basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang Seorang juru dakwah tidak akan mampu teguh di atas jalan kebenaran, apalagi meningkatkan peng...


Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang

Seorang juru dakwah tidak akan mampu teguh di atas jalan kebenaran, apalagi meningkatkan pengorbanan dan mendahulukan saudaranya, kecuali bila dalam dirinya telah sempurna makna kemerdekaan dan kesetiaan. Di atas semua itu, ia menjaga kasih sayang dan afiliasi sebagai fondasi hubungan.


Kasih sayang inilah mustika akhlak dan kesucian yang harus dijaga terlebih dahulu, sebelum syarat ilmu pengetahuan dan kemampuan kepemimpinan. Sebab tarbiyah bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi pembentukan jiwa.


Di kalangan para juru dakwah, ketaatan bukanlah sikap buta, melainkan kesadaran yang tumbuh dari keteladanan. Karena itu, mereka menyeleksi setiap calon pemimpin pertama-tama dari sisi kesucian jiwa dan ketinggian kepribadian, sebelum menimbang kemampuan teknis, pengalaman organisasi, atau kecakapan politik.


Seorang penyair menggambarkan hal ini:

“Para juru dakwah akan berpaling kepada pemimpin keselamatan—
bersih jiwanya dan bersih akhlaknya.
Jiwa seperti itu akan ditaati oleh jiwa-jiwa lain,
bahkan sebelum dibaiat dengan ikatan kesetiaan yang paling kuat.”


Akhlak dan pengalaman memang sama-sama dibutuhkan. Namun, ukuran pengutamaan dalam tradisi tarbiyah berbeda dengan tradisi politik. Yang didahulukan dan diakhirkan bukan semata karena kecakapan, tetapi karena ketakwaan.


Para juru dakwah memahami bahwa akhlak adalah wujud nyata dari takwa, dan takwa adalah pintu kesadaran. Dengan takwa, seorang hamba yang sederhana mampu belajar, terbuka terhadap kebenaran, dan memperoleh ilham yang lurus. Dari sinilah terbentuk pribadi yang utuh dan seimbang.


Kesempurnaan akhlak melahirkan jiwa yang merdeka—jiwa yang setia kepada para pendidik yang telah membinanya, bukan karena ikatan formal, tetapi karena ikatan hati dan nilai. Ini bukan ungkapan sesaat, sebagaimana dikatakan:


“Sesungguhnya para juru dakwah itu telah menyuapkan pikiran kepadamu,
mereka membawa petunjuk bagi timur dan barat.
Engkau hidup dalam ketulusan mereka,
betapa indah hidupmu selama mereka masih mengasuhmu.”


Al-Qur’an sendiri mengajarkan pentingnya penghormatan kepada pendidik melalui perintah agar kaum Muslimin memuliakan Rasulullah ﷺ, tidak menyamakan panggilan kepada beliau dengan panggilan kepada sesama manusia:

“Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain…”
(QS. An-Nūr [24]: 63)


Ayat ini menegaskan bahwa hati seorang Muslim harus dipenuhi rasa hormat kepada Rasulullah ﷺ agar ia mampu memahami, menerima, dan menghargai setiap arahan beliau. Prinsip ini menjadi dasar dalam tarbiyah: penghormatan adalah syarat tumbuhnya pengaruh dan keberkahan.


Karena itu, seorang juru dakwah perlu memiliki kharisma, dan seorang pemimpin atau panglima harus memiliki wibawa. Ada perbedaan jelas antara rendah hati dan lemah lembut, dengan sikap yang menghapus jarak kehormatan antara pendidik dan yang dididik.


Bagaimanapun, seorang pendidik harus menempati posisi yang mulia di hati murid-muridnya. Dari sanalah arahan akan diterima dengan lapang, dan pelanggaran batas akan terasa sebagai sesuatu yang memalukan, bukan karena tekanan, tetapi karena adab.


Namun, kehormatan ini tidak boleh melahirkan kesombongan. Jangan pernah berkata, “Dia hanyalah anak didikku,” atau “Dia tidak pernah membinaku.” Bisa jadi, pada suatu hari, seseorang pernah memberi kita nasihat yang menyelamatkan kita dari kekeliruan besar.


Betapa banyak orang yang baru mengenal dakwah hari ini, tetapi Allah alirkan melalui dirinya semangat, kejujuran, atau dorongan kebaikan yang menguatkan langkah kita. Semua itu adalah bentuk tarbiyah—dan setiap tarbiyah menuntut balasan berupa kasih sayang, bukan perendahan.


Di sinilah tarbiyah menemukan ruhnya: kasih sayang yang melahirkan ketaatan, adab yang melahirkan pengaruh, dan kemerdekaan jiwa yang melahirkan kesetiaan.

Kasih Sayang dan Jalinan Hubungan Dakwah Sikap adil dan proporsional adalah pintu awal bagi pengenalan diri dan pengenalan terh...










Kasih Sayang dan Jalinan Hubungan Dakwah

Sikap adil dan proporsional adalah pintu awal bagi pengenalan diri dan pengenalan terhadap orang lain. Dari sanalah seseorang belajar menempatkan diri, membaca situasi, dan memahami makna hubungan. Sebab sejatinya, seorang mukmin adalah seorang mujahid. Dan seorang mujahid tidak menerima kehinaan. Ia menolak tunduk pada kerendahan, lalu bangkit untuk bergerak.


Namun, kemerdekaan tidak berhenti pada semangat perlawanan semata. Seorang yang merdeka memiliki prinsip, karakter, dan keluhuran sikap. Inilah langkah awal—bukan keseluruhan jalan—menuju kemuliaan.


Di antara tanda kemerdekaan jiwa adalah sikapnya dalam membalas kebaikan. Ketika seseorang membalas kebaikan orang lain dengan tulus, ia sesungguhnya sedang melepaskan salah satu bentuk perbudakan: perbudakan ego, gengsi, dan kepentingan diri. Ia tidak lagi terikat oleh rasa ingin unggul, ingin dipuji, atau ingin menang sendiri.


Makna inilah yang ditunjukkan oleh Imam Syafi‘i ketika berkata:

“Orang merdeka adalah orang yang memelihara kasih sayang walau hanya sesaat. Atau, ia memilih menjalin hubungan dengan orang yang pernah memberinya sepatah kata yang bermanfaat.”


Kasih sayang, dalam pandangan ini, bukan emosi sesaat dan bukan pula basa-basi hubungan. Ia adalah pilihan sadar untuk menjaga ikatan kebaikan, meski tipis dan sederhana. Bahkan, sepatah kata yang memberi manfaat cukup menjadi alasan bagi seorang yang merdeka untuk memelihara hubungan.


Dakwah telah mengajarkan makna kasih sayang secara utuh—bukan sekadar sebagai istilah, tetapi sebagai sikap hidup. Kasih sayang adalah keikhlasan, penjagaan hubungan, dan kesediaan menjauh dari fitnah-fitnah yang selalu mengintai relasi manusia. Orang yang berjiwa merdeka akan menjaga kasih sayangnya, tulus di dalamnya, dan tidak menjadikannya alat kepentingan.


Sebaliknya, ketika seseorang mengorbankan kemerdekaan jiwanya demi kepentingan diri, maka nilai dirinya akan mengikuti pilihan itu. Ia mungkin tampak bebas secara lahir, tetapi sejatinya terbelenggu oleh ambisi, rasa iri, dan kepentingan dunia.


Seseorang yang benar-benar selamat dari fitnah tidak akan terus-menerus hidup di dalamnya. Namun, orang yang malas secara ruhani sering kali memutus hubungan, meninggalkan sahabat, dan mengganti lingkaran pergaulan hanya karena ketidakmampuan menjaga makna kemerdekaan. Ia mudah kecewa, mudah berpaling, dan mudah membuang hubungan—bukan karena kebenaran, tetapi karena ia telah mengenakan “pakaian perbudakan dunia”.


Pada titik inilah, kasih sayang menjadi ujian kemerdekaan. Apakah ia dijaga, atau dikorbankan. Apakah hubungan dirawat dengan kesadaran, atau diputus oleh hawa nafsu. Di situlah nilai diri seseorang ditimbang—bukan oleh apa yang ia miliki, tetapi oleh apa yang ia pelihara dalam jiwanya.


Pelaksanaan Dakwah atas Dasar Pilihan Pada fase dakwah rahasia, penyampaian Islam tidak dilakukan secara terbuka di pasar-pasa...


Pelaksanaan Dakwah atas Dasar Pilihan

Pada fase dakwah rahasia, penyampaian Islam tidak dilakukan secara terbuka di pasar-pasar, majelis umum, atau forum kabilah. Dakwah dijalankan secara selektif dan personal, berdasarkan pertimbangan matang para dai terhadap karakter, integritas, dan kesiapan orang-orang yang akan diajak.


Dakwah pada tahap ini bukanlah dakwah massa, melainkan dakwah pilihan.


Fondasi pertama dakwah Islam dibangun dari lingkaran terdekat Rasulullah ﷺ. Khadijah binti Khuwailid, istri beliau, menjadi orang pertama yang beriman. Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat karib yang paling mengenal kejujuran dan keagungan akhlak Nabi. Ali bin Abi Thalib, anak pamannya yang diasuh sejak kecil. Dan Zaid bin Haritsah, mantan budak yang telah lama hidup dalam naungan rumah kenabian.


Keempat sosok ini bukan sekadar orang-orang terdekat secara emosional, tetapi juga orang-orang yang paling mengenal pribadi Rasulullah ﷺ. Mereka adalah saksi hidup atas kejujuran, ketulusan, dan keteguhan beliau jauh sebelum risalah disampaikan secara luas.


Ketika Abu Bakar mulai menjalankan peran dakwahnya, pola yang sama terus dijaga: dakwah berbasis kepercayaan. Ia tidak mengajak sembarang orang, melainkan mereka yang dikenalnya memiliki kejernihan akal, kematangan akhlak, dan kemampuan menjaga rahasia.


Ibnu Ishaq menggambarkan sosok Abu Bakar sebagai berikut:

“Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang akrab dengan kaumnya, dicintai dan disayangi. Ia termasuk Quraisy yang paling mengetahui nasab kaumnya serta memahami kebaikan dan keburukan yang ada di dalamnya.”


Ibnu Ishaq melanjutkan:

“Ia dikenal sebagai seorang pedagang yang berakhlak mulia. Banyak tokoh kaumnya mendatanginya untuk meminta pendapat dalam berbagai urusan, karena ilmunya, perniagaannya, dan kebaikan pergaulannya.”


Dengan modal kepercayaan sosial inilah Abu Bakar memulai dakwahnya. Ia mengajak kepada Islam orang-orang yang diyakininya mampu mendengar dengan jujur dan menjaga amanah dakwah. Melalui dakwah Abu Bakar, masuk Islamlah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa‘ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.


Ibnu Ishaq menegaskan:

“Mereka adalah para pendahulu yang pertama-tama masuk Islam, melaksanakan shalat, dan membenarkan risalah Nabi.”


Kelompok kecil ini kelak menjadi tulang punggung dakwah Islam—bukan hanya karena kedudukan sosial mereka, tetapi karena kualitas iman, keteguhan hati, dan kesiapan berkorban.


Dengan demikian, dakwah pada fase awal ini berjalan di atas pondasi kepercayaan, kedekatan personal, dan ketepatan memilih sasaran. Faktor-faktor yang membuat dakwah Abu Bakar diterima memang banyak, tetapi yang paling utama adalah integritas pribadi dan hubungan kepercayaan yang telah terbangun jauh sebelum dakwah dimulai.


Inilah pelajaran besar dari fase dakwah rahasia: Islam tidak lahir dari kebisingan massa, melainkan dari kejernihan hati segelintir manusia yang dipilih dan siap memikul amanah kebenaran.


Lamanya Dakwah Rahasia Setelah turunnya surah Al-Muddatstsir ayat 1–4—yang menandai dimulainya perintah dakwah—Rasulullah ﷺ m...


Lamanya Dakwah Rahasia

Setelah turunnya surah Al-Muddatstsir ayat 1–4—yang menandai dimulainya perintah dakwah—Rasulullah ﷺ menjalankan dakwah dengan metode rahasia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: berapa lama fase dakwah rahasia ini berlangsung?


Menurut Urwah bin Zubair, rentang waktu sejak awal kenabian hingga turunnya perintah dakwah secara terang-terangan adalah tiga tahun. Perintah tersebut termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ
Maka sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.
(Al-Ḥijr [15]: 94)

Mengapa tiga tahun?


Bukan karena angka itu memiliki keutamaan khusus, melainkan karena pada saat itu kaum Muslimin telah memiliki basis yang cukup kuat—dari sisi kualitas iman, keteguhan pribadi, dan posisi sosial—untuk menghadapi tekanan masyarakat Mekah. Mereka belum besar secara jumlah, tetapi telah matang secara ruhani dan strategis sehingga tidak mudah dimusnahkan.


Dari sinilah letak pelajaran penting dalam manhaj dakwah. Yang menjadi tolok ukur bukanlah lamanya waktu, melainkan hasil operasional dakwah: sejauh mana dakwah mampu membentuk kader, melahirkan tokoh, dan menciptakan jaringan perlindungan sosial yang memungkinkan risalah bertahan dan berkembang.


Lalu, kapan dakwah secara terang-terangan benar-benar dimulai?


Setelah turunnya perintah tersebut, Allah kembali menurunkan jaminan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ melalui firman-Nya:

اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَۙ
Sesungguhnya cukuplah Kami yang memeliharamu (Nabi Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan.
(Al-Ḥijr [15]: 95)


Dakwah terbuka dilakukan setelah adanya jaminan ilahi bahwa Rasulullah ﷺ akan dilindungi dari gangguan, cemoohan, dan makar kaum musyrikin. Jaminan ini bukan sekadar penghiburan, melainkan penegasan bahwa fase konfrontasi telah tiba dan siap dihadapi.


Dalam konteks Rasulullah ﷺ, peralihan tahap dakwah diketahui secara pasti melalui wahyu. Namun setelah beliau wafat, tanggung jawab menilai tahapan dakwah berpindah kepada para pemimpin gerakan Islam yang terpimpin, yang harus membaca realitas, mengukur kekuatan, dan mempertimbangkan risiko sebelum berpindah ke fase berikutnya.


Pemahaman bahwa tahapan dakwah tidak terikat pada masa tertentu juga diperkuat oleh fakta sejarah. Sebagian kaum Muslimin yang berada di luar Mekah tetap menjalankan Islam mereka secara rahasia dalam rentang waktu yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi kabilah masing-masing dan kemampuan mereka dalam berdakwah serta membina kader.


Dengan demikian, fase dakwah bukan ditentukan oleh hitungan tahun, tetapi oleh kesiapan iman, kekuatan struktur, dan kecermatan membaca zaman. Inilah manhaj kenabian yang lentur dalam bentuk, tetapi kokoh dalam tujuan.


Wahyu Pertama, Lalu Terhenti Al-Muqrizi dalam Imtā‘ al-Asmā’ meriwayatkan bahwa setelah Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ di ...



Wahyu Pertama, Lalu Terhenti

Al-Muqrizi dalam Imtā‘ al-Asmā’ meriwayatkan bahwa setelah Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ di Gua Hira dan membacakan firman Allah, “Iqra’ bismi rabbika alladzī khalaq”, Rasulullah ﷺ pulang ke rumah Khadijah r.a. Dalam keadaan itu, beliau terdiam dan tinggal di rumah selama masa yang dikehendaki Allah, tanpa menerima wahyu apa pun.


Wahyu pun terhenti.


Terhentinya wahyu itu menghadirkan kesedihan yang mendalam di hati Rasulullah ﷺ. Kerinduannya kepada kalam Allah mendorong beliau berulang kali naik ke puncak-puncak gunung, berharap peristiwa agung seperti di Gua Hira kembali terulang.


Para ulama berbeda pendapat tentang lamanya masa terhentinya wahyu tersebut. Ada yang mengatakan dua tahun, sebagaimana dinukil dari sebagian riwayat. Ibnu Abbas berpendapat berlangsung selama empat puluh hari. Al-Zujjaj menyebut lima belas hari. Sementara dalam tafsir Muqatil disebutkan hanya tiga hari, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh banyak ulama.


Muqatil menjelaskan bahwa masa terhentinya wahyu itu memiliki keserupaan dengan ihwal seorang hamba yang sedang ditempa kedekatan dan keteguhan di sisi Rabb-nya. Hingga akhirnya, Jibril kembali menampakkan diri kepada Rasulullah ﷺ, terlihat di antara langit dan bumi, duduk di atas kursi. Malaikat itu meneguhkan hati beliau dan menyampaikan kabar gembira bahwa ia benar-benar adalah utusan Allah.


Namun pemandangan itu membuat Rasulullah ﷺ diliputi rasa takut. Beliau segera pulang menemui Khadijah dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Dalam keadaan itulah Allah menurunkan firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ
Wahai orang yang berselimut,
قُمْ فَاَنْذِرْۖ
bangkitlah, lalu berilah peringatan!
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ
dan Tuhanmu agungkanlah!
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ
dan pakaianmu bersihkanlah.
(Al-Muddatstsir [74]: 1–4)

Dengan turunnya ayat-ayat ini, jelaslah bahwa peristiwa di Gua Hira adalah awal kenabian dan pewahyuan. Sedangkan perintah dalam surah Al-Muddatstsir menandai fase baru: perintah untuk bangkit, memberi peringatan, dan mengajak manusia kepada Allah.


Dari sinilah dakwah Rasulullah ﷺ dimulai—awalannya dilakukan secara rahasia, perlahan, namun dengan fondasi ruhani yang telah ditempa melalui kesunyian, kerinduan, dan penantian yang mendalam terhadap wahyu.

Jamaah Satu Hati Rasulullah ﷺ menggambarkan satu keadaan yang sangat agung tentang sebuah jamaah beriman: > “Tidak ada pertik...

Jamaah Satu Hati

Rasulullah ﷺ menggambarkan satu keadaan yang sangat agung tentang sebuah jamaah beriman:

> “Tidak ada pertikaian dan kebencian di antara mereka, karena sesungguhnya mereka satu hati.”



Inilah gambaran ideal jamaah para juru dakwah—jamaah yang dibangun bukan di atas kepentingan, tetapi di atas iman dan kesadaran.

Di dalam jamaah ini terdapat sejumlah janji yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Janji-janji itu bukan formalitas, melainkan ikatan ruhani yang diikrarkan sejak langkah pertama seseorang memasuki barisan para juru dakwah. Ia menyerupai syair yang dihidupkan oleh amal:

Tangan berpegang tangan.
Saksikan perjanjian kami.
Teguh dalam satu barisan.
Maju atau hancur bersama.

Inilah janji setia—janji untuk melangkah bersama dalam perjuangan yang terencana, matang, dan disadari risikonya. Sebuah komitmen untuk tidak berjalan sendiri, tidak meninggalkan barisan, dan tidak mencari keselamatan pribadi di atas keruntuhan jamaah.

Janji setia ini melahirkan ketaatan. Namun ketaatan yang lahir bukan dari paksaan, melainkan dari kesadaran. Ia tumbuh dari pemahaman, diperkuat oleh iman, dan dijaga oleh keteguhan hati. Karena itu, di dalam barisan ini tidak tumbuh pembicaraan sia-sia, tidak subur bisikan perpecahan, dan tidak diberi ruang ambisi pribadi.

Sebagaimana iman kepada surga mendorong mereka berlomba-lomba dalam jihad dan pengorbanan, janji setia ini pun mendorong perlombaan lain yang tidak kalah berat: perlombaan dalam ketaatan, cinta persaudaraan, dan kejernihan hati sesama anggota jamaah. Masing-masing ingin berada di barisan terdepan—bukan untuk menonjolkan diri, tetapi karena ingin menjadi bagian dari golongan pertama yang dipanggil menuju surga melalui pintu persatuan.

Karena itulah Rasulullah ﷺ kembali menggambarkan mereka dengan kalimat yang sama:

> “Tidak ada pertikaian dan kebencian di antara mereka, karena sesungguhnya mereka sehati.”



Ketaatan yang menjaga kejernihan hati inilah yang mengantarkan mereka masuk ke dalam kelompok pemenang. Ketaatan yang bertolak dari iman, dipandu oleh kaidah iman, dan selalu kembali kepada iman. Ia bukan ketaatan yang membutakan akal, tetapi juga bukan pembangkangan yang dibungkus dalih kebebasan.

Ketaatan ini sama sekali bukan sikap pasrah yang lemah dan pengecut. Ia juga bukan basa-basi orang yang tamak, oportunis, atau egois. Ia adalah ketaatan Islami yang khas—ketaatan yang dipahami sebagai pilar keimanan. Tanpanya, iman menjadi timpang. Kehilangannya membuat bangunan jamaah rapuh dari dalam.

Karena itu, para juru dakwah memandang berkhidmat kepada pemimpin sebagai bagian dari kebenaran, dan memandang ketaatan kepada perintah yang sah sebagai bagian dari iman. Dalam bingkai ini, akal boleh digunakan ketika terjadi perbedaan ijtihad, tetapi hati harus ditahan ketika kepentingan pribadi mulai menyelinap. Semua itu dilakukan demi menjaga agar iman kolektif jamaah tidak terusik.

Sebab jamaah yang satu hati tidak dibangun oleh keseragaman pendapat, melainkan oleh kejujuran iman, kejernihan niat, dan kesediaan untuk menundukkan ego demi kemenangan bersama.

Pintu Hikmah dan Hidayah Hanya bagi yang Menolak Hawa Nafsu “Tinggalkan setiap hawa nafsu yang diberi nama selain Islam.” Kalima...


Pintu Hikmah dan Hidayah Hanya bagi yang Menolak Hawa Nafsu

“Tinggalkan setiap hawa nafsu yang diberi nama selain Islam.”

Kalimat ini bukan teriakan emosi, melainkan peringatan sunyi yang keluar dari kedalaman ilmu dan kejernihan iman. Ia dikumandangkan oleh ahli hadis terpercaya, Maimun bin Mahram, ketika beliau khawatir manusia akan tertipu oleh nama-nama indah yang terus berganti dari generasi ke generasi. Nama-nama yang terdengar meyakinkan, tampak rasional, bahkan dibungkus dengan niat kebaikan—namun sejatinya menjauhkan manusia dari wahyu.

Pesannya sederhana, tetapi mengguncang:
segala sesuatu yang berdiri selain Islam, apa pun bentuknya dan kapan pun zamannya, tidak lebih dari hawa nafsu.

Inilah benang merah yang menyatukan perkataan para imam kaum Muslimin. Mereka sepakat dalam satu hal: kebenaran hanya satu, dan sumbernya hanya satu—wahyu. Adapun selain wahyu, betapapun halus dan menarik rupanya, adalah hawa nafsu yang tercela.

