Lamanya Dakwah Rahasia
Setelah turunnya surah Al-Muddatstsir ayat 1–4—yang menandai dimulainya perintah dakwah—Rasulullah ﷺ menjalankan dakwah dengan metode rahasia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: berapa lama fase dakwah rahasia ini berlangsung?
Menurut Urwah bin Zubair, rentang waktu sejak awal kenabian hingga turunnya perintah dakwah secara terang-terangan adalah tiga tahun. Perintah tersebut termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ
Maka sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.
(Al-Ḥijr [15]: 94)
Mengapa tiga tahun?
Bukan karena angka itu memiliki keutamaan khusus, melainkan karena pada saat itu kaum Muslimin telah memiliki basis yang cukup kuat—dari sisi kualitas iman, keteguhan pribadi, dan posisi sosial—untuk menghadapi tekanan masyarakat Mekah. Mereka belum besar secara jumlah, tetapi telah matang secara ruhani dan strategis sehingga tidak mudah dimusnahkan.
Dari sinilah letak pelajaran penting dalam manhaj dakwah. Yang menjadi tolok ukur bukanlah lamanya waktu, melainkan hasil operasional dakwah: sejauh mana dakwah mampu membentuk kader, melahirkan tokoh, dan menciptakan jaringan perlindungan sosial yang memungkinkan risalah bertahan dan berkembang.
Lalu, kapan dakwah secara terang-terangan benar-benar dimulai?
Setelah turunnya perintah tersebut, Allah kembali menurunkan jaminan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ melalui firman-Nya:
اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَۙ
Sesungguhnya cukuplah Kami yang memeliharamu (Nabi Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan.
(Al-Ḥijr [15]: 95)
Dakwah terbuka dilakukan setelah adanya jaminan ilahi bahwa Rasulullah ﷺ akan dilindungi dari gangguan, cemoohan, dan makar kaum musyrikin. Jaminan ini bukan sekadar penghiburan, melainkan penegasan bahwa fase konfrontasi telah tiba dan siap dihadapi.
Dalam konteks Rasulullah ﷺ, peralihan tahap dakwah diketahui secara pasti melalui wahyu. Namun setelah beliau wafat, tanggung jawab menilai tahapan dakwah berpindah kepada para pemimpin gerakan Islam yang terpimpin, yang harus membaca realitas, mengukur kekuatan, dan mempertimbangkan risiko sebelum berpindah ke fase berikutnya.
Pemahaman bahwa tahapan dakwah tidak terikat pada masa tertentu juga diperkuat oleh fakta sejarah. Sebagian kaum Muslimin yang berada di luar Mekah tetap menjalankan Islam mereka secara rahasia dalam rentang waktu yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi kabilah masing-masing dan kemampuan mereka dalam berdakwah serta membina kader.
Dengan demikian, fase dakwah bukan ditentukan oleh hitungan tahun, tetapi oleh kesiapan iman, kekuatan struktur, dan kecermatan membaca zaman. Inilah manhaj kenabian yang lentur dalam bentuk, tetapi kokoh dalam tujuan.
0 komentar: