basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang Seorang juru dakwah tidak akan mampu teguh di atas jalan kebenaran, apalagi meningkatkan peng...


Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang

Seorang juru dakwah tidak akan mampu teguh di atas jalan kebenaran, apalagi meningkatkan pengorbanan dan mendahulukan saudaranya, kecuali bila dalam dirinya telah sempurna makna kemerdekaan dan kesetiaan. Di atas semua itu, ia menjaga kasih sayang dan afiliasi sebagai fondasi hubungan.


Kasih sayang inilah mustika akhlak dan kesucian yang harus dijaga terlebih dahulu, sebelum syarat ilmu pengetahuan dan kemampuan kepemimpinan. Sebab tarbiyah bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi pembentukan jiwa.


Di kalangan para juru dakwah, ketaatan bukanlah sikap buta, melainkan kesadaran yang tumbuh dari keteladanan. Karena itu, mereka menyeleksi setiap calon pemimpin pertama-tama dari sisi kesucian jiwa dan ketinggian kepribadian, sebelum menimbang kemampuan teknis, pengalaman organisasi, atau kecakapan politik.


Seorang penyair menggambarkan hal ini:

“Para juru dakwah akan berpaling kepada pemimpin keselamatan—
bersih jiwanya dan bersih akhlaknya.
Jiwa seperti itu akan ditaati oleh jiwa-jiwa lain,
bahkan sebelum dibaiat dengan ikatan kesetiaan yang paling kuat.”


Akhlak dan pengalaman memang sama-sama dibutuhkan. Namun, ukuran pengutamaan dalam tradisi tarbiyah berbeda dengan tradisi politik. Yang didahulukan dan diakhirkan bukan semata karena kecakapan, tetapi karena ketakwaan.


Para juru dakwah memahami bahwa akhlak adalah wujud nyata dari takwa, dan takwa adalah pintu kesadaran. Dengan takwa, seorang hamba yang sederhana mampu belajar, terbuka terhadap kebenaran, dan memperoleh ilham yang lurus. Dari sinilah terbentuk pribadi yang utuh dan seimbang.


Kesempurnaan akhlak melahirkan jiwa yang merdeka—jiwa yang setia kepada para pendidik yang telah membinanya, bukan karena ikatan formal, tetapi karena ikatan hati dan nilai. Ini bukan ungkapan sesaat, sebagaimana dikatakan:


“Sesungguhnya para juru dakwah itu telah menyuapkan pikiran kepadamu,
mereka membawa petunjuk bagi timur dan barat.
Engkau hidup dalam ketulusan mereka,
betapa indah hidupmu selama mereka masih mengasuhmu.”


Al-Qur’an sendiri mengajarkan pentingnya penghormatan kepada pendidik melalui perintah agar kaum Muslimin memuliakan Rasulullah ﷺ, tidak menyamakan panggilan kepada beliau dengan panggilan kepada sesama manusia:

“Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain…”
(QS. An-Nūr [24]: 63)


Ayat ini menegaskan bahwa hati seorang Muslim harus dipenuhi rasa hormat kepada Rasulullah ﷺ agar ia mampu memahami, menerima, dan menghargai setiap arahan beliau. Prinsip ini menjadi dasar dalam tarbiyah: penghormatan adalah syarat tumbuhnya pengaruh dan keberkahan.


Karena itu, seorang juru dakwah perlu memiliki kharisma, dan seorang pemimpin atau panglima harus memiliki wibawa. Ada perbedaan jelas antara rendah hati dan lemah lembut, dengan sikap yang menghapus jarak kehormatan antara pendidik dan yang dididik.


Bagaimanapun, seorang pendidik harus menempati posisi yang mulia di hati murid-muridnya. Dari sanalah arahan akan diterima dengan lapang, dan pelanggaran batas akan terasa sebagai sesuatu yang memalukan, bukan karena tekanan, tetapi karena adab.


Namun, kehormatan ini tidak boleh melahirkan kesombongan. Jangan pernah berkata, “Dia hanyalah anak didikku,” atau “Dia tidak pernah membinaku.” Bisa jadi, pada suatu hari, seseorang pernah memberi kita nasihat yang menyelamatkan kita dari kekeliruan besar.


Betapa banyak orang yang baru mengenal dakwah hari ini, tetapi Allah alirkan melalui dirinya semangat, kejujuran, atau dorongan kebaikan yang menguatkan langkah kita. Semua itu adalah bentuk tarbiyah—dan setiap tarbiyah menuntut balasan berupa kasih sayang, bukan perendahan.


Di sinilah tarbiyah menemukan ruhnya: kasih sayang yang melahirkan ketaatan, adab yang melahirkan pengaruh, dan kemerdekaan jiwa yang melahirkan kesetiaan.

Kasih Sayang dan Jalinan Hubungan Dakwah Sikap adil dan proporsional adalah pintu awal bagi pengenalan diri dan pengenalan terh...










Kasih Sayang dan Jalinan Hubungan Dakwah

Sikap adil dan proporsional adalah pintu awal bagi pengenalan diri dan pengenalan terhadap orang lain. Dari sanalah seseorang belajar menempatkan diri, membaca situasi, dan memahami makna hubungan. Sebab sejatinya, seorang mukmin adalah seorang mujahid. Dan seorang mujahid tidak menerima kehinaan. Ia menolak tunduk pada kerendahan, lalu bangkit untuk bergerak.


Namun, kemerdekaan tidak berhenti pada semangat perlawanan semata. Seorang yang merdeka memiliki prinsip, karakter, dan keluhuran sikap. Inilah langkah awal—bukan keseluruhan jalan—menuju kemuliaan.


Di antara tanda kemerdekaan jiwa adalah sikapnya dalam membalas kebaikan. Ketika seseorang membalas kebaikan orang lain dengan tulus, ia sesungguhnya sedang melepaskan salah satu bentuk perbudakan: perbudakan ego, gengsi, dan kepentingan diri. Ia tidak lagi terikat oleh rasa ingin unggul, ingin dipuji, atau ingin menang sendiri.


Makna inilah yang ditunjukkan oleh Imam Syafi‘i ketika berkata:

“Orang merdeka adalah orang yang memelihara kasih sayang walau hanya sesaat. Atau, ia memilih menjalin hubungan dengan orang yang pernah memberinya sepatah kata yang bermanfaat.”


Kasih sayang, dalam pandangan ini, bukan emosi sesaat dan bukan pula basa-basi hubungan. Ia adalah pilihan sadar untuk menjaga ikatan kebaikan, meski tipis dan sederhana. Bahkan, sepatah kata yang memberi manfaat cukup menjadi alasan bagi seorang yang merdeka untuk memelihara hubungan.


Dakwah telah mengajarkan makna kasih sayang secara utuh—bukan sekadar sebagai istilah, tetapi sebagai sikap hidup. Kasih sayang adalah keikhlasan, penjagaan hubungan, dan kesediaan menjauh dari fitnah-fitnah yang selalu mengintai relasi manusia. Orang yang berjiwa merdeka akan menjaga kasih sayangnya, tulus di dalamnya, dan tidak menjadikannya alat kepentingan.


Sebaliknya, ketika seseorang mengorbankan kemerdekaan jiwanya demi kepentingan diri, maka nilai dirinya akan mengikuti pilihan itu. Ia mungkin tampak bebas secara lahir, tetapi sejatinya terbelenggu oleh ambisi, rasa iri, dan kepentingan dunia.


Seseorang yang benar-benar selamat dari fitnah tidak akan terus-menerus hidup di dalamnya. Namun, orang yang malas secara ruhani sering kali memutus hubungan, meninggalkan sahabat, dan mengganti lingkaran pergaulan hanya karena ketidakmampuan menjaga makna kemerdekaan. Ia mudah kecewa, mudah berpaling, dan mudah membuang hubungan—bukan karena kebenaran, tetapi karena ia telah mengenakan “pakaian perbudakan dunia”.


Pada titik inilah, kasih sayang menjadi ujian kemerdekaan. Apakah ia dijaga, atau dikorbankan. Apakah hubungan dirawat dengan kesadaran, atau diputus oleh hawa nafsu. Di situlah nilai diri seseorang ditimbang—bukan oleh apa yang ia miliki, tetapi oleh apa yang ia pelihara dalam jiwanya.


Pelaksanaan Dakwah atas Dasar Pilihan Pada fase dakwah rahasia, penyampaian Islam tidak dilakukan secara terbuka di pasar-pasa...


Pelaksanaan Dakwah atas Dasar Pilihan

Pada fase dakwah rahasia, penyampaian Islam tidak dilakukan secara terbuka di pasar-pasar, majelis umum, atau forum kabilah. Dakwah dijalankan secara selektif dan personal, berdasarkan pertimbangan matang para dai terhadap karakter, integritas, dan kesiapan orang-orang yang akan diajak.


Dakwah pada tahap ini bukanlah dakwah massa, melainkan dakwah pilihan.


Fondasi pertama dakwah Islam dibangun dari lingkaran terdekat Rasulullah ﷺ. Khadijah binti Khuwailid, istri beliau, menjadi orang pertama yang beriman. Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat karib yang paling mengenal kejujuran dan keagungan akhlak Nabi. Ali bin Abi Thalib, anak pamannya yang diasuh sejak kecil. Dan Zaid bin Haritsah, mantan budak yang telah lama hidup dalam naungan rumah kenabian.


Keempat sosok ini bukan sekadar orang-orang terdekat secara emosional, tetapi juga orang-orang yang paling mengenal pribadi Rasulullah ﷺ. Mereka adalah saksi hidup atas kejujuran, ketulusan, dan keteguhan beliau jauh sebelum risalah disampaikan secara luas.


Ketika Abu Bakar mulai menjalankan peran dakwahnya, pola yang sama terus dijaga: dakwah berbasis kepercayaan. Ia tidak mengajak sembarang orang, melainkan mereka yang dikenalnya memiliki kejernihan akal, kematangan akhlak, dan kemampuan menjaga rahasia.


Ibnu Ishaq menggambarkan sosok Abu Bakar sebagai berikut:

“Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang akrab dengan kaumnya, dicintai dan disayangi. Ia termasuk Quraisy yang paling mengetahui nasab kaumnya serta memahami kebaikan dan keburukan yang ada di dalamnya.”


Ibnu Ishaq melanjutkan:

“Ia dikenal sebagai seorang pedagang yang berakhlak mulia. Banyak tokoh kaumnya mendatanginya untuk meminta pendapat dalam berbagai urusan, karena ilmunya, perniagaannya, dan kebaikan pergaulannya.”


Dengan modal kepercayaan sosial inilah Abu Bakar memulai dakwahnya. Ia mengajak kepada Islam orang-orang yang diyakininya mampu mendengar dengan jujur dan menjaga amanah dakwah. Melalui dakwah Abu Bakar, masuk Islamlah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa‘ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.


Ibnu Ishaq menegaskan:

“Mereka adalah para pendahulu yang pertama-tama masuk Islam, melaksanakan shalat, dan membenarkan risalah Nabi.”


Kelompok kecil ini kelak menjadi tulang punggung dakwah Islam—bukan hanya karena kedudukan sosial mereka, tetapi karena kualitas iman, keteguhan hati, dan kesiapan berkorban.


Dengan demikian, dakwah pada fase awal ini berjalan di atas pondasi kepercayaan, kedekatan personal, dan ketepatan memilih sasaran. Faktor-faktor yang membuat dakwah Abu Bakar diterima memang banyak, tetapi yang paling utama adalah integritas pribadi dan hubungan kepercayaan yang telah terbangun jauh sebelum dakwah dimulai.


Inilah pelajaran besar dari fase dakwah rahasia: Islam tidak lahir dari kebisingan massa, melainkan dari kejernihan hati segelintir manusia yang dipilih dan siap memikul amanah kebenaran.


Lamanya Dakwah Rahasia Setelah turunnya surah Al-Muddatstsir ayat 1–4—yang menandai dimulainya perintah dakwah—Rasulullah ﷺ m...


Lamanya Dakwah Rahasia

Setelah turunnya surah Al-Muddatstsir ayat 1–4—yang menandai dimulainya perintah dakwah—Rasulullah ﷺ menjalankan dakwah dengan metode rahasia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: berapa lama fase dakwah rahasia ini berlangsung?


Menurut Urwah bin Zubair, rentang waktu sejak awal kenabian hingga turunnya perintah dakwah secara terang-terangan adalah tiga tahun. Perintah tersebut termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ
Maka sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.
(Al-Ḥijr [15]: 94)

Mengapa tiga tahun?


Bukan karena angka itu memiliki keutamaan khusus, melainkan karena pada saat itu kaum Muslimin telah memiliki basis yang cukup kuat—dari sisi kualitas iman, keteguhan pribadi, dan posisi sosial—untuk menghadapi tekanan masyarakat Mekah. Mereka belum besar secara jumlah, tetapi telah matang secara ruhani dan strategis sehingga tidak mudah dimusnahkan.


Dari sinilah letak pelajaran penting dalam manhaj dakwah. Yang menjadi tolok ukur bukanlah lamanya waktu, melainkan hasil operasional dakwah: sejauh mana dakwah mampu membentuk kader, melahirkan tokoh, dan menciptakan jaringan perlindungan sosial yang memungkinkan risalah bertahan dan berkembang.


Lalu, kapan dakwah secara terang-terangan benar-benar dimulai?


Setelah turunnya perintah tersebut, Allah kembali menurunkan jaminan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ melalui firman-Nya:

اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَۙ
Sesungguhnya cukuplah Kami yang memeliharamu (Nabi Muhammad) dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan.
(Al-Ḥijr [15]: 95)


Dakwah terbuka dilakukan setelah adanya jaminan ilahi bahwa Rasulullah ﷺ akan dilindungi dari gangguan, cemoohan, dan makar kaum musyrikin. Jaminan ini bukan sekadar penghiburan, melainkan penegasan bahwa fase konfrontasi telah tiba dan siap dihadapi.


Dalam konteks Rasulullah ﷺ, peralihan tahap dakwah diketahui secara pasti melalui wahyu. Namun setelah beliau wafat, tanggung jawab menilai tahapan dakwah berpindah kepada para pemimpin gerakan Islam yang terpimpin, yang harus membaca realitas, mengukur kekuatan, dan mempertimbangkan risiko sebelum berpindah ke fase berikutnya.


Pemahaman bahwa tahapan dakwah tidak terikat pada masa tertentu juga diperkuat oleh fakta sejarah. Sebagian kaum Muslimin yang berada di luar Mekah tetap menjalankan Islam mereka secara rahasia dalam rentang waktu yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi kabilah masing-masing dan kemampuan mereka dalam berdakwah serta membina kader.


Dengan demikian, fase dakwah bukan ditentukan oleh hitungan tahun, tetapi oleh kesiapan iman, kekuatan struktur, dan kecermatan membaca zaman. Inilah manhaj kenabian yang lentur dalam bentuk, tetapi kokoh dalam tujuan.


Wahyu Pertama, Lalu Terhenti Al-Muqrizi dalam Imtā‘ al-Asmā’ meriwayatkan bahwa setelah Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ di ...



Wahyu Pertama, Lalu Terhenti

Al-Muqrizi dalam Imtā‘ al-Asmā’ meriwayatkan bahwa setelah Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ di Gua Hira dan membacakan firman Allah, “Iqra’ bismi rabbika alladzī khalaq”, Rasulullah ﷺ pulang ke rumah Khadijah r.a. Dalam keadaan itu, beliau terdiam dan tinggal di rumah selama masa yang dikehendaki Allah, tanpa menerima wahyu apa pun.


Wahyu pun terhenti.


Terhentinya wahyu itu menghadirkan kesedihan yang mendalam di hati Rasulullah ﷺ. Kerinduannya kepada kalam Allah mendorong beliau berulang kali naik ke puncak-puncak gunung, berharap peristiwa agung seperti di Gua Hira kembali terulang.


Para ulama berbeda pendapat tentang lamanya masa terhentinya wahyu tersebut. Ada yang mengatakan dua tahun, sebagaimana dinukil dari sebagian riwayat. Ibnu Abbas berpendapat berlangsung selama empat puluh hari. Al-Zujjaj menyebut lima belas hari. Sementara dalam tafsir Muqatil disebutkan hanya tiga hari, dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh banyak ulama.


Muqatil menjelaskan bahwa masa terhentinya wahyu itu memiliki keserupaan dengan ihwal seorang hamba yang sedang ditempa kedekatan dan keteguhan di sisi Rabb-nya. Hingga akhirnya, Jibril kembali menampakkan diri kepada Rasulullah ﷺ, terlihat di antara langit dan bumi, duduk di atas kursi. Malaikat itu meneguhkan hati beliau dan menyampaikan kabar gembira bahwa ia benar-benar adalah utusan Allah.


Namun pemandangan itu membuat Rasulullah ﷺ diliputi rasa takut. Beliau segera pulang menemui Khadijah dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Dalam keadaan itulah Allah menurunkan firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ
Wahai orang yang berselimut,
قُمْ فَاَنْذِرْۖ
bangkitlah, lalu berilah peringatan!
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ
dan Tuhanmu agungkanlah!
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ
dan pakaianmu bersihkanlah.
(Al-Muddatstsir [74]: 1–4)

Dengan turunnya ayat-ayat ini, jelaslah bahwa peristiwa di Gua Hira adalah awal kenabian dan pewahyuan. Sedangkan perintah dalam surah Al-Muddatstsir menandai fase baru: perintah untuk bangkit, memberi peringatan, dan mengajak manusia kepada Allah.


Dari sinilah dakwah Rasulullah ﷺ dimulai—awalannya dilakukan secara rahasia, perlahan, namun dengan fondasi ruhani yang telah ditempa melalui kesunyian, kerinduan, dan penantian yang mendalam terhadap wahyu.

Jamaah Satu Hati Rasulullah ﷺ menggambarkan satu keadaan yang sangat agung tentang sebuah jamaah beriman: > “Tidak ada pertik...

Jamaah Satu Hati

Rasulullah ﷺ menggambarkan satu keadaan yang sangat agung tentang sebuah jamaah beriman:

> “Tidak ada pertikaian dan kebencian di antara mereka, karena sesungguhnya mereka satu hati.”



Inilah gambaran ideal jamaah para juru dakwah—jamaah yang dibangun bukan di atas kepentingan, tetapi di atas iman dan kesadaran.

Di dalam jamaah ini terdapat sejumlah janji yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Janji-janji itu bukan formalitas, melainkan ikatan ruhani yang diikrarkan sejak langkah pertama seseorang memasuki barisan para juru dakwah. Ia menyerupai syair yang dihidupkan oleh amal:

Tangan berpegang tangan.
Saksikan perjanjian kami.
Teguh dalam satu barisan.
Maju atau hancur bersama.

Inilah janji setia—janji untuk melangkah bersama dalam perjuangan yang terencana, matang, dan disadari risikonya. Sebuah komitmen untuk tidak berjalan sendiri, tidak meninggalkan barisan, dan tidak mencari keselamatan pribadi di atas keruntuhan jamaah.

Janji setia ini melahirkan ketaatan. Namun ketaatan yang lahir bukan dari paksaan, melainkan dari kesadaran. Ia tumbuh dari pemahaman, diperkuat oleh iman, dan dijaga oleh keteguhan hati. Karena itu, di dalam barisan ini tidak tumbuh pembicaraan sia-sia, tidak subur bisikan perpecahan, dan tidak diberi ruang ambisi pribadi.

Sebagaimana iman kepada surga mendorong mereka berlomba-lomba dalam jihad dan pengorbanan, janji setia ini pun mendorong perlombaan lain yang tidak kalah berat: perlombaan dalam ketaatan, cinta persaudaraan, dan kejernihan hati sesama anggota jamaah. Masing-masing ingin berada di barisan terdepan—bukan untuk menonjolkan diri, tetapi karena ingin menjadi bagian dari golongan pertama yang dipanggil menuju surga melalui pintu persatuan.

Karena itulah Rasulullah ﷺ kembali menggambarkan mereka dengan kalimat yang sama:

> “Tidak ada pertikaian dan kebencian di antara mereka, karena sesungguhnya mereka sehati.”



Ketaatan yang menjaga kejernihan hati inilah yang mengantarkan mereka masuk ke dalam kelompok pemenang. Ketaatan yang bertolak dari iman, dipandu oleh kaidah iman, dan selalu kembali kepada iman. Ia bukan ketaatan yang membutakan akal, tetapi juga bukan pembangkangan yang dibungkus dalih kebebasan.

Ketaatan ini sama sekali bukan sikap pasrah yang lemah dan pengecut. Ia juga bukan basa-basi orang yang tamak, oportunis, atau egois. Ia adalah ketaatan Islami yang khas—ketaatan yang dipahami sebagai pilar keimanan. Tanpanya, iman menjadi timpang. Kehilangannya membuat bangunan jamaah rapuh dari dalam.

Karena itu, para juru dakwah memandang berkhidmat kepada pemimpin sebagai bagian dari kebenaran, dan memandang ketaatan kepada perintah yang sah sebagai bagian dari iman. Dalam bingkai ini, akal boleh digunakan ketika terjadi perbedaan ijtihad, tetapi hati harus ditahan ketika kepentingan pribadi mulai menyelinap. Semua itu dilakukan demi menjaga agar iman kolektif jamaah tidak terusik.

Sebab jamaah yang satu hati tidak dibangun oleh keseragaman pendapat, melainkan oleh kejujuran iman, kejernihan niat, dan kesediaan untuk menundukkan ego demi kemenangan bersama.

Pintu Hikmah dan Hidayah Hanya bagi yang Menolak Hawa Nafsu “Tinggalkan setiap hawa nafsu yang diberi nama selain Islam.” Kalima...


Pintu Hikmah dan Hidayah Hanya bagi yang Menolak Hawa Nafsu

“Tinggalkan setiap hawa nafsu yang diberi nama selain Islam.”

Kalimat ini bukan teriakan emosi, melainkan peringatan sunyi yang keluar dari kedalaman ilmu dan kejernihan iman. Ia dikumandangkan oleh ahli hadis terpercaya, Maimun bin Mahram, ketika beliau khawatir manusia akan tertipu oleh nama-nama indah yang terus berganti dari generasi ke generasi. Nama-nama yang terdengar meyakinkan, tampak rasional, bahkan dibungkus dengan niat kebaikan—namun sejatinya menjauhkan manusia dari wahyu.

Pesannya sederhana, tetapi mengguncang:
segala sesuatu yang berdiri selain Islam, apa pun bentuknya dan kapan pun zamannya, tidak lebih dari hawa nafsu.

Inilah benang merah yang menyatukan perkataan para imam kaum Muslimin. Mereka sepakat dalam satu hal: kebenaran hanya satu, dan sumbernya hanya satu—wahyu. Adapun selain wahyu, betapapun halus dan menarik rupanya, adalah hawa nafsu yang tercela.

Karena itu, tidak ada satu pun hawa nafsu yang terpuji. Tidak ada hawa nafsu yang boleh disejajarkan dengan kebenaran. Seorang Muslim tidak diperkenankan berpedoman kepadanya, apalagi merasa tenang dengannya. Ketenteraman sejati hanya lahir dari tunduk kepada wahyu, bukan dari mengikuti kecenderungan jiwa.

Prinsip ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syathibi dalam al-Muwāfaqāt. Dengan kalimat ringkas namun menyeluruh, beliau menjelaskan bahwa Allah menjadikan mengikuti hawa nafsu sebagai bentuk penentangan terhadap kebenaran, sekaligus menetapkan akibat bagi para pengikutnya. Beliau mengaitkannya dengan firman Allah kepada Nabi Daud:

> “Maka berilah keputusan di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.”
(Ṣād [38]:26)

Di sini, Allah tidak memberi ruang kompromi. Memutuskan dengan kebenaran dan mengikuti hawa nafsu diletakkan sebagai dua jalan yang berlawanan. Yang satu mengantarkan kepada hidayah, yang lain menjerumuskan ke dalam kesesatan.

Al-Qur’an lalu memperluas gambaran ini dalam banyak ayat. Allah menyebut orang yang melampaui batas dan mengutamakan kehidupan dunia, lalu menutup ayat-Nya dengan kesimpulan yang tegas: neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Sebaliknya, Allah memuji mereka yang takut kepada kebesaran-Nya dan menahan diri dari hawa nafsu—bagi mereka, surgalah tempat kembali.

Pemisahan ini semakin dipertegas ketika Allah menafikan hawa nafsu dari lisan Rasulullah ﷺ:

> “Ia tidak berbicara menurut hawa nafsu. Ucapannya tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”

Dengan ini, Allah membatasi realitas pada dua kutub saja: wahyu atau hawa nafsu. Tidak ada wilayah ketiga. Tidak ada jalan abu-abu. Jika suatu perkara tidak berdiri di atas wahyu, maka ia berdiri di atas hawa nafsu, meskipun dinamai dengan istilah paling agung sekalipun.

Karena itulah, ketika kebenaran wahyu telah jelas, maka mengikuti hawa nafsu berarti menentang syariat. Dan penentangan itu tidak selalu hadir dalam bentuk pembangkangan kasar; sering kali ia datang dalam rupa pembenaran yang halus.

Allah menggambarkan kondisi paling berbahaya dari ini: manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Ia mendengar, tetapi tidak memahami. Ia melihat, tetapi tidak mengambil pelajaran. Hatinya dikunci, pandangannya ditutup, bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena ia memilih hawa nafsu di atas kebenaran.

Bahkan Allah memperingatkan, seandainya kebenaran tunduk kepada keinginan manusia, niscaya langit dan bumi akan rusak. Artinya, ketertiban semesta ini hanya tegak karena kebenaran tidak pernah berkompromi dengan hawa nafsu.

Maka renungkanlah: setiap kali Allah menyebut hawa nafsu dalam Al-Qur’an, penyebutan itu selalu dalam rangka mencelanya dan mencela para pengikutnya. Makna ini ditegaskan oleh Ibnu Abbas,
“Tidaklah Allah menyebutkan hawa nafsu dalam Kitab-Nya kecuali untuk mencelanya.”

Dari seluruh rangkaian ini, satu tujuan syariat menjadi terang: Allah ingin membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Membebaskan akal dari tipu daya, membebaskan hati dari kesesatan, dan membebaskan jiwa untuk tunduk hanya kepada wahyu.

Dan di sanalah kemuliaan manusia bermula—bukan ketika ia mengikuti apa yang diinginkan jiwanya, tetapi ketika ia berani berkata: aku menolak hawa nafsuku, demi kebenaran yang datang dari Tuhanku.

Titik Tolak Dakwah untuk Para Pelanjut Kembalilah ke titik tolak dakwah. Bukan untuk berbicara kepada mereka yang berpaling, tet...


Titik Tolak Dakwah untuk Para Pelanjut

Kembalilah ke titik tolak dakwah.
Bukan untuk berbicara kepada mereka yang berpaling, tetapi untuk menyapa para juru dakwah itu sendiri—mereka yang tekun menjaga shalat, bangga dengan agamanya, menghiasi hidup dengan akhlak orang-orang beriman, dan tetap setia pada kebenaran tanpa lengah dan tanpa ragu.

Sebab persoalan dunia Islam hari ini bukan semata kekurangan orang yang mengaku Islam. Masalah terbesar justru terletak pada mereka yang telah berada di dalam barisan iman, namun kelelahan, kehilangan arah, atau tidak lagi mengetahui ke mana langkah harus diarahkan. 

Kebutuhan paling mendesak bukanlah menciptakan komunitas baru dari orang-orang yang menyimpang dan lalai, melainkan menyadarkan kembali mereka yang telah berkomitmen pada Islam—membangkitkan semangatnya, menguatkan hatinya, dan mengenalkan jalan amal serta fiqh dakwah yang benar.

Di tengah umat ini masih tersisa orang-orang beriman dalam jumlah yang tidak sedikit. Mereka menyimpan potensi besar untuk menghadirkan kebaikan yang dikehendaki Allah. Namun potensi itu menunggu pemurnian jiwa, pengendalian kecenderungan kepada dunia, keberanian menjauhi fitnah, kesabaran menghadapi ujian, dan pembekalan ilmu kepemimpinan umat.

Karena itu, kembali kepada titik tolak dakwah bukanlah kembali kepada perdebatan ideologis yang melelahkan. Ia tidak dimulai dengan membandingkan Islam dengan madzhab sosial atau ekonomi modern. Ia juga tidak diarahkan kepada mereka yang mencampuradukkan Islam dengan ideologi lain. Fokusnya lebih jujur dan lebih sunyi: berbicara kepada kaum Muslimin yang benar-benar beriman, bersih aqidahnya, dan hatinya resah melihat kenyataan umat hari ini.

Kepada merekalah dakwah diarahkan—bukan dengan teriakan, tetapi dengan ajakan yang menuntun. Dakwah menunjukkan jalan amal yang membuahkan hasil, jalan pembebasan yang berakar pada tarbiyah jiwa, serta jalan peningkatan derajat ruhani melalui disiplin, kesungguhan, dan pengorbanan.

Ia juga menyapa para juru dakwah yang telah mengenal medan amal, yang berusaha melepaskan diri dari egoisme individual, dan memilih amal jama‘i bersama golongan “kanan”—mereka yang bersungguh-sungguh melawan jahiliyah demi mengembalikan umat kepada Islam. Namun jalan ini bukan jalan ringan. Ia menuntut keteguhan, tenaga ekstra, dan kelembutan hati yang terus dipelihara.

Maka siapa pun yang mengabaikan tujuan ini, ia akan keliru memahami titik tolak dakwah. Ia akan ragu menggunakannya, atau salah mengarahkannya. Padahal dakwah tidak pernah dimulai dari keramaian ide, melainkan dari kesadaran orang-orang beriman yang bersedia kembali memperbaiki diri sebelum memperbaiki dunia.

Marilah Duduk Sesaat Seorang juru dakwah yang beriman tidak pernah berjalan di jalan yang sunyi dari tarikan. Ia selalu berada ...




Marilah Duduk Sesaat

Seorang juru dakwah yang beriman tidak pernah berjalan di jalan yang sunyi dari tarikan. Ia selalu berada di antara dua arus yang saling menarik jiwanya.

Di satu sisi, ada tarikan iman: niat yang jernih, semangat yang menyala, dan rasa tanggung jawab yang menuntunnya untuk beramal saleh serta bersegera dalam kebaikan. Tarikan ini mengajaknya bangkit, bergerak, dan memberi.

Namun di sisi lain, ada tarikan setan yang halus dan menipu. Dunia ditampakkan indah, kemalasan diberi wajah kenikmatan, angan-angan dipanjangkan tanpa ujung. Maka muncullah cinta dunia, kelalaian, kebiasaan menunda, kesenangan berkhayal, serta keengganan untuk mempelajari apa yang belum diketahui.

Keterombang-ambingan di antara dua tarikan ini bukanlah hal baru. Ia adalah kondisi yang senantiasa menyertai perjalanan manusia beriman, sejak dahulu hingga hari ini. Tidak ada yang benar-benar aman darinya.

Karena itulah, orang-orang mukmin diwajibkan untuk terus berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk berpikir. Bukan untuk melemah, tetapi untuk mengoreksi diri. Mereka diperintahkan untuk saling menasihati, merenungkan keadaan jiwa, dan menimbang ulang arah langkahnya.

Jangan-jangan hati telah disusupi kesombongan yang samar. Jangan-jangan semangat telah berubah menjadi ambisi. Jangan-jangan ilmu tercemari bid‘ah, atau perintah dan petunjuk Allah mulai diabaikan tanpa disadari.

Kepekaan semacam inilah yang diterjemahkan Mu‘adz bin Jabal dengan sebuah kalimat sederhana, namun mengguncang kesadaran. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya,

“Marilah kita duduk untuk beriman sesaat.”

Kalimat itu bukan ajakan untuk berhenti dari amal, melainkan undangan untuk menghidupkan kembali iman di tengah kesibukan.

Ucapan itu kemudian dihidupkan kembali oleh Ibnu Rawahah. Ia menggenggam tangan Abu Darda seraya berkata,

“Marilah kita beriman sesaat. Sesungguhnya hati itu berbolak-balik lebih cepat daripada air mendidih di dalam periuk.”

Dua kalimat ini diwariskan lintas generasi, bukan sekadar sebagai kata-kata, tetapi sebagai metode menjaga jiwa. Sebagai pengingat bahwa iman pun perlu dijaga, dirawat, dan diperbarui.

Maka kami pun mengambil kalimat itu dari mereka berdua, menjadikannya nasihat dalam memahami dakwah dan perjalanan para penyerunya.

Dengan kalimat itu pula kami menyeru setiap juru dakwah: duduklah sesaat. Ambillah waktu untuk merenung, memperbarui iman, dan mengoreksi diri—ilmu, niat, dan semangat. Sebab dakwah yang terus berjalan tanpa jeda perenungan, perlahan akan kehilangan kejernihan arah.