Karena itu, tidak ada satu pun hawa nafsu yang terpuji. Tidak ada hawa nafsu yang boleh disejajarkan dengan kebenaran. Seorang Muslim tidak diperkenankan berpedoman kepadanya, apalagi merasa tenang dengannya. Ketenteraman sejati hanya lahir dari tunduk kepada wahyu, bukan dari mengikuti kecenderungan jiwa.

Prinsip ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syathibi dalam al-Muwāfaqāt. Dengan kalimat ringkas namun menyeluruh, beliau menjelaskan bahwa Allah menjadikan mengikuti hawa nafsu sebagai bentuk penentangan terhadap kebenaran, sekaligus menetapkan akibat bagi para pengikutnya. Beliau mengaitkannya dengan firman Allah kepada Nabi Daud:

> “Maka berilah keputusan di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.”
(Ṣād [38]:26)

Di sini, Allah tidak memberi ruang kompromi. Memutuskan dengan kebenaran dan mengikuti hawa nafsu diletakkan sebagai dua jalan yang berlawanan. Yang satu mengantarkan kepada hidayah, yang lain menjerumuskan ke dalam kesesatan.

Al-Qur’an lalu memperluas gambaran ini dalam banyak ayat. Allah menyebut orang yang melampaui batas dan mengutamakan kehidupan dunia, lalu menutup ayat-Nya dengan kesimpulan yang tegas: neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Sebaliknya, Allah memuji mereka yang takut kepada kebesaran-Nya dan menahan diri dari hawa nafsu—bagi mereka, surgalah tempat kembali.

Pemisahan ini semakin dipertegas ketika Allah menafikan hawa nafsu dari lisan Rasulullah ﷺ:

> “Ia tidak berbicara menurut hawa nafsu. Ucapannya tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”

Dengan ini, Allah membatasi realitas pada dua kutub saja: wahyu atau hawa nafsu. Tidak ada wilayah ketiga. Tidak ada jalan abu-abu. Jika suatu perkara tidak berdiri di atas wahyu, maka ia berdiri di atas hawa nafsu, meskipun dinamai dengan istilah paling agung sekalipun.

Karena itulah, ketika kebenaran wahyu telah jelas, maka mengikuti hawa nafsu berarti menentang syariat. Dan penentangan itu tidak selalu hadir dalam bentuk pembangkangan kasar; sering kali ia datang dalam rupa pembenaran yang halus.

Allah menggambarkan kondisi paling berbahaya dari ini: manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Ia mendengar, tetapi tidak memahami. Ia melihat, tetapi tidak mengambil pelajaran. Hatinya dikunci, pandangannya ditutup, bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena ia memilih hawa nafsu di atas kebenaran.

Bahkan Allah memperingatkan, seandainya kebenaran tunduk kepada keinginan manusia, niscaya langit dan bumi akan rusak. Artinya, ketertiban semesta ini hanya tegak karena kebenaran tidak pernah berkompromi dengan hawa nafsu.

Maka renungkanlah: setiap kali Allah menyebut hawa nafsu dalam Al-Qur’an, penyebutan itu selalu dalam rangka mencelanya dan mencela para pengikutnya. Makna ini ditegaskan oleh Ibnu Abbas,
“Tidaklah Allah menyebutkan hawa nafsu dalam Kitab-Nya kecuali untuk mencelanya.”

Dari seluruh rangkaian ini, satu tujuan syariat menjadi terang: Allah ingin membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Membebaskan akal dari tipu daya, membebaskan hati dari kesesatan, dan membebaskan jiwa untuk tunduk hanya kepada wahyu.

Dan di sanalah kemuliaan manusia bermula—bukan ketika ia mengikuti apa yang diinginkan jiwanya, tetapi ketika ia berani berkata: aku menolak hawa nafsuku, demi kebenaran yang datang dari Tuhanku.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (361) Al-Qur’an (6) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (2) Kecerdasan (263) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (2) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (3) Nusantara (249) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (568) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (263) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (6) Sirah Penguasa (243) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (160) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (21) Sirah Ulama (157) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)