan?



Walisongo: Kiriman Turki Utsmani?

Dalam karya klasik "Sejarah Umat Islam" (jilid 4), Buya Hamka mengungkapkan bahwa Turki Utsmani memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Salah satu bentuknya adalah dukungan kepada para ulama yang kelak dikenal sebagai Walisongo. Mereka bukan sekadar ulama lokal, tetapi bagian dari jaringan dakwah transnasional, hasil dari kerjasama antara Haramain, Pasai, dan Turki.

Sejarawan Prof. Azyumardi Azra juga menulis dalam "Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII", bahwa ulama Nusantara memiliki koneksi langsung dengan pusat-pusat keilmuan di Makkah dan Kairo. Bahkan sebelumnya, Aceh dan Pasai sudah menjadi pintu gerbang keilmuan bagi ulama dari Jawa. Sunan Giri, Sunan Bonang, bahkan Sunan Gunung Jati disebut-sebut menimba ilmu di wilayah ini. Artinya, sebelum berdirinya Demak, benih-benih intelektual dan spiritualnya telah disemai di bumi Aceh dan Pasai.



Simpul Keilmuan: Aceh–Demak, Satu Jaringan

Kesultanan Aceh bukan hanya sebuah kerajaan. Ia adalah universitas terbuka dunia Islam di timur. Di sinilah para ulama besar dari Jawa belajar. Aceh menjadi pelabuhan ilmu, sebelum menjadi pelabuhan diplomasi dan militer. Di sinilah peran Aceh menjadi penting: sebagai pusat orientasi keilmuan Islam yang berhubungan langsung dengan Timur Tengah, baik melalui jalur haji maupun jaringan tarekat.

Demak, di sisi lain, adalah pengejawantahan dari ilmu yang telah diserap di Aceh dan Pasai. Ia membangun sistem sosial, budaya, ekonomi, dan kekuasaan yang sepenuhnya bertumpu pada ajaran Islam. Inisiatif ini tidak lepas dari peran Walisongo yang menjadi arsitek sosial Demak.

Sejarawan Dr. Taufik Abdullah menulis bahwa jaringan keilmuan dan dakwah antara Aceh, Pasai, dan Jawa adalah bukti bahwa Islamisasi Nusantara tidak terjadi secara sporadis, melainkan sistemik dan terkoordinasi. Ini menandakan bahwa antara Aceh dan Demak ada simpul keilmuan yang satu.



Jaringan Diplomatik: Aceh sebagai Duta Besar Islam Nusantara

Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, jalur dagang dunia Islam menuju Asia Tenggara terputus. Namun Aceh tidak diam. Ia tampil sebagai garda depan menghadapi armada Portugis. Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar dari Aceh bahkan mengirim utusan ke Istanbul. Dan hasilnya? Turki Utsmani mengirimkan senjata, teknisi militer, hingga armada bantuan ke Aceh pada abad ke-16. Kapal-kapal Aceh bahkan diizinkan mengibarkan bendera Turki di lautan Hindia demi melindungi diri dari bajak laut Portugis.

Hal ini diperkuat oleh catatan Anthony Reid dalam "Southeast Asia in the Age of Commerce", bahwa Aceh adalah satu-satunya kerajaan di Asia Tenggara yang secara terbuka menjalin hubungan diplomatik dan militer dengan Turki Utsmani. Ini bukan hanya strategi politik, tapi ekspresi solidaritas ukhuwah Islamiyah lintas benua.



Demak: Membangun Sistem dari Dalam

Sementara Aceh berjibaku di luar negeri, Demak memperkuat dari dalam. Dari tangan Sunan Ampel dan Sunan Giri, dibangunlah jaringan sosial dan ekonomi Islam di Jawa. Di sinilah konsep negara berbasis tauhid mulai dijalankan: zakat sebagai penguatan ekonomi rakyat, masjid sebagai pusat pemerintahan, dan pesantren sebagai pabrik pemimpin.

Demak bukan hanya kekuasaan, tapi strategi. Ia bukan hanya kesultanan, tapi jantung perlawanan. Buah dari Demak tampak di abad-abad selanjutnya: munculnya Cirebon, Banten, Mataram, Ternate, Tidore. Semua adalah hasil dari benih yang ditanam oleh Walisongo, benih yang akarnya pernah menyentuh tanah Aceh.



Tidak Pernah Bertempur, Karena Berasal dari Akar yang Sama

Adakah fakta bahwa Aceh dan Demak pernah saling memerangi? Tidak ada. Sebaliknya, hubungan mereka adalah aliansi strategis—meski tidak selalu dalam bentuk resmi. Mereka memiliki kesadaran yang sama bahwa penjajah tidak hanya datang menaklukkan tanah, tapi juga aqidah dan peradaban.

Buya Hamka mencatat bahwa sejak abad ke-16, ada semacam konsolidasi antar-kesultanan Islam di Nusantara untuk menghadang masuknya kekuatan kolonial. Ini terbukti dari surat-surat diplomatik antar-kerajaan, bantuan senjata, pertukaran ulama, dan jaringan perdagangan bersama.

“Di kala Portugis mulai menjajah dan menyebarkan agamanya, muncullah kesultanan-kesultanan Islam di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Mereka saling memberi semangat dan kekuatan, walaupun tidak semua tercatat dalam surat menyurat resmi. Tapi semangat persatuan dan satu aqidah itu menjadi perisai menghadapi bahaya dari luar.”
— Hamka, Sejarah Umat Islam, Jilid 5, hal. 47

Bukankah Aceh menjalin diplomatik dengan Turki Utsmani? Bukankah Demak pun lahir dari ulama yang dikirim oleh khalifah Turki Utsmani?



Menjelang Badai Penjajahan

Portugis gagal menguasai jalur rempah karena Nusantara telah bersatu. Aceh memagari jalur laut. Demak menyiapkan jalur darat. Jamaah haji dan pedagang masih bisa berangkat ke Makkah, bahkan ketika Malaka dikuasai Portugis. Di masa-masa itulah, ruh Islam Nusantara mencapai bentuknya yang paling murni: mandiri, kokoh, dan terhubung langsung dengan jantung Islam dunia.

Demak melahirkan Cirebon, lalu Banten, dan dari sana lahir pula kekuatan Mataram Islam. Sementara Aceh tetap menjadi pelabuhan dunia Islam dan basis perlawanan militer. Ketika Belanda masuk ke Batavia, sudah ada jaringan perlawanan di pesisir. Ketika Inggris menjejakkan kaki di Sumatera, Aceh sudah menjadi “khalifah kecil” yang disegani.

Penjajahan Eropa tidak pernah membayangkan bahwa Nusantara memiliki koordinasi sekokoh itu. Maka butuh 350 tahun bagi Belanda untuk menguasai Nusantara. Bahkan saat menguasainya pun, mereka tidak pernah benar-benar bisa menguasai hati umat Islam di sini. Karena hati itu selalu menghadap Makkah. Buktinya, saat Kesultanan telah digenggam, perlawanan di luar istana terus berkecamuk.



Perlawanan yang Tidak Pernah Padam

Hari ini, kita bertanya: Mengapa Aceh dan Demak muncul hampir bersamaan? Mengapa satu menjaga jalur luar, satu membangun dari dalam? Mengapa mereka tidak pernah bertempur? Jawabannya mungkin hanya satu: karena mereka bukan dua, tetapi satu tubuh dari ruh yang sama. Sebuah desain dari Allah SWT untuk menghadapi badai dari barat.

Ketika peradaban zalim datang, mereka tidak berhadapan dengan bangsa biasa. Mereka berhadapan dengan umat yang terhubung dengan Haramain, bersenjata dengan ilmu, dan dipimpin oleh para wali. Inilah rahasia kekuatan Nusantara: hati yang tidak bisa dijajah, karena telah terhubung dengan Tauhid.

Republik Ruhani Giri: Warisan Kekuasaan Islam yang Disembunyikan Sejarah Oleh: Nasrulloh Baksolahar Sejarah selalu punya kecende...

Republik Ruhani Giri: Warisan Kekuasaan Islam yang Disembunyikan Sejarah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Sejarah selalu punya kecenderungan berpihak pada suara paling nyaring, bukan pada pengaruh paling dalam. Itulah sebabnya Kesultanan Demak kerap disebut sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Tapi jauh sebelum Demak membangun menara dan istana, dari atas sebuah bukit sunyi di Gresik, seorang wali, saudagar, dan pemimpin ruhani telah lebih dahulu mendirikan model kekuasaan Islam yang nyaris terlupakan: Republik Ruhani Giri.

Dialah Raden Paku, lebih dikenal sebagai Sunan Giri, yang memerintah dengan gelar Prabu Satmata—"Raja Bermata Suci". Bukan raja dalam arti kekuasaan mutlak, tetapi pemimpin dengan penglihatan tajam, jernih, dan dituntun wahyu. Sejarah kita terlalu senyap dalam menyebutnya. Padahal, ia bukan sekadar Walisanga—ia adalah raja Islam pertama di Jawa, dalam arti kepemimpinan politik, ekonomi, dan spiritual yang terstruktur.



Giri: Negara Mini yang Berdiri Tanpa Menumpahkan Darah

Tahun 1487, ketika Majapahit mulai runtuh oleh kebusukan dalam, dan Blambangan menggigil sebagai benteng terakhir Hindu-Jawa, Sunan Giri mendirikan Giri Kedaton. Bukan dengan perang atau perebutan istana, melainkan dengan membangun pusat ilmu, dakwah, dan jaringan dagang. Giri tak dilahirkan dari perebutan, tapi dari keruntuhan.

Buya Hamka menyebut Giri sebagai “kerajaan agama” yang tak mampu dihapuskan Majapahit. Mustakim mencatat Giri sebagai entitas politik otonom sejak 1487. Di masa itu, kekuasaan politik yang tidak punya tentara nyaris mustahil. Tapi Giri justru memperlihatkan cara lain: legitimasi moral, keilmuan, dan ruhaniyah bisa lebih ampuh daripada seribu pedang.

Sementara kekuasaan lain sibuk menaklukkan, Giri mengakar ke dalam hati umat, bukan ke atas peta kekuasaan.



Struktur Pemerintahan Giri: Syariat, Hikmah, dan Pelayanan

Giri bukan sekadar pesantren besar. Ia adalah negara mini spiritual. Di dalamnya terdapat:

Bangsal: pusat pemerintahan dan perumusan hukum.

Puri: tempat tinggal keluarga, ruang tradisi, dan lembaga pendidikan elite.

Giri dijalankan bukan oleh dinasti penguasa, melainkan oleh ulama, saudagar, dan santri senior. Sistemnya tidak mengenal kasta feodal. Legitimasi lahir dari khidmah (pelayanan), ta’dzim (penghormatan), dan syura (musyawarah). Ia menjalankan bentuk proto-republik spiritual yang berakar kuat pada syariat dan tradisi masyarakat maritim.

Dalam istilah modern, model ini dekat dengan "spiritual commonwealth"—pemerintahan yang dijalankan secara kolektif dengan otoritas religius sebagai pusat etika dan aturan, bukan alat kekuasaan represif.



Demak dan Giri: Dua Jalan Kekuasaan Islam di Awal Jawa

Demak tampil dengan simbol kejayaan Majapahit: masjid agung, tombak pusaka, ekspansi ke Ternate dan Malaka. Tapi semua itu tak punya legitimasi penuh tanpa restu Giri. Raden Patah sendiri naik tahta setelah mendapat pengesahan dari Sunan Giri. Demak kuat secara simbolik, tapi Giri kuat secara ruhani.

Mataram Islam melanjutkan pola sentralisasi kekuasaan. Tapi bahkan Sultan Agung pun mengakui pentingnya Giri sebagai pusat ruhani yang tak bisa dipisahkan dari struktur kekuasaan Islam Jawa.

H.J. de Graaf menyebut Giri sebagai semacam pontifikat di Jawa. M.C. Ricklefs menulis, tanpa pengesahan Giri, tidak ada raja Islam yang sah di mata umat. Giri bukan sekadar otoritas spiritual. Ia adalah lembaga politik suci yang memberi ruh kepada kekuasaan.



Ekspansi Tanpa Perang: Diplomasi Santri dan Saudagar

Cara Giri memperluas pengaruhnya sangat khas:

1. Mengirim murid-muridnya ke daerah strategis, dari Kalimantan hingga Maluku.

2. Mengembangkan jaringan dagang yang menghubungkan pesantren-pesantren pesisir dengan jalur rempah dan pelabuhan-pelabuhan strategis.

3. Menjadi pusat legitimasi kekuasaan bagi para adipati dan calon sultan.

Jejak Giri masih terasa hingga kini di Wajo, Buton, Ternate, dan Bima. Di tempat-tempat itu, Islam masuk bukan lewat pasukan, tetapi lewat nasihat, naskah, dan nikmat perniagaan.

Giri mengajarkan: kekuatan bukanlah soal teritorial, tapi pengaruh dan kepercayaan. Sebuah prinsip yang lebih tahan zaman dibanding kemenangan militer sesaat.



Mengapa Giri Dilupakan? Siapa yang Diuntungkan?

Sejarah kolonial dan nasional sama-sama abai terhadap Giri. Kolonialisme tak menyukai model kepemimpinan spiritual yang tak bisa dikendalikan. Nasionalisme modern lebih menyukai narasi heroik yang dapat dijadikan simbol negara, bukan pesantren sunyi yang tak punya bala tentara.

Giri terlalu hening untuk masuk buku sejarah sekolah. Terlalu dalam untuk dipahami oleh penguasa yang hanya sibuk menata kekuatan formal.



Bisakah Giri Diterapkan di Zaman Kini?

Di tengah dunia yang dibanjiri krisis legitimasi, korupsi, dan kekeringan moral, Giri justru tampil sebagai model alternatif paling relevan.

Bayangkan sistem yang:

Mengedepankan hikmah, bukan histeria.

Menyebarkan kepemimpinan lewat ilmu, bukan uang.

Menata umat melalui ta’dzim, bukan dominasi.

John Rawls menyebut model seperti ini sebagai "overlapping consensus"—nilai-nilai religius yang bisa hidup berdampingan dalam ruang publik.
Alasdair MacIntyre menyebutnya sebagai komunitas berbasis keutamaan (virtue ethics)—di mana struktur kekuasaan muncul dari karakter, bukan kalkulasi.

Model Giri bukan model puritan yang anti-kemajuan. Ia adalah gagasan futuristik yang belum diberi panggung.



Republik Ruhani: Warisan Masa Lalu, Solusi Masa Depan

Giri bukan sekadar situs sejarah. Ia adalah visi kenegaraan Islam yang orisinil, adil, dan mengakar.
Bukan bayang-bayang Demak. Bukan pelengkap silsilah Walisanga. Tapi model utuh kepemimpinan Islam berbasis masyarakat, bukan monarki.

Saat dunia sibuk membangun kekuasaan dengan algoritma dan senjata, Giri memberi pelajaran bahwa pengaruh sejati lahir dari ketenangan, ilmu, dan keberkahan.

Dan dari atas bukit sunyi itu, sejarah berbisik:
Inilah kekuasaan Islam yang dibangun tanpa pedang, tapi mengubah arus zaman.
Prabu Satmata bukan hanya raja. Ia adalah ruh dari kekuasaan yang bijak.



Saatnya Membaca Ulang Sejarah

Republik Ruhani Giri bukan sisa masa lalu. Ia adalah konsep masa depan.
Ia mengajarkan bahwa negara bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling patut dipercaya.
Bukan soal kontrol, tapi soal pengaruh yang lahir dari khidmat.

Di tengah reruntuhan Majapahit dan kegelisahan Blambangan, berdirilah satu poros baru peradaban Islam.
Dan di sana, di atas bukit Giri, duduk seorang pemimpin yang dilupakan sejarah:

Prabu Satmata Raja Islam pertama di tanah Jawa, pendiri republik ruhani Nusantara.

Seruan Jihad dari Mekah: Warisan Langit untuk Keturunan Mataram Oleh: Nasrulloh Baksolahar “Jangan sangka mereka yang gugur di j...

Seruan Jihad dari Mekah: Warisan Langit untuk Keturunan Mataram

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

“Jangan sangka mereka yang gugur di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di sisi Tuhan...”
(QS. Al-Baqarah: 154)




Ketika Pedang Patah oleh Perjanjian

Tahun 1755, kerajaan Mataram—yang dulu jadi pusat perlawanan Islam terbesar di tanah Jawa—dipecah oleh tangan asing lewat Perjanjian Giyanti. Di atas kertas, perjanjian ini tampak seperti kesepakatan damai antara dua pangeran Jawa: Sunan Pakubuwono III dan Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I). Namun sejatinya, inilah strategi kolonial paling licik yang pernah diterapkan Belanda: memecah kekuatan ruhani dan militer Islam dari dalam.

Dengan satu tinta, jihad melawan kafir penjajah berubah menjadi konflik saudara. Semangat perlawanan tercerai-berai. Para bangsawan lebih sibuk mengamankan takhta daripada melawan musuh agama. Jiwa Mataram runtuh bukan karena kalah perang, tetapi karena kehilangan arah.

Dan ketika Jawa terpecah... langit tidak tinggal diam.



Mekah Mendengar Jeritan Jawa

Jauh di tanah Hijaz, di tengah komunitas pelajar dan ulama Nusantara di Tanah Suci—komunitas Jawi—seorang ulama besar dari Palembang menyimak tragedi itu dengan luka dalam dada. Ia adalah Syeikh Abdul Shamad al-Palimbani, murid dari para ulama besar Mekkah, penulis kitab tasawuf, sekaligus pemilik hati yang terus memikirkan tanah air yang diinjak penjajah.

Menurut sejarawan Prof. Azyumardi Azra, masyarakat Jawi di Hijaz sejak abad ke-17 telah menjadi jaringan intelektual dan spiritual trans-nasional. Mereka menyerap ilmu Islam di Mekah dan Madinah, lalu menjadi pembawa gagasan pembaruan dan jihad melawan kolonialisme ke seluruh Nusantara.

Melalui jalur jamaah haji, surat-surat pelaut, dan murid-muridnya dari Sumatra hingga Banten, Palimbani menyusun risalah jihad. Tapi ia tidak hanya menulis kitab. Ia mengirim surat langsung kepada para raja keturunan Mataram—yang terpecah oleh Giyanti tapi masih menyimpan bara sejarah.



Surat untuk Sultan: Membangkitkan Ruh yang Terbelah

Salah satu surat dikirimkan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono I, sang pangeran yang baru saja dinobatkan pasca-Giyanti. Palimbani tahu: politik telah menjerat sang sultan, tapi ruhnya masih bisa disentuh.

“Allah telah menjanjikan para sultan akan masuk surga karena keberanian mereka melawan musuh agama.”
“Jangan anggap mereka yang gugur sebagai mati. Mereka hidup di sisi Tuhan.”

Bersama surat itu, ia mengirim air zam-zam. Bukan sebagai hadiah biasa, melainkan sebagai simbol kesucian asal perjuangan. Dalam Islam, zam-zam adalah saksi air mata Hajar, pengorbanan ibu yang ditinggal di padang tandus. Maka di tengah padang politik penuh tipu daya, air zam-zam adalah ajakan kembali ke fitrah keberanian.



Panji dari Langit untuk Paku Negara

Surat lainnya ditujukan kepada Pangeran Paku Negara, pemimpin sejajar yang juga lahir dari pecahan Mataram. Kali ini Palimbani lebih tegas. Ia memuji keberanian sang pangeran dan mengirimkan panji jihad dari Tanah Suci.

“Panji ini adalah jimat jihad, yang akan membawa kemenangan bagi siapa yang bertarung dengan iman dan keadilan.”

Dalam sejarah Islam, panji (al-liwā’) bukan hanya kain berkibar. Ia adalah simbol ruh perlawanan dan legitimasinya. Panji Rasulullah ﷺ—al-‘Uqāb—menjadi pusat arah pasukan. Selama panji tegak, pasukan belum kalah. Maka Palimbani tidak mengirim senjata, tapi arah. Ia bukan hendak membakar tubuh, tapi menyalakan ruh.



Surat yang Dihancurkan, Tapi Jiwanya Meledak

Belanda segera sadar: surat ini lebih berbahaya dari senjata. Mereka menyitanya, menerjemahkan ke bahasa Jawa dan Belanda, lalu membakarnya. Tapi seperti kisah Al-Kahfi dan wahyu langit: api tak bisa membakar semangat yang lahir dari iman.

Beberapa dekade kemudian, bara itu menyala kembali. Pangeran Diponegoro, cicit dari dinasti yang sama, bangkit dengan menyebut jihad. Ia tak pernah membaca surat itu. Tapi mungkin, ia merasakannya.

“Inilah saatnya aku mati syahid di tangan Belanda, atau Belanda hancur dari tanah Jawa.”

Perang Diponegoro (1825–1830) adalah perang terbesar di Nusantara pada abad ke-19. Ia bukan bangkit dengan artileri, tapi dengan keyakinan ruhani. Maka sangat mungkin, api jihad Diponegoro berasal dari bara yang dikirim dari Masjidil Haram.



Mengapa Bukan Senjata?

Kenapa Palimbani tak mengirim senjata?

Karena ia tahu, Mekah bukan gudang senjata, tapi sumur makna. Ia bukan hendak mengalahkan Belanda dengan mesiu, tapi menyusup ke relung jiwa para penguasa yang telah lama dilemahkan oleh politik.

Menurut Azyumardi Azra, para ulama Jawi memainkan peran penting sebagai “broker ideologis dan spiritual” yang menginspirasi pembaruan Islam dan jihad lokal. Mereka tak punya meriam, tapi punya teks dan doa yang menembus batas sensor penjajah.



Tradisi Mekah–Mataram Sejak Sebelum Palimbani

Syeikh Palimbani bukan pelopor tunggal. Ia pewaris jaringan lama. Sejak era Sultan Agung Mataram, hubungan ruhani dengan Hijaz sudah terjalin. Dalam catatan sejarah, Sultan Agung mengirim Kyai Wiryokusumo ke Mekah untuk memperkuat legitimasi Islam pemerintahannya.

Bahkan ulama besar seperti Sunan Gunung Jati juga tercatat memiliki hubungan spiritual dengan Tanah Suci. Maka, surat Palimbani bukan inovasi, tetapi kelanjutan tradisi: ketika Mekah dan Jawa bersatu, lahirlah perlawanan yang tak bisa dihentikan.



Warisan yang Tak Bisa Dirampas

Syeikh Palimbani membuktikan: jihad bukan hanya darah dan pedang. Ia adalah surat, air suci, panji, doa, dan keberanian ruhani. Ia adalah arsitek tak terlihat dari perlawanan besar yang akan datang.

Belanda membakar suratnya. Tapi mereka gagal mencegah satu hal: Jihad itu menetas dalam jiwa generasi setelahnya.

Kini, surat itu sampai kepada kita—bukan lewat pos, tapi lewat sejarah yang hidup. Dan kini, giliran kita membalas surat itu.

Bukan ke melawan Belanda, tapi mengisi masa depan.
Bukan saja dengan tinta, tapi dengan karya.
Bukan dengan zam-zam semata, tapi dengan peluh perjuangan.



Surat yang Tak Pernah Sampai, Tapi Selalu Hidup

Palimbani pernah menulis:

“Berusahalah karena takut kepada Allah, bukan karena nasib buruk. Maka kamu akan melihat langit tanpa awan, dan bumi tanpa noda.”

Surat itu mungkin tidak pernah sampai ke tangan para sultan. Tapi kini, ia sampai ke hati kita—yang membaca dengan iman dan tekad untuk meneruskan amanah zaman.

Dan mungkin...
itulah memang tujuannya sejak awal.

Agar Tidak Pikun, Jadilah Seperti Thawus Oleh: Nasrulloh Baksolahar “Orang alim tidak akan pernah menjadi pikun.” —Putra Thawus ...


Agar Tidak Pikun, Jadilah Seperti Thawus

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


“Orang alim tidak akan pernah menjadi pikun.”
—Putra Thawus bin Kaisan

Sore itu sunyi. Abu Abdullah Asy-Syam berdiri di depan sebuah rumah sederhana. Ia datang bukan untuk berbincang ringan, tapi untuk bertanya—dan belajar—pada seorang ulama besar: Thawus bin Kaisan.

Saat pintu terbuka, keluarlah seorang lelaki tua. Geraknya perlahan, wajahnya teduh.

“Aku menduga ia adalah Thawus,” kisah Asy-Syam.

“Apakah Tuan Thawus?” tanyanya sopan.

"Bukan," jawab lelaki itu. “Aku putranya.”

Asy-Syam tak bisa menyembunyikan kekagetannya. “Kalau begitu... ayah Anda pasti sudah pikun?”

Tapi sang anak menatapnya lurus. Kata-katanya pendek, tapi mengandung kejutan:

“Kamu berkata begitu? Orang alim tidak akan pernah menjadi pikun.”

Diam. Sejenak, kata-kata itu menggantung di udara. Seolah mengajukan pertanyaan kepada kita semua:

Benarkah ilmu bisa menjaga seseorang dari kepikunan?
Apakah hati yang dipenuhi cahaya pengetahuan akan tetap jernih, bahkan saat raga mulai renta?

Tak lama, Asy-Syam pun dipersilakan masuk. Ia duduk di hadapan Thawus. Sosok itu memang telah tua, tapi sorot matanya tetap tajam. Perkataannya mengalir, tidak melemah oleh usia.

“Bertanyalah… dan bicaralah dengan singkat,” ujar Thawus.
“Jika kau mau, aku akan mengajarkan Al-Qur’an, Taurat, dan Injil dalam satu majelis ini.”

Asy-Syam terdiam. Apa yang hendak ditanyakan, ketika sang guru menawarkan samudera hikmah?

Lalu Thawus melanjutkan:

“Takutlah kepada Allah!
Jangan takut kepada siapa pun selain-Nya.
Berharaplah kepada-Nya, lebih besar daripada rasa takutmu kepada-Nya.
Dan sukailah sesuatu untuk orang lain sebagaimana kamu menyukainya untuk dirimu sendiri.”


Kita mungkin bertanya dalam hati: bagaimana bisa seseorang di usia senja tetap terang hati dan jernih pikirannya seperti Thawus?

Apakah kita bisa menempuh jalan yang sama?

Jawabannya: bisa. Tapi dengan syarat.


1. Isi Waktu Luang dengan Ilmu

Seorang lelaki pernah bertanya kepada Ibnu Mubarak,
“Wahai Abu Abdurrahman, aku punya waktu luang. Haruskah aku membaca Al-Qur’an, atau menuntut ilmu lain?”

Ibnu Mubarak tak menjawab langsung. Ia bertanya balik,
“Apakah kau membaca sebagian ayat Al-Qur’an saat shalat?”

“Ya,” jawab lelaki itu.

“Kalau begitu,” kata Ibnu Mubarak,
“gunakan waktu luangmu untuk menuntut ilmu, karena dengan ilmu-lah kamu akan memahami Al-Qur’an.”

Kita sering merasa cukup hanya dengan bacaan. Tapi ilmu bukan sekadar hafalan. Ia adalah pemahaman. Tanpanya, Al-Qur’an hanya tinggal suara di lidah—bukan cahaya dalam hidup.


2. Tinggalkan Gaya Hidup Santai

Ibnu Hatim Ar-Razi pernah belajar di Mesir selama tujuh bulan. Siangnya belajar, malamnya menelaah. Ia bahkan tak sempat menyentuh kuah makanan.

Suatu hari, mereka membeli ikan untuk sang guru yang sakit. Tiga hari berlalu, ikan itu belum juga disentuh. Mereka pun memakannya sendiri.

Sang guru tersenyum dan berkata:

“Ilmu tidak bisa didapatkan dengan bersantai ria.”

Coba lihat diri kita. Berapa banyak waktu terbuang untuk hal yang tak perlu? Kita ingin berilmu… tapi tak sanggup menahan kantuk. Kita ingin mengerti… tapi tak mau meninggalkan kenyamanan. Apakah bisa?


3. Rendahkan Hati di Hadapan Guru

Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah mengundang Imam Malik ke istana untuk mengajarinya ilmu. Tapi Imam Malik menolak.

“Sesungguhnya ilmu itu didatangi,” tegasnya.

Apa yang dilakukan sang khalifah? Ia datang sendiri ke rumah Imam Malik. Berdiri di depan pintu. Menunggu dengan rendah hati.

Ia sadar: ilmu tidak turun kepada orang yang merasa tinggi.
Ilmu tidak datang kepada yang hanya menunggu.
Ilmu adalah anugerah bagi yang mau melangkah.


4. Gunakan Masa Muda Sebelum Terlambat

Ibnu Al-Jauzy pernah berkata,
“Dulu aku ingin hidup seperti kerabatku—menumpuk harta, menikmati dunia. Tapi aku sadar: waktu muda terlalu berharga untuk dihabiskan pada dunia yang fana.”

Maka ia pun mengisi hari-harinya dengan ilmu.

Kini, siapa yang tak kenal nama Ibnu Al-Jauzy? Kitab-kitabnya terus dibaca dari abad ke abad. Ia memilih jalan ilmu—dan Allah menjaga namanya.

Lalu bagaimana kita? Apakah masa muda hanya akan berlalu dengan hiburan dan gelak tawa?


5. Melangkahlah, Meski Jauh dan Melelahkan

Abu Al-Ashbagh dari Sevilla tak puas belajar di negerinya. Ia berjalan ke Cordova, menyeberangi laut ke Mekah, Yaman, Syam, hingga Baghdad.

Bukan karena ilmu langka. Tapi karena jiwanya haus akan hikmah.

Ilmu tak mengenal batas jarak.
Ilmu tak mengenal lelah.
Ilmu datang kepada mereka yang mencari—bukan yang menunggu.



Penutup

Menjadi seperti Thawus bukanlah mimpi kosong. Ia bukan sekadar kisah kuno. Ia adalah bukti hidup bahwa ilmu bisa menjadi penjaga akal, penyegar jiwa, dan penuntun hati.

Thawus tak pikun.
Karena setiap hari hidupnya disirami ilmu.
Karena lidahnya sibuk dengan dzikir.
Karena pikirannya sibuk mengingat Allah, bukan mengeluh tentang dunia.

Maka jika kau ingin tetap bening hingga usia senja,
ingin tetap jernih di tengah zaman yang keruh,
dan ingin akhirmu penuh cahaya…

Jadilah seperti Thawus.
Bukan karena ia luar biasa,
Tapi karena ia memilih jalan ilmu,
Sebelum semuanya terlambat.



Sumber:
Mahmud Musafa Sa’ad, Golden Story, Pustaka Al-Kautsar.

"Jika Saya Punya 3.000 Orang Seperti Mereka” Ketika Panglima Dunia Kagum pada Keberanian Pasukan Muslimin Oleh: Nasrulloh B...


"Jika Saya Punya 3.000 Orang Seperti Mereka”

Ketika Panglima Dunia Kagum pada Keberanian Pasukan Muslimin

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Dalam sejarah militer modern, sejumlah jenderal dunia tercengang bukan oleh keunggulan teknologi atau strategi perang yang rumit, melainkan oleh keberanian spiritual pasukan Muslimin. Dari Bosnia hingga Gaza, dari pegunungan Afghanistan hingga Perang Korea, muncul pola yang tak berubah: ruh jihad yang hidup menjadi kunci kemenangan yang tak terukur oleh radar militer.

Kisah paling ikonik datang dari tahun 1948. Dalam Perang Arab-Israel pertama, seorang jenderal Inggris—yang menjadi penasihat militer bagi Israel—menyaksikan pertukaran jenazah antara pasukan relawan Mesir dan tentara Yahudi. Ia memperhatikan bahwa semua pejuang Muslim gugur dengan luka tembak di dada, bukan di punggung. Tak satu pun melarikan diri. Lalu ia berkata:

“Jika saya punya 3.000 orang seperti mereka, dunia bisa saya taklukkan.”

Pernyataan itu mencerminkan satu hal: keberanian spiritual bukanlah romantisme kosong. Ia adalah kekuatan yang membuat musuh tertegun.



Bosnia: Perlawanan dari Negara Muda

Ketika Yugoslavia pecah di awal 1990-an, Bosnia-Herzegovina menjadi salah satu republik yang menyatakan kemerdekaan. Namun Serbia—yang mewarisi kekuatan militer Yugoslavia—merespons dengan kekerasan brutal. Antara 1992 hingga 1995, umat Islam Bosnia menjadi sasaran genosida sistematis.

Yang mengejutkan dunia, pasukan relawan Bosnia—yang minim pelatihan dan perlengkapan—mampu bertahan, bahkan melakukan serangan balasan yang efektif. Mereka mempertahankan Sarajevo dan memukul mundur milisi Serbia dari wilayah strategis.

Sejarawan Marko Attila Hoare dalam How Bosnia Armed (2004) mencatat bahwa "meskipun kekuatan militer Serbia jauh lebih besar, perlawanan Bosnia dibangun atas semangat jihad dan keyakinan religius yang tak goyah bahkan di tengah penderitaan."

Kemenangan mereka bukan semata karena senjata, tapi karena ruh.



Afghanistan: Kuburan bagi Imperium

Afghanistan telah menjadi simbol paling kuat dalam sejarah militer Muslim modern. Pada 1979, Uni Soviet menginvasi negeri itu dengan kekuatan besar. Namun mujahidin lokal—yang sebagian hanyalah petani dan pelajar bersarung—menjadi batu sandungan yang tak bisa dihancurkan. Mereka bertempur dari gua-gua, lereng gunung, dan desa-desa terpencil, bersenjatakan semangat jihad dan harapan akan surga.

Setelah 10 tahun perang, Uni Soviet mundur dengan kekalahan telak. Lebih dari 15.000 tentaranya tewas.

Amerika Serikat mengulangi kesalahan yang sama. Dengan dalih memerangi terorisme, mereka menginvasi Afghanistan pada 2001 dan tinggal selama 20 tahun. Tapi seperti Uni Soviet, mereka pun hengkang pada 2021 secara diam-diam, meninggalkan pangkalan militer dan peralatan perang dalam kekacauan.

Steve Coll dalam Ghost Wars (2004) menyebut bahwa “keyakinan spiritual dan keberanian tanpa pamrih dari mujahidin menjadikan mereka musuh paling sulit bagi kekuatan adidaya.” Afghanistan, katanya, bukan hanya kuburan imperium—tapi juga saksi hidup bahwa iman bisa mengalahkan imperium.



Palestina 1948: Ketika Dunia Melihat Keberanian

Tahun 1948 adalah tahun penting dalam sejarah Palestina. Israel mendeklarasikan kemerdekaannya, dan negara-negara Arab pun terlibat dalam perang terbuka. Salah satu momen paling dikenang terjadi ketika relawan Mesir dan Palestina bertempur melawan tentara Israel yang didukung Inggris.

Saat dilakukan pertukaran jenazah, seorang jenderal Inggris memperhatikan bahwa para syuhada Muslim semuanya gugur dengan luka di dada, tanpa satu pun yang tertembak di punggung. Ia lalu berkata:

“Jika saya punya 3.000 orang seperti mereka, saya bisa menaklukkan dunia.”

Harun Yahya dalam Palestine: Peace Not Apartheid (2001) mencatat momen ini sebagai simbol betapa pasukan Muslimin memiliki keberanian untuk maju, bukan mundur. Bagi mereka, mati syahid adalah kemenangan, bukan kekalahan.



Pasukan Turki di Korea: Sajadah di Tengah Perang

Perang Korea (1950–1953) adalah salah satu perang besar di Asia Timur yang melibatkan kekuatan global, termasuk PBB. Di antara sekutu yang bergabung, pasukan Turki tampil mencolok.

Dikenal sebagai tentara yang tak pernah menyerah dan sangat religius, pasukan Turki menolak hiburan malam, tidak menyentuh alkohol, dan menghabiskan waktu luangnya dengan shalat dan dzikir.

Jenderal Douglas MacArthur dalam Reminiscences (1951) menulis bahwa pasukan Turki adalah "yang paling bermoral dan paling berani." Mereka tak hanya bertempur, tapi juga berdakwah secara sunyi.

Bahkan setelah perang usai, pemerintah Korea Selatan mendokumentasikan peninggalan spiritual mereka: sebuah masjid kayu kecil di Suwon yang dibangun oleh pasukan Turki sebagai rumah ibadah selama perang berlangsung.



Gaza: Warisan yang Masih Hidup

Saat ini, semangat yang sama menyala di Gaza. Meski dikepung, diblokade, dan dibombardir, pejuang Palestina tidak menyerah. Mereka bertempur dengan senjata rakitan, tanpa perlindungan udara, dan dalam kondisi kemanusiaan yang nyaris mustahil.

Namun mereka tetap bertahan. Tetap tersenyum. Tetap menyeru: “Allahu Akbar.”

Max Blumenthal dalam The Palestine Laboratory (2023) menulis, “Gaza adalah satu-satunya tempat di dunia di mana orang tua menangis bahagia ketika anaknya gugur sebagai syuhada.”

Mereka tak hanya menjadi simbol perlawanan, tapi juga bukti bahwa ruh jihad tak mati meski dunia mencibir. Gaza hari ini memiliki mental yang diinginkan oleh para panglima perang dunia, bukankah terbukti mencabik-cabik  tentara IDF yang dikenal terbaik di dunia? 



Ruh Jihad: Yang Tak Terdeteksi Radar

Dalam dunia militer modern, keberanian biasanya dikaitkan dengan jumlah senjata, pelatihan tempur, dan strategi. Tapi pasukan Muslimin menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar: niat yang tulus dan visi akhirat.

Lawrence Wright dalam The Looming Tower (2006) menyimpulkan bahwa “yang membuat perbedaan dalam konflik-konflik ini bukan taktik atau teknologi, melainkan kekuatan spiritual yang melebihi insting bertahan hidup.”



Dunia Masih Mendengar Kalimat Itu

Dunia hari ini mungkin tidak lagi bertempur dengan peluru dan bayonet. Tapi perang terus berlangsung—dalam bentuk budaya, narasi, dan ideologi. Kita diserang oleh konsumerisme, hiburan kosong, dan algoritma yang membuat kita lupa tujuan hidup.

Namun ruh itu belum padam. Dan mungkin, jika seorang panglima berkata lagi:

“Jika saya punya 3.000 orang seperti mereka…”

Yang dimaksud bukan lagi para pejuang di medan perang konvensional. Tapi kita—generasi yang hidup dengan visi, keberanian, dan keyakinan. Generasi yang tak hanya sibuk mempercantik profil, tapi membangun peradaban. Yang tak sekadar scroll media sosial, tapi menggenggam dunia dengan nilai.

Agar Solusi Lebih Dahulu Hadir Oleh: Nasrulloh Audit  Nabi Nuh berdiri sendiri. Ditertawakan, dihina, dianggap gila. Tapi ia tet...

Agar Solusi Lebih Dahulu Hadir

Oleh: Nasrulloh Audit 

Nabi Nuh berdiri sendiri. Ditertawakan, dihina, dianggap gila. Tapi ia tetap setia membangun perahu, bukan karena tahu kapan hujan akan turun, bukan karena mengerti datangnya banjir, tapi karena ia taat kepada Rabb-nya. Ia hanya tunduk—bukan pada logika manusia, tapi pada wahyu dari langit.

Kita ini siapa? Hanya manusia. Hanya tahu hari ini. Bahkan sedetik ke depan, tak ada yang bisa menjamin. Maka bagaimana menghadapi hari esok yang penuh teka-teki? Bagaimana menghindari malapetaka yang tak terlihat? Jawabannya hanya satu: taat kepada Allah SWT.

Sebab Dia-lah yang menulis seluruh skenario kehidupan. Dia yang mengatur arah zaman, arus sejarah, bahkan hembusan angin dan gelombang laut. Sementara kita hanya pengembara yang tak tahu rute. Maka jika ingin selamat di jalan yang gelap ini, ikuti petunjuk-Nya. Taatilah Dia.

Lihatlah Nabi Yusuf. Difitnah. Dikhianati saudara. Dilempar ke sumur. Dijual sebagai budak. Dipenjara karena kejahatan yang tak ia lakukan. Tapi apa yang dia lakukan? Bertahan. Berserah. Berpegang teguh pada agama ayah dan kakeknya—Nabi Yakub, Nabi Ishaq, dan Nabi Ibrahim. Ia tak menggugat. Ia tak berontak. Ia hanya istiqamah dalam ketaatan.

Puluhan tahun ia digulung badai. Tapi ia tahu, fajar akan datang. Musim akan berganti. Takdir Allah tak pernah salah. Barangsiapa taat, tinggal meneguhkan sabar. Sebab badai tidak kekal, tapi ketaatan akan memanggil pertolongan sebelum badai menghantam.

Nabi Nuh membuat perahu sebelum banjir datang. Solusi itu hadir di awal, bukan setelah bencana terjadi. Itulah keajaiban dari ketaatan. Allah membimbing hamba-Nya menjemput solusi lebih dulu, bahkan saat manusia belum tahu bahwa masalah akan datang.

Nabi Yusuf diberi kemampuan menafsir mimpi sejak awal. Keahlian itu tampak sia-sia, tak berguna di tengah liku-liku hidupnya. Tapi ketika waktunya tiba, ilmu itu menjadi kunci penyelamat umat. Solusinya telah disiapkan jauh hari sebelum tantangan tiba.

Inilah hukum langit:
Bukan masalah yang memanggil solusi.
Tapi ketaatan yang mendatangkan solusi sebelum masalah.
Bukan musibah yang menyadarkan manusia,
Tapi iman yang membimbing manusia sebelum musibah menampar.

Jika ingin menang di hari esok, jangan menunggu tanda-tanda datangnya badai. Bangunlah perahu hari ini. Siapkan bekal hari ini. Taatilah Allah hari ini. Sebab, ketika badai benar-benar datang, hanya mereka yang sudah bersiap dalam ketaatan yang akan bertahan.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (360) Al-Qur’an (3) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (253) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) Kisah Para Nabi dan Rasul (576) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (243) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (507) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (256) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (238) Sirah Sahabat (155) Sirah Tabiin (43) Sirah Ulama (156) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)