Makna Aqidah Akidah secara bahasa adalah mengikatkan hati pada sesuatu dan melekat kepadanya.  Melekat hingga seolah-olah terika...

Makna Aqidah

Akidah secara bahasa adalah mengikatkan hati pada sesuatu dan melekat kepadanya.  Melekat hingga seolah-olah terikat dengannya.

Meyakini sesuatu berarti membuat sesuatu itu menjadi kuat, kokoh dan tetap. Segala sesuatu yang dijadikan oleh seseorang untuk mendapatkan kemantapan hati dan pegangan bagi dirinya itulah yang disebut keyakinan.

Jadi makna aqidah adalah kemantapan, keteguhan, dan kekokohan terhadap pilar-pilar Islam yang dibangun di atasnya. 

Aqidah itu adanya di dalam hati. Ia mengakar kuat dan tertancap padanya. Senantiasa membersamai seorang hamba yang tidak surut dan tidak pula lenyap karena keguncangan, kebimbangan, maupun keraguan. 

Pokok-pokok aqidah adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, serta kepada takdir baik dan buruk. Iman adalah kepercayaan yang mantap yang tiada keraguan padanya.

Kasih Sayang dalam Dakwah Dakwah itu agar umat mengetahui bahwa mereka lebih dicintai daripada diri kami sendiri. Sungguh, jiwa-...

Kasih Sayang dalam Dakwah

Dakwah itu agar umat mengetahui bahwa mereka lebih dicintai daripada diri kami sendiri.

Sungguh, jiwa-jiwa kami itu senang gugur sebagai penebus bagi kehormatan umat, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau, melayang untuk membayar kejayaan, kemuliaan, agama dan cita-cita mereka, jika memang mencukupi.

Tiada yang membawa kami pada sikap seperti ini kepada mereka, kecuali karena rasa kasih sayang yang telah mencengkram hati kami, menguasai perasaan kami, menghilangkan kantuk kami, dan mengalir air mata kami. 

Sungguh, kami benar-benar sedih melihat apa yang menimpa umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan, ridha pada kerendahan dan pasrah pada keputusasaan.

Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. 

Kami adalah milik kalian, wahai saudaraku tercinta, bukan untuk orang lain. Sesaat pun, kami tak akan pernah menjadi musuh kalian.


Keterusterangan dan Kesucian Dakwah Kami ingin berterus terang kepada manusia tentang tujuan dakwah. Kami ingin mengungkapkan ma...



Keterusterangan dan Kesucian Dakwah

Kami ingin berterus terang kepada manusia tentang tujuan dakwah. Kami ingin mengungkapkan manhaj dakwah di hadapan manusia dan menyampaikan seruannya tanpa kehancuran dan tanpa kesamaran. Dakwah harus tampil jelas, lebih terang dari sinar matahari, lebih cerah dari cahaya fajar, dan lebih cemerlang dari terangnya siang hari.

Kami juga ingin agar seluruh manusia mengetahui bahwa dakwah itu bersih dan suci. Kebersihannya benar-benar mulia, karena ia melampaui ambisi pribadi, menganggap kecil keuntungan materi, serta meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan sementara. Dakwah tidak berjalan mengikuti keinginan manusia, tetapi terus melaju di jalan yang telah digariskan Allah bagi para dai.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”
(Yusuf [12]: 108)

Ayat ini menegaskan bahwa dakwah memiliki jalan yang jelas, tujuan yang terang, dan dasar yang kokoh. Ia dilakukan dengan bashirah—kesadaran, ilmu, dan kejujuran—tanpa penyimpangan dan tanpa kepentingan tersembunyi.

Karena itu, dakwah tidak meminta sesuatu pun dari manusia. Ia tidak mengharapkan harta, tidak menuntut balasan, tidak menginginkan popularitas, dan tidak pula menunggu ucapan terima kasih. Dakwah hanya berjalan untuk menyampaikan amanah.

Sungguh, pahala amal seluruhnya hanyalah dari Dzat yang telah menciptakan kami.

Prinsip Siti Aisyah dan Umar bin Abdul Aziz dalam Memerangi Bid'ah Inilah langkah perbaikan diri dan masyarakat dengan metod...

Prinsip Siti Aisyah dan Umar bin Abdul Aziz dalam Memerangi Bid'ah


Inilah langkah perbaikan diri dan masyarakat dengan metode Tadarruj (bertahap) dalam berislah (perbaikan). 

Saat jiwa telah terbiasa dengan penyimpangan dalam waktu lama. Hatinya keras dengan keseharisan yang penuh maksiat. Apakah langsung melakukan perubahan secara tiba-tiba dan cepat? Siti Aisyah dan Umar bin Abdul Aziz membimbing kita.

Siti Aisyah berkata. "Yang pertama kali turun dari Al-Qur'an adalah surat-surat yang merinci keterangan tentang surga dan neraka. Hingga ketika orang-orang telah gandrung pada Islam, maka turunlah halal dan haram."

"Seandainya ayat yang pertama turun: Janganlah kalian minum khamer, niscaya mereka berkata: Kami tidak mau meninggalkan khamer selama-lamanya."

"Seandainya turun: Janganlah berzina, niscaya mereka berkata: Kami tidak mau meninggalkan zina selama-lamanya." 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun, yang juga ahli fiqh, teguh pada prinsip ini, setelah khalifah sebelumnya mengelola kekuasaan dengan campuran kezaliman. 

Anaknya Umar bin Khatab, Abdul Malik, berkata, "Ayah, apa yang menghalangimu untuk segera menegakkan keadilan yang kau inginkan? Demi Allah, aku tidak peduli seandainya kuali-kuali mendidih karena aku dan dirimu.:

"Anakku, sesungguhnya aku melihat orang seperti melatih unta jalang. Sesungguhnya aku ingin menghidupkan kekhalifahan dengan keadilan, hingga aku menunda itu, sampai aku mengeluarkan ambisi dunia, lalu mereka lari dari ketamakan duniawi dan menerima keadilan dengan tenang." Ujar Umar bin Abdul Aziz.

"Wahai Ayah, apa yang kau katakan kepada Rabb-mu besok, ketika Dia bertanya kepadamu, "Kamu melihat bid'ah namun tidak mematikannya, atau Sunnah namun tidak menghidupkannya?" Tanya sang anak.

"Anakku, sesungguhnya kaummu telah mengikat masalah ini dengan tali demi tali, simpul demi simpul. Ketika aku ingin memaksa mereka untuk melepaskan apa yang ada di tangan mereka, maka bisa saja mereka menentangku sehingga banyak darah yang tumpah."

"Demi Allah, hilangnya dunia itu lebih ringan bagiku daripada menetesnya darah lantaran aku. Tidakkah kau senang sekiranya setiap hari diantara hari-hari dunia ini ayahmu mematikan bid'ah dan menghidupkan Sunnah?" Ujar Umar bin Abdul Aziz.

Sumber:
Muhammad Ahmad Rasyid, Khitah Dakwah, Rabbani Press

Karakter Utama Bapak dalam Mendidik Anaknya Oleh: Nasrulloh Baksolahar Bagaimana mendidik anak agar berhasil? Paham metodologi p...


Karakter Utama Bapak dalam Mendidik Anaknya


Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Bagaimana mendidik anak agar berhasil? Paham metodologi pendidikan anak? Paham karakter anak sesuai zamannya? Semuanya hanya salah satunya. Tetapi bukan yang utama.

Siapakah Nabi dan Rasul yang putranya juga seorang Nabi? Nabi Adam melahirkan Nabi Syits. Nabi Ibrahim melahirkan Nabi Ismail dan Ishak. Nabi Yakub melahirkan Nabi  Yusuf. Nabi Zakaria melahirkan Nabi Yahya dan mendidik keponakannya Siti Maryam. Jadi apa karakter utama mereka?

1. Nabi Adam seorang bapak yang gemar memohon ampun kepada Allah

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kamu, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS Al A'raf ayat 23)

2. Nabi Ibrahim seorang bapak yang memiliki karakter sebagai Khalilullah, kekasih atau kesayangan Allah. Doa-doanya untuk putra-putrinya dan generasi hingga akhir zaman paling banyak dan paling panjang di dalam Al-Qur'an.

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya)." (QS. An-Nisa': 25)

3. Nabi Yakub AS memiliki julukan Israil. Kata Israil diambil dari gabungan dua kata, "Isra" yang artinya "budak," dan "eli" yang artinya "Tuhan." Dalam bahasa Arab, nama ini biasanya disebut dengan Abdullah.

Dia (Yakub) menjawab, "Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Yusuf: 86)

4. Nabi Zakaria tak pernah kecewa dalam berdoa

Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah melemah dan kepalaku telah terisi uban, sedang aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. (Maryam: 4)

Bapak adalah pemimpin keluarga. Menurut Umar bin Khatab, seorang pemimpin merupakan perantara antara Allah dengan yang dipimpinnya. Maka, karakter utama seorang bapak seperti yang dicontohkan Nabi Adam, Ibrahim, Yakub dan Zakaria yaitu memiliki hubungan yang kuat kepada Allah.

Kekuatan hubungan dengan Allah inilah yang akan menyentuh hati, jiwa dan akal putra-putrinya.

Antara Nabi Yunus dan Fir'aun Oleh: Nasrulloh Baksolahar Nabi Yunus dilemparkan ke laut dari sebuah kapal untuk menyelamatka...

Antara Nabi Yunus dan Fir'aun


Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Nabi Yunus dilemparkan ke laut dari sebuah kapal untuk menyelamatkan seluruh penumpangnya. Lalu, ikan paus memakannya. Nabi Yunus mengalami tiga kegelapan sekaligus. Kegelapan dasar laut, kegelapan malam dan kegelapan dalam ikan paus. Siapakah yang bisa menyelamatkannya?

Dalam kegelapan tersebut, Nabi Yunus berdoa. "Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya). maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."  (Al-Anbiya: 87)

Fir'aun pun tenggelam di Laut Merah saat mengejar Nabi Musa dan pengikutnya. Fir'aun pun berdoa untuk keselamatan dirinya.

"Kami jadikan Bani Israil bisa melintasi laut itu (Laut Merah). Lalu, Fir'aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menganiaya dan menindas hingga ketika Fir'aun hampir (mati) tenggelam, dia berkata, 'Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain (Tuhan) yang telah dipercayai oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya).'  (Yunus: 90-91)

Mengapa Nabi Yunus diselamatkan Allah, namun Firaun tidak? Padahal memiliki persoalan yang sama dan juga sama-sama berdoa kepada Allah di saat menghadapi kesulitan? Nabi Yunus sudah melanggengkan zikir sebelum peristiwa tersebut. Sedangkan Fir'aun baru berdzikir di saat kejadian tersebut. Apa perbedaannya?

Seperti dua orang petani, yang satu sudah menanam pohon di awal musim hujan, sehingga saat kemarau tumbuhanmya sudah kokoh dan bisa berbuah. Sedangkan, petani yang lain, di musim kemarau baru menanam pohon. Pohon tersebut mati karena tak bisa bertahan di musim kemarau.

Begitu pun dengan kisah 3 pemuda yang terjebak di gua. Mereka meminta pertolongan Allah melalui amal shaleh yang sudah diistiqamahkan sebelumnya. Amal shaleh yang sudah diperjuangkan di masa lalu hingga hari ini, akan menjadi perantara pertolongan Allah, kebaikan hidup hari ini dan masa depan.

Allah Sendiri yang Menghancurkan Kezaliman Yahudi Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah memaparkan kekalahan Yahudi Bani Nadhir dala...

Allah Sendiri yang Menghancurkan Kezaliman Yahudi


Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Allah memaparkan kekalahan Yahudi Bani Nadhir dalam surat Al-Hasyr ayat 2:

"Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran yang pertama."

"Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang bukan mereka sangka-sangka."

"Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sehingga mereka menggambarkan rumah-rumah mereka dengan tangan sendiri dan tangan orang-orang mukmin."

"Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!"

Allah sendiri yang mengeluarkan Yahudi Bani Nadhir dari Madinah. Allah melakukan  segala sesuatu tanpa perantara manusia. Rasulullah saw dan para Sahabatnya hanya melakukan pengepungan selama 25 hari dengan memotong dan membakar pohon-pohonnya. Mereka pun menyerah. 

Apa gunanya benteng yang kokoh? Apa gunanya sejata yang tercanggih? Yang menghancurkan benteng dan rumahnya pun mereka sendiri agar tidak bisa dimanfaatkan oleh muslimin.

Orang-orang Yahudi tertipu dengan kekuatan yang telah dihimpun dan dibangun. Tertipu dengan benteng dan senjatanya. Namun, Allah mendatangi mereka dari dalam diri mereka sendiri. Allah datang ke dalam hati-hati mereka dan mencampakkan ketakutan di dalamnya.

Yahudi mengantisipasi serangan dari dari luar diri mereka. Seperti penjajah Israel, yang membangun tembok-tembok tinggi, tebal, kokoh, dan menghujam ke tanah dengan baja yang tidak bisa ditembus oleh rakyat Palestina. Sehingga, fokusnya hanyalah serangan udara. Ternyata, ditipu dengan serangan udara, badai Al-Aqsa rakyart Palestina pun justru dimulai dengan menembus benteng tembok-tembok tanpa terdeteksi oleh apapun dan siapapun.

Demikianlah, bila Allah menghendaki sesuatu, Allah pasti mendatangi segala sesuatu dari arah yang Dia ketahui dan Dia tentukan. Jadi, tak perlu sebab dan saran yang diketahui manusia.

Bila kemenangan sudah dijamin, mengapa tidak segera bergabung atau menjadi bagian perjuangan Palestina?

Surat-Surat Al-Qur'an yang Menjelaskan Kekalahan Yahudi Oleh: Nasrulloh Baksolahar Ada surat Al-Qur'an yang diturunkan h...

Surat-Surat Al-Qur'an yang Menjelaskan Kekalahan Yahudi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Ada surat Al-Qur'an yang diturunkan hanya untuk menjelaskan kemenangan Mukminin saja. Kemenangan Mukminin menjadi tema sentralnya. Yaitu, surat An-Nashr,  Al-Fath dan Al-Hasyr.

Kemenangan Mukminin atas seluruh para penentangnya baik Munafikin, Musyrikin, Kafirin dan Yahudi. Dan di ragam surat lainnya juga menjelaskan kemenangan Mukminin, walaupun tidak menjadi tema sentralnya. Artinya, selama menjadi mukmin, kemenangan pasti diraihnya.

Bagaimana dengan Yahudi yang zalim? Selalu dikaitkan dengan kekalahan. Ada yang dijelaskan kekalahannya secara spesifik di daerah tertentu, maupun secara umum. Artinya, di semua medan pertempuran, Yahudi akan mengalami kekalahan yang telak dan menyakitkan.

Ada surat yang diturunkan untuk menjelaskan kekalahan Yahudi bani Nadhir di Madinah, yaitu surat Al-Hasyr. Menjelaskan kekalahan Yahudi di Khaibar, yaitu surat Al-Fath. Menjelaskan kekalahan Yahudi di seluruh front pertempuran bila melakukan kezaliman, yaitu surat Al-Isra.

Yahudi itu hidup berkelompok. Kekalahan Yahudi Bani Nadhir di surat Al-Hasyr, menandakan bila berperang dengan mengandalkan satu komunitas Yahudi, maka akan kalah. Sedangkan kekalahan di Khaibar, menandakan, bila Yahudi dari seluruh dunia berkumpul dalam satu tempat, seperti menjajah Palestina, dengan bahu membahu menyatukan kekuatannya, maka akan tetap terkalahkan dengan menyakitkan.

Oleh sebab itu, para faksi perlawanan Palestina, sering bersyair tentang kekalahan Yahudi di Khaibar untuk menggelorakan semangat rakyat Palestina dan menciutkan nyali penjajah Israel akan fakta sejarah bahwa apapun kekuatan penjajah Israel akan tetap terkalahkan.

Takdir Yahudi yang zalim itu hanya 4 (empat). Pertama, Allah hanya memberikan 2 (dua) kesempatan pengrusakan dalam seluruh rentang kehidupannya. Ini bentuk penjagaan Allah atas kemanusiaan manusia dan alam semesta dari kehancuran.

Kedua, terusir dari tempat tinggalnya.  Ketiga, Allah memasukan ketakutan ke dalam hatinya sehingga mereka merobohkan benteng-benteng dan rumahnya sendiri. Keempat, diazab. Itulah akhir kezaliman Yahudi.

Waspadai! Dongeng Palsu dan Israiliyat dalam Sejarah Penciptaan Langit dan Bumi Kisah Israiliyat tentang Ikan Lutsa  Sebagian be...


Waspadai! Dongeng Palsu dan Israiliyat dalam Sejarah Penciptaan Langit dan Bumi



Kisah Israiliyat tentang Ikan Lutsa 

Sebagian besar kalangan ahli tafsir bil ma'tsur, termasuk juga para ahli tafsir birra'yi meriwayatkan cerita aneh dalam kisah penciptaan langit dan bumi. Di antaranya, diriwayatkan Ath-Thabari dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Makhluk pertama yang diciptakan Allah swt adalah pena, Allah swt berfirman, "Tulislah!" Pena bertanya, "Apa yang aku tulis?" Allah swt berfirman, "Tulislah takdir!" Pena kemudian menulis apa yang akan terjadi sejak hari itu hingga hari kiamat terjadi.

Setelah itu, Allah swt menciptakan ikan, mengangkat air, lalu darinya Allah swt menciptakan langit. Bumi kemudian dibentangkan di atas punggung ikan. Ikan kemudian bergerak-gerak, lalu bumi membentang luas. Bumi kemudian dikuatkan dengan gunung-gunung, dan gunung membanggakan dirinya terhadap bumi."

Mujahid menafsirkan "nun" sebagai ikan yang ada dibawah bumi seperti disebutkan dalam riwayat di atas.

Ka'ab berkata, "Nama ikan itu adalah Lutsutsa." Dia juga menyebut Balhmutsa."

Dari Murrah al-Handani, dari Ibnu   Mas'ud dan sejumlah sahabat Rasulullah saw terkait firman Allah swt, "Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit." (Al-Baqarah: 29)

Ibnu Abbas berkata, "Arasy Allah berada di atas air. Allah tidak menciptakan apa pun selain yang Dia ciptakan sebelum menciptakan air, lalu asap membumbumg di atas air hingga tinggi, sehingga Allah menyebutnya langit. Setelah itu air mengering, lalu Allah menjadikannya satu bumi. Setelah itu, Allah swt memisahkannya, lalu menjadikannya tujuh bumi dalam dua hari, hari ahad dan senin.

Allah swt kemudian menciptakan bumi di atas ikan. Ikan inilah yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an: "Nun, Demi pena." 

Ikan berada di air. Air berada di atas batu. Batu berada di punggung malaikat. Malaikat berada di atas bongkahan batu besar berada di angin. Inilah batu yang disebutkan oleh Luqman, batu tersebut tidak berada di langit dan tidak pula berada di bumi.

Ikan kemudian bergerak-gerak hingga mengguncang bumi. Allah swt kemudian memperkokoh bumi di atasnya dengan gunung-gunung, hingga bumi menjadi tenang. Lalu, gunung-gunung membanggakan dirinya atas bumi. Itulah Allah swt berfirman, "Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia tidak guncang bersama mereka." (Al-Anbiya: 31)

Allah swt kemudian menciptakan gunung-gunung di bumi, menciptakan makanan untuk para penghuni bumi, menciptakan pepohonan bumi, dan apa saja yang patut untuk bumi dalam waktu dua hari, Selasa dan Rabu.

Itulah firman-Nya, 
Katakanlah, “Pantaskah kamu mengingkari Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan semesta alam.”
(Fuṣṣilat [41]:9)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

Dia ciptakan pada (bumi) itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya, lalu Dia memberkahi dan menentukan makanan-makanan (bagi penghuni)-nya dalam empat masa yang cukup untuk (kebutuhan) mereka yang memerlukannya.
(Fuṣṣilat [41]:10)

Asap itu muncul dari nafas air, saat mengeluarkan nafas. Setelah itu Allah menjadikan asap itu menjadi satu langit. Lalu Allah swt memisahkannya, kemudian menjadinya tujuh langit dalam waktu dua hari, Kamis dan Jumat.

Disebutkan Jumat, karena pada hari itu Allah swt menyatukan penciptaan langit dan bumi, "Lalu, Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang paling dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang sebagai penjagaan (dari setan).669) Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."
(Fuṣṣilat [41]:12)

Ibnu Abbas berkata, "Allah swt menciptakan para malaikat di setiap langit, dan menciptakan makhluk yang ada di dalamnya, seperti lautan, gunung, suhu dingin, dan makhluk lainnya yang tidak Dia beritahukan kepada siapapun.

Setelah itu Allah swt menghiasi langit paling rendah dengan bintang-bintang, lalu menjadikannya hiasan dan penjaga yang melindunginya dari setan. Setelah usai menciptakan, Allah swt bersemayam di atas Arasy. 

Itulah ketika Dia berfirman, "
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ʻArasy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk pada perintah-Nya. Ingatlah! Hanya milik-Nyalah segala penciptaan dan urusan. Maha Berlimpah anugerah Allah, Tuhan semesta alam.
(Al-A‘rāf [7]:54)

Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih pada waktu malam dan siang dengan tidak henti-hentinya.
(Al-Anbiyā' [21]:20)

Namun, uniknya terkait riwayat ini, kitab-kitab tafsir metode bil ma'tsur menyebutkan riwayat ini hingga tidak ada satu pun di antara mereka yang ketinggalan.  Ini menunjukkan betapa berbahayanya kisah Israiliyat dan riwayat yang maudhu.

Beberapa catatan terkait dongeng ini:

1. Riwayat ini mirip sekali dengan kisah yang disebutkan dalam Kitab Kejadian (II/1-2). Kitab ini adalah salah satu kitab Taurat. 

2. Ibnu Abbas tidak ada sangkut pautnya dengan riwayat ini, karena rangkaian sanad riwayat ini adalah rangkaian sanad palsu oleh As-Suddi dan Abu Shalih.

3. Ibnu Mas'ud juga tidak ada sangkut pautnya dengan riwayat ini, karena perwayatannya dusta.

4. Dongeng dusta ini sebagaimana yang sama-sama kita ketahui, berseberangan dengan nash syariat, karena Allah swt berfirman,
"Sesungguhnya Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."
(Fāṭir [35]:41)

5. Terkait ikan bernama Lutsa, ikan ini sendiri merupakan kebohongan yang sama sekali tidak disebutkan dalam satu nash pun, tidak dinyatakan seorang sahabat pun, tidak dibuktikan oleh ilmu. Kuat dugaan ini, segaja ditambahkan oleh kaum Zindiq untuk menyita perhatian agar menjauhkan muslimin dari aqidah dan pemahaman yang benar.


2. Ragam Dongeng  Dusta Lainnya

Abu Nu'aim meriwayatkan dari Kaab Al-Ahbar, bahwa Iblis masuk ke dalam tubuh ikan yang bumi berada dipunggungnya. Iblis kemudian berbisik ke dalam  hati ikan. Iblis berkata, "Tahukah kamu, wahai Lutsa (Ikan), aia saja umat, pepohonan, hewan, manusia, dan gunung yang ada di atas punggungmu? Andai kamu mengibaskan mereka, tentu kamu membuat mereka semua terlempar dari punggungmu."

Lutsa bermaksud melakukan hal itu. Allah swt kemudian mengirim hewan lalu masuk ke dalam hidungnya. Kemudian ikan berusaha menghalau hewan  tersebut dengan doa, hingga akhirnya hewan itu keluar.

Kaab berkata, "Demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, ikan melihat hewan itu dan hewan itu juga menatap ikan. Jika si ikan berniat mengibaskan bumi, hewan itu kembali masuk ke dalam hidungnya."

Wahab bin Munabih berkata, "Ketika Allah menciptakan bumi, bumi membentang di atas permukaan air. Allah swt kemudian berfirman kepada Jibril, "Kokohkan bumi ini wahai Jibril." Jibril pun kemudian turun lalu memegang bumi. Jibril tidak kuasa diterpa angin kencang, lalu ia berkata, "Ya Rabb! Engkau tahu, aku tidak kuasa." Allah swt kemudian meneguhkan bumi dengan gunung-gunung.

As-Suyuthi menyebutkan dalam Ad-Durr Al-Mantsur, dari Abusy Syaikh dari Salman Al-Farisi, ia berkata, "Langit paling rendah berupa zamrud hijau namanya Ruqaia. Langit kedua terbuat dari perak putih bernama Aqlun. Langit ketiga terbuat dari yaqut merah bernama Qaidun. Langit keempat terbuat dari mutiara putih bernama Ma'una. Langit kelima terbuat dari emas merah bernama Raiqa. Langit keenam terbuat dari yaqut kuning bernama Dafna. Dan langit ketujuh terbuat dari cahaya bernama Arabia."

Ath-Thabari meriwayatkan dari Rabi bin Anas, bahwa ia berkata, "Langit pertama berupa gelombang yang tertahan, langit kedua berupa bongkahan batu, langit ketiga berupa besi, langit keempat berupa perunggu, langit ke lima berupa perak, langit ke enam berupa emas, langit ke tujuh berupa yaqut."

Qatadah berkata, "Empat malaikat bertemu di ruang antara langit dan bumi, lalu mereka saling berbincang, "Darimana engkau datang?" Seorang malaikat berkata, "Rabbku mengutusku dari langit ketujuh dan aku meninggalkan-Nya disana." Yang lain menjawab, "Rabbku mengutusku dari barat dan aku meninggalkan-Nya di sana."

Seperti itulah keterangan palsu tentang ruang dan waktu bagi langit dan bumi. 

Tetapi, semuanya tidak ditemukan satu pun landasan dalilnya, baik dari Al-Qur’an atau pun As-Sunnah. Juga, tidak ditemukan teks yang menguatkan keterangan ini dalam warisan kisah Israiliyat.

Teks sahih terhadap peristiwa-peristiwa tersebut adalah firman Allah swt sebagai berikut,

Katakanlah, “Pantaskah kamu mengingkari Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan semesta alam.”
(Fuṣṣilat [41]:9)

Dia ciptakan pada (bumi) itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya, lalu Dia memberkahi dan menentukan makanan-makanan (bagi penghuni)-nya dalam empat masa yang cukup untuk (kebutuhan) mereka yang memerlukannya.
(Fuṣṣilat [41]:10)

Dia kemudian menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap. Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Tunduklah kepada-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami tunduk dengan patuh.”
(Fuṣṣilat [41]:11)

Lalu, Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang paling dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang sebagai penjagaan (dari setan). Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(Fuṣṣilat [41]:12)

Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan
(An-Naba' [78]:6)

dan gunung-gunung sebagai pasak?
(An-Naba' [78]:7)

Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.
(An-Naba' [78]:12)

Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).
(An-Naba' [78]:13)


Ini menunjukkan -seperti yang disebutkan Al-Bukhari dan Ibnu Abbas- bahwa bumi diciptakan Allah dalam dua hari, kemudian setelah itu Allah swt menciptakan langit, setelah itu Allah swt menuju ke langit lalu menyempurnakannya dalam dua  hari lainnya, setelah itu Allah swt menghamparkan bumi, mengeluarkan air dan rerumputan darinya, menciptakan gunung-gunung, perbukitan dan apa saja yang ada di antara keduanya dalam dua hari lainnya. Itulah firman Allah swt,

Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni).
(An-Nāzi‘āt [79]:30)

Langit diciptakan setelah bumi, seperti itu yang dinyatakan Ibnu Katsir, dia berkata, "Seperti itulah jawaban sejumlah ulama tafsir dulu dan sekarang."


Cerita yang Menakjubkan, Bermanfaatkah?

Riwayat-riwayat klasik tersebut tersebar dalam kitab tafsir, ada kisah yang kerap memancing rasa takjub dan sekaligus tanda tanya: bumi disebut berdiri di atas seekor ikan raksasa bernama Lutsa (atau Balhmutsa), yang berenang di lautan purba di bawah Arasy Allah. Cerita ini muncul dalam sejumlah kitab tafsir bil ma’tsur seperti karya Ath-Thabari dan As-Suyuthi, bahkan juga disinggung oleh sebagian ahli tafsir bir-ra’yi. Namun, para ulama belakangan menegaskan, kisah itu lebih dekat pada dongeng Israiliyat daripada kebenaran wahyu.

Awal Riwayat: Dari Pena ke Ikan Lutsa

Ath-Thabari meriwayatkan dari jalur Ibnu Abbas bahwa makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah pena. Allah berfirman kepadanya, “Tulislah!” dan pena pun menulis takdir hingga Hari Kiamat. Setelah itu, disebutkan bahwa Allah menciptakan air, lalu ikan, dan menjadikan bumi di atas punggung ikan itu. Ketika ikan bergerak, bumi berguncang, hingga Allah meneguhkannya dengan gunung-gunung. Mujahid bahkan menafsirkan kata “Nun” dalam surah Al-Qalam sebagai nama ikan tersebut.

Riwayat ini kemudian berkembang melalui periwayatan Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabbih—dua tokoh yang dikenal sebagai perantara kisah-kisah Bani Israil yang masuk ke dalam literatur Islam awal. Di sinilah nama ikan Lutsa muncul pertama kali, diikuti deskripsi fantastis: di bawah ikan ada air, di bawah air ada batu, di bawah batu ada malaikat, dan di bawah malaikat ada tiupan angin besar yang menahan semuanya.

Jejak Kitab Kejadian dan Bayang-bayang Israiliyat

Para peneliti tafsir modern menemukan kesamaan mencolok antara kisah ini dan narasi dalam Kitab Kejadian (Genesis) dalam Taurat. Dalam kitab itu, bumi juga digambarkan mengapung di atas air, sedangkan langit diciptakan dari “asap” yang naik dari samudra purba. Kesamaan ini membuat para ulama menilai, riwayat tentang ikan Lutsa kemungkinan besar merupakan pengaruh dari tradisi Yahudi kuno yang kemudian disisipkan dalam riwayat-riwayat tafsir awal.

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menolak kisah tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun dalil sahih dari Rasulullah ﷺ maupun sahabat yang menjelaskan bentuk penciptaan semacam itu. Ia menulis, “Allah telah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap, dan tidak ada seorang pun selain-Nya yang mampu menahannya.” (merujuk pada QS. Fathir: 41).

Begitu pula, Ibnu Taimiyah menilai riwayat semacam ini sebagai bentuk tadakhul Israiliyat — penyusupan kisah non-syar’i yang masuk melalui perawi dari kalangan ahli kitab yang telah masuk Islam.

Rangkaian Dongeng Lain yang Mewarnai Tafsir

Kisah ikan Lutsa hanyalah satu dari banyak riwayat aneh dalam tafsir klasik. Ada pula versi lain yang diriwayatkan Abu Nu’aim dari Ka’ab al-Ahbar: bahwa iblis masuk ke dalam tubuh ikan itu dan berbisik agar ikan mengguncang bumi untuk menumpahkan makhluk di atasnya. Ketika ikan hendak melakukannya, Allah mengirim hewan kecil yang masuk ke hidungnya hingga ia berhenti. Cerita-cerita semacam ini menampilkan drama kosmis yang menarik, namun tak memiliki pijakan dalam wahyu.

As-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsur bahkan menyebut rincian langit tujuh lapis dengan bahan yang berbeda-beda — dari zamrud, perak, hingga cahaya — yang jelas tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Begitu pula dengan riwayat tentang malaikat yang berpindah tempat dari barat ke langit ketujuh dan menemukan “Rabb di sana”, yang ditolak keras oleh para ahli aqidah karena mengandung pemahaman tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk).

Koreksi Para Mufassir dan Ulama Akidah

Ulama besar seperti Al-Bukhari, Ibnu Katsir, As-Sa’di, dan Sayyid Qutb bersepakat bahwa Al-Qur’an hanya menjelaskan penciptaan langit dan bumi dalam kerangka waktu enam masa, tanpa menyinggung unsur fantastik apa pun. Mereka mengutip ayat-ayat seperti QS. Fushshilat (9–12) dan QS. An-Nazi’at (27–33), yang menegaskan bahwa bumi diciptakan dalam dua masa, langit dalam dua masa, dan penyempurnaannya dalam dua masa berikutnya — total enam masa.

Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an menulis,

“Hari-hari itu adalah di antara hari-hari Allah yang hanya Dia yang mengetahui panjang dan hakikatnya. Tidak layak bagi manusia menafsirkan dengan ukuran waktu dunia.”

Pernyataan ini menjadi dasar pandangan modern bahwa urutan penciptaan tidak harus dimaknai secara materialistik, melainkan dalam dimensi kehendak dan ketetapan ilahi yang melampaui ruang dan waktu.

Dari Kisah ke Akidah: Pelajaran Penting

Banyak mufassir modern mengingatkan, bahaya terbesar dari kisah Israiliyat bukanlah pada bentuk ceritanya, melainkan pada pengaruhnya terhadap akidah. Jika umat menerima dongeng-dongeng itu sebagai kebenaran wahyu, maka pemahaman tauhid menjadi kabur, dan keagungan Allah bisa tereduksi oleh imajinasi makhluk.

Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an:

 “Sesungguhnya Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap. Jika keduanya lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya selain Dia.” (QS. Fathir: 41)

Ayat ini menutup seluruh perdebatan — bahwa kekuasaan Allah atas alam semesta tidak bertumpu pada ikan, gunung, atau makhluk apa pun. Langit dan bumi tegak bukan karena struktur fisik, melainkan karena kehendak dan ketetapan-Nya.


---

Refleksi: Menyaring Antara Wahyu dan Dongeng

Riwayat Israiliyat memang bagian dari sejarah penulisan tafsir Islam, terutama di masa awal ketika banyak mualaf dari kalangan Yahudi masuk Islam. Mereka membawa pengetahuan kitab terdahulu dan kadang menyampaikannya dengan semangat berbagi. Namun, tidak semua yang dibawa mereka dapat diterima sebagai kebenaran syar’i.

Karena itu, kewaspadaan terhadap kisah-kisah palsu dalam tafsir bukanlah bentuk menolak tradisi klasik, melainkan upaya menjaga kemurnian wahyu. Sebab, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Cukup seseorang berdusta jika ia menceritakan setiap hal yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Dan di tengah banjir informasi religius hari ini, peringatan itu menjadi semakin relevan. Karena di antara kebenaran wahyu dan daya tarik kisah, manusia sering kali lebih terpikat pada dongeng yang menawan daripada pada kebenaran yang menegakkan iman.


--------


Evolusi Penafsiran Penciptaan Langit dan Bumi dalam Tradisi Tafsir Islam

Sejarah tafsir Islam tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia tumbuh di tengah arus pengetahuan, perjumpaan peradaban, dan gelombang pemikiran teologis yang berbeda-beda. Dalam isu penciptaan langit dan bumi, jejak itu terlihat jelas: dari tafsir klasik yang kental dengan riwayat Israiliyat, hingga tafsir modern yang menempatkan wahyu dalam horizon ilmiah dan spiritual.

Ath-Thabari dan Era Riwayat yang Melimpah

Abad ke-3 Hijriah menandai masa penyusunan besar-besaran tafsir berbasis riwayat (tafsir bil ma’tsur). Tokohnya yang paling monumental adalah Imam Muhammad bin Jarir Ath-Thabari (w. 310 H), penulis Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an.

Ath-Thabari dikenal sangat teliti dalam menyusun sanad riwayat, tetapi ia tidak selalu menyaring validitas isinya. Ia mencatat semua versi penjelasan ayat, baik yang kuat maupun yang lemah, lalu menyerahkan penilaian akhir kepada pembaca dan ulama sesudahnya.

Dalam tafsir surah Al-Qalam (68): 1 — “Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis” — beliau mencantumkan kisah ikan raksasa yang memikul bumi, tanpa memberikan keputusan akhir apakah kisah itu sahih atau tidak. Inilah cermin dari semangat ilmiah pada zamannya: menghimpun sebanyak mungkin sumber, meski sebagian berakar pada tradisi Yahudi-Kristen.

Namun di balik itu, tafsir Ath-Thabari tetap menjadi tonggak metodologis, karena ia memisahkan antara riwayat dari Nabi ﷺ, sahabat, tabi’in, dan pendapat pribadinya. Dengan cara itu, Ath-Thabari sebenarnya sedang membangun fondasi kritik tafsir, meski bentuknya belum seperti kritik sanad dalam ilmu hadits.

Ibn Katsir dan Upaya Penjernihan Aqidah

Tiga abad kemudian, muncul seorang ulama besar dari Syam: Ismail bin Umar Ibn Katsir (w. 774 H). Melalui karyanya Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, ia menata ulang pendekatan tafsir dengan semangat tashfiyah (pemurnian).

Ibn Katsir menolak kisah-kisah yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan Sunnah, termasuk cerita penciptaan bumi di atas ikan. Ia menegaskan bahwa “Israiliyat hanya boleh diriwayatkan untuk diketahui, bukan untuk diyakini.”

Menurutnya, Al-Qur’an sudah cukup menjelaskan secara tegas proses penciptaan langit dan bumi:

“Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy.” (QS. Al-A’raf [7]:54)

Bagi Ibn Katsir, enam masa tersebut bukan hitungan hari dunia, tetapi fase-fase kehendak Allah dalam mencipta, mengatur, dan menyempurnakan makhluk. Tidak ada ruang bagi kisah-kisah mitologis di dalamnya.

Al-Suyuthi dan Tradisi Kompilasi Ulama Mesir

Memasuki abad ke-9 H, Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H) menulis Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur. Ia berusaha mengumpulkan seluruh riwayat tafsir dari berbagai sumber, termasuk Israiliyat.

Meskipun dikritik karena memuat kisah-kisah fantastik seperti tujuh langit yang tersusun dari logam mulia dan batu permata, niat As-Suyuthi sebenarnya adalah dokumentatif. Ia ingin menyelamatkan warisan tafsir klasik dari kepunahan, bukan meneguhkan kebenarannya. Dalam pengantar kitabnya, ia menulis, “Aku kumpulkan semua riwayat agar ulama setelahku bisa menimbangnya.”

Namun, di masa-masa inilah tafsir Islam mulai berinteraksi dengan logika kosmologi Yunani dan doktrin Neoplatonis. Alam semesta mulai dibahas dengan bahasa “lapisan-lapisan” dan “unsur-unsur”, bukan semata wahyu. Di sinilah garis antara tafsir dan filsafat mulai kabur.

Era Modern: Sayyid Qutb dan Tafsir Saintifik-Spiritual

Lompatan besar terjadi di abad ke-20, ketika Sayyid Qutb (w. 1966 M) menulis Fi Zhilal al-Qur’an. Dalam menafsirkan ayat-ayat penciptaan, Qutb tidak lagi berbicara tentang bentuk atau susunan langit dan bumi, melainkan tentang makna keberadaan.

Baginya, proses penciptaan adalah simbol kehendak Allah yang terus berlangsung. Alam bukanlah sekadar ciptaan yang selesai, tetapi tajalli (manifestasi terus-menerus) dari sifat Al-Khaliq (Sang Pencipta). Ia menulis:

“Hari-hari penciptaan adalah hari-hari Allah. Panjangnya tidak diketahui manusia. Namun, ia menunjukkan kesinambungan kehendak Allah dalam menata kosmos dan kehidupan.”

Pemikiran Qutb membuka jalan bagi generasi tafsir modern yang lebih ilmiah dan spiritual. Di masa kini, mufassir seperti Syaikh Sa’id Hawwa, Fakhruddin ar-Razi, hingga Wahbah az-Zuhaili menggabungkan pendekatan tafsir klasik dengan pengetahuan astronomi modern — tanpa menabrak makna nash.

Mereka melihat bahwa langit dan bumi bukan benda statis, melainkan sistem yang tunduk pada hukum ilahi yang disebut sunnatullah. Dan di sinilah Al-Qur’an tampil sebagai kitab yang hidup: tidak menjelaskan rincian teknis penciptaan, tetapi mengajak manusia berpikir tentang hikmah di baliknya.

Dari Mitos ke Makna

Kini, di tengah kebangkitan spiritual dan sains, umat Islam dihadapkan pada pilihan: apakah hendak mempertahankan kisah dongeng yang mengundang decak kagum tapi melemahkan akidah, atau kembali kepada keindahan tauhid yang diajarkan Al-Qur’an?

Para ulama sepakat, tugas umat bukan membongkar rahasia penciptaan secara fisik, melainkan memahami pesan moralnya: bahwa semua yang ada tunduk kepada kehendak Allah, dan manusia hanyalah khalifah yang dititipi bumi untuk dijaga.

Syaikh As-Sa’di dalam Tafsir al-Karim ar-Rahman menulis:

 “Allah menciptakan langit dan bumi bukan main-main. Ia ciptakan dengan hikmah, agar manusia mengenal-Nya melalui ciptaan-Nya.”


---

Penutup: Menyaring dengan Hati yang Beriman

Dari Ath-Thabari hingga Sayyid Qutb, dari riwayat Lutsa hingga makna tajalli, perjalanan tafsir Islam menunjukkan evolusi pemahaman dari bentuk menuju makna, dari kisah menuju kesadaran tauhid.

Dan mungkin, inilah pelajaran paling berharga: bahwa setiap zaman memiliki caranya sendiri dalam membaca wahyu. Namun, yang harus tetap sama adalah rasa tunduk dan hormat kepada Sang Pencipta.

 “Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan kebenaran dan waktu yang telah ditentukan.”
(QS. Al-Ahqaf [46]: 3)

Tidak Miskin dengan Prinsip Keuangan Ini? Jalan Keuangan yang Tidak Mati Hidup manusia sering terjebak antara dua kutub: mengeja...


Tidak Miskin dengan Prinsip Keuangan Ini?



Jalan Keuangan yang Tidak Mati

Hidup manusia sering terjebak antara dua kutub: mengejar dunia sampai lupa akhirat, atau meninggalkan dunia dengan dalih memburu akhirat. Padahal, Sayyid Qutb mengingatkan bahwa Islam bukanlah agama yang memutuskan dunia dari langit, melainkan menenun keduanya menjadi satu kesatuan. Maka, dalam setiap nafas ibadah, dalam setiap rupiah yang keluar dan masuk, ada ruh ketuhanan yang mengikatnya.

Pertanyaan kita: Bisakah seorang Muslim mengelola uangnya tanpa miskin—bukan sekadar kaya materi, tapi kaya makna? Jawabannya ada dalam tujuh karakter ajaran Islam yang ditawarkan Sayyid Qutb. Mari kita lihat satu per satu, sambil menimbang bagaimana prinsip ini bekerja dalam keuangan rumah tangga, bisnis, hingga masyarakat.


---

1. Rabbaniyah – Semua Berawal dari Allah

Islam adalah agama yang rabbaniyah, bersumber langsung dari Allah, bukan dari rekayasa manusia. Karena itu, harta yang kita miliki hakikatnya bukan milik kita, melainkan titipan-Nya.

> “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” (QS. Al-Hadid: 7)



Prinsip ini memengaruhi cara kita memandang uang. Ia bukan sekadar angka dalam rekening, tapi amanah ilahi. Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq pernah memberikan seluruh hartanya untuk dakwah, sementara Umar bin Khattab memberikan setengah dari hartanya. Bagi mereka, harta adalah alat menuju Allah, bukan tujuan akhir.

Rabi’ah al-Adawiyah menolak hadiah emas yang ditawarkan seorang dermawan. Katanya, “Aku malu menerima perhiasan dunia dari selain Dia, padahal Dia-lah Pemiliknya.” Inilah ruh rabbaniyah—tidak meletakkan harta di hati, melainkan di genggaman.

Dalam keuangan kontemporer, prinsip ini setara dengan value-based finance: mengelola uang berdasarkan nilai spiritual, bukan sekadar rasionalitas angka. Banyak konsultan keuangan menekankan bahwa “mindset” adalah fondasi cash flow yang sehat. Mindset rabbaniyah membuat kita sadar bahwa setiap pengeluaran dan pemasukan harus punya arah: mendekatkan diri kepada Allah.


---

2. Insaniyah – Untuk Kemanusiaan

Islam tidak diturunkan untuk malaikat, tetapi untuk manusia. Karena itu ajarannya insaniyah—memuliakan manusia, menolak penindasan, dan menjaga keseimbangan hidup.

> “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)



Dalam praktik keuangan, prinsip insaniyah melarang eksploitasi, riba, dan monopoli. Umar bin Khattab melarang pedagang menimbun barang untuk menaikkan harga. Abdurrahman bin Auf—sahabat yang dikenal kaya raya—membagikan keuntungan dagangnya untuk membebaskan budak dan membantu fakir miskin.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menolak warisan yang diperoleh dari sumber haram. Ia lebih memilih hidup sederhana ketimbang membiayai hidupnya dengan uang yang menzalimi orang lain.

Konsep ini sejalan dengan social finance atau keuangan inklusif—bagaimana uang dikelola bukan hanya untuk profit, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat. Prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) dalam bisnis global sejatinya adalah gema dari nilai insaniyah yang telah lebih dahulu diajarkan Islam.


---

3. Syumuliyah – Menyeluruh, Tidak Terpisah

Islam adalah sistem yang syumuliyah: mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada sekat antara ibadah dan ekonomi, antara masjid dan pasar.

> “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)…” (QS. Al-Baqarah: 208)



Para sahabat Nabi tidak hanya ahli ibadah, tetapi juga pedagang, pemimpin, dan pengatur keuangan. Utsman bin Affan dikenal sebagai dermawan yang membiayai ekspansi Islam dengan kapal-kapal dagangnya.

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa mencari nafkah halal dengan niat memberi nafkah keluarga sama pahalanya dengan jihad. Inilah gambaran syumuliyah: aktivitas ekonomi adalah ibadah.

Dalam manajemen keuangan pribadi, prinsip syumuliyah menuntut integrasi. Anggaran keluarga bukan hanya mencatat biaya makan atau sekolah, tetapi juga zakat, infak, dan dana sosial. Dalam dunia bisnis, ini berarti tidak memisahkan corporate governance dari etika spiritual.


---

4. Wasathiyah – Keseimbangan

Islam mengajarkan wasathiyah: tidak boros, tidak kikir, tidak materialistis, tapi juga tidak asketis berlebihan.

> “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)



Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Harta itu laksana ular: lembut disentuh, tapi beracun di dalam. Gunakan dengan hati-hati.” Ia mencontohkan keseimbangan: hidup sederhana, tapi tidak miskin karena menolak dunia.

Hasan al-Bashri menasihati muridnya agar tidak memusuhi dunia secara mutlak. Dunia adalah ladang akhirat; yang salah adalah keterikatan hati yang berlebihan.

Konsep ini serupa dengan financial balance—menyeimbangkan konsumsi, tabungan, investasi, dan sedekah. Konsultan keuangan seperti Dave Ramsey menyarankan 50-30-20 rule (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan/investasi). Prinsip ini sudah diajarkan Al-Qur’an sejak 14 abad lalu.


---

5. Waqi’iyah – Realistis dan Praktis

Islam bukan utopia, melainkan waqi’iyah—realistis. Ia memperhitungkan kelemahan manusia. Tidak semua orang wajib sedekah besar; yang penting sesuai kemampuan.

> “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)



Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan kepraktisan ini. Saat seorang sahabat ingin menyedekahkan seluruh hartanya, beliau melarang: “Tinggalkanlah ahli warismu dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada meninggalkan mereka miskin dan meminta-minta.”

Imam Malik menolak gaya zuhud ekstrem yang mengabaikan kebutuhan keluarga. Menurutnya, keadilan terhadap keluarga juga bagian dari ibadah.

Prinsip ini sejalan dengan cash flow management: membuat anggaran sesuai realitas, bukan fantasi. Banyak keluarga bangkrut bukan karena miskin, tapi karena pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Waqi’iyah mengingatkan: realistis itu kunci.


---

6. Istiqamah wa al-Tsabat – Konsisten dan Teguh

Islam menuntut konsistensi: istiqamah dalam prinsip, meski dunia berubah.

> “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13)



Abu Bakar tetap istiqamah menjaga amanah umat, meski ditentang ketika memerangi kaum murtad yang enggan membayar zakat. Ia tidak kompromi dengan sistem batil.

Jalaluddin Rumi menulis, “Istiqamah lebih mulia daripada seribu karamah.” Konsistensi dalam hal-hal sederhana—seperti menahan diri dari boros—lebih berharga daripada kejadian luar biasa.

Dalam keuangan, istiqamah berarti disiplin. Orang kaya bukan yang berpenghasilan besar, melainkan yang konsisten menabung, berinvestasi, dan bersedekah. Warren Buffett menyebut kunci kekayaan adalah consistency over intensity: konsisten dalam jangka panjang lebih kuat daripada usaha sesaat.


---

7. Harakah – Dinamis dan Revolusioner

Islam adalah agama harakah—bergerak, dinamis, dan mendorong perubahan sosial.

> “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)



Rasulullah ﷺ tidak hanya berdakwah di masjid, tetapi juga membangun pasar Madinah untuk membebaskan umat dari monopoli Yahudi. Pasar ini bukan hanya ruang dagang, tapi simbol revolusi ekonomi Islam.

Abdurrahman bin Auf hijrah ke Madinah tanpa harta, tapi ia bangkit dengan kerja keras, jujur, dan profesional. Dalam waktu singkat, ia menjadi konglomerat tanpa meninggalkan keshalihan.

Prinsip ini sejalan dengan financial growth mindset: melihat uang sebagai sarana berkembang, bukan hanya bertahan hidup. Dinamika ekonomi digital, investasi halal, hingga wirausaha sosial adalah bentuk harakah dalam keuangan modern.


---

Kaya Tanpa Takut Miskin

Sayyid Qutb mengajarkan bahwa Islam bukan teori di atas kertas, melainkan jalan hidup. Rabbaniyah, insaniyah, syumuliyah, wasathiyah, waqi’iyah, istiqamah, dan harakah—tujuh karakter ini bukan sekadar konsep, melainkan peta jalan untuk hidup kaya secara makna.

Kaya bukan berarti tidak pernah kekurangan, tetapi hidup dengan prinsip yang membuat harta tidak menjadi tuan atas diri kita. Sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib: “Kekayaan sejati adalah hati yang qana’ah.”

Maka, pertanyaan “Tidak miskin dengan prinsip keuangan ini?” bukanlah janji kekayaan instan, melainkan ajakan untuk menapaki jalan Islam secara kaffah. Sebab, siapa yang berjalan bersama nilai ilahi, ia tidak akan miskin—baik di dunia, apalagi di akhirat.

Mengelola Cash Flow agar Kaya dengan Prinsip Hukum Taklîf Fiqh Ketika Uang Menjadi Pertanyaan Iman Pernahkah kita merasa uang da...

Mengelola Cash Flow agar Kaya dengan Prinsip Hukum Taklîf Fiqh

Ketika Uang Menjadi Pertanyaan Iman

Pernahkah kita merasa uang datang dan pergi seperti bayangan? Hari ini gaji masuk, esok lusa entah ke mana ia mengalir. Kita pun duduk merenung, bertanya dalam hati: apakah aku sedang mengelola rezeki ataukah justru rezeki yang sedang mempermainkanku?

Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan persoalan iman. Sebab dalam Islam, harta bukan hanya angka dalam rekening, melainkan amanah dari Allah. Dan setiap amanah selalu menyertakan pertanggungjawaban.

Dalam ushul fiqh, konsep yang mengatur hubungan manusia dengan kewajiban dan larangan Allah disebut hukum taklîf. Jika biasanya hukum taklîf dibahas dalam bab ibadah, sesungguhnya ia juga dapat menjadi peta pengelolaan keuangan, baik di rumah tangga, di pasar, maupun dalam bisnis besar.


---

Apa Itu Hukum Taklîf?

Para ulama ushul fiqh mendefinisikan hukum taklîf sebagai:

> “Khithâbullâh al-muta‘alliq bi af‘âl al-mukallafîn bi thalab aw takhyîr aw wadh‘.”
(Firman Allah yang berkaitan dengan perbuatan hamba, berupa tuntutan, larangan, atau pilihan).



Imam Al-Amidi dalam Al-Ihkam menekankan bahwa taklîf adalah beban syariat yang diberikan kepada mukallaf (orang yang sudah baligh dan berakal). Imam Al-Juwayni dalam Al-Burhan menambahkan, taklîf adalah wujud kasih sayang Allah, sebab Allah tidak membebani kecuali dalam batas kemampuan.

Artinya, seluruh aktivitas manusia, termasuk menerima penghasilan dan mengeluarkan belanja, masuk dalam kerangka taklîf. Uang yang kita terima bisa halal atau haram; pengeluaran yang kita lakukan bisa wajib, sunnah, makruh, atau mubah. Dengan demikian, cash flow kita sehari-hari bukan sekadar catatan akuntansi, tetapi dokumen spiritual.


---

Rukun: Menyadari Bahwa Harta Milik Allah

Peta cash flow Islami dimulai dari rukun paling dasar: keyakinan bahwa harta adalah milik Allah, sementara manusia hanya pengelola.

Allah berfirman:

> “Berikanlah kepada mereka dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu.” (QS. An-Nur: 33)



Ayat ini menegaskan: harta yang ada di genggaman kita bukan benar-benar milik kita. Ia milik Allah, dan kita hanya penerima amanah. Kesadaran ini adalah fondasi spiritual dalam setiap keputusan keuangan.

Sahabat Abdurrahman bin Auf memberi teladan. Ketika hijrah ke Madinah, ia datang tanpa harta. Namun ia tahu rezeki datang dari Allah, maka ia berkata: “Tunjukkan aku di mana pasar.” Dari sinilah ia memulai, hingga menjadi saudagar besar, namun tetap dermawan. Ia tidak lupa bahwa hartanya adalah titipan, bukan kepemilikan absolut.

Tanpa rukun ini, cash flow hanya menjadi arus dingin angka-angka. Dengan rukun ini, setiap rupiah menjadi aliran ibadah.


---

Halal: Pintu Pertama Penerimaan

Dalam dunia modern, orang sering bertanya: “Berapa gajimu?” Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: “Halalkah gajimu?”

Allah berfirman:

> “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 168)



Halal adalah pintu masuk cash flow. Gaji, laba usaha, atau hadiah—semua harus melalui pintu ini. Jika pintu halal dilanggar, seluruh arus berikutnya tercemar.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ahmad).

Maka seorang muslim wajib memastikan sumber pendapatannya bersih: tidak dari riba, suap, atau korupsi. Sahabat Umar bin Khattab bahkan pernah mengembalikan hadiah manis yang diberikan pejabat, karena ia takut itu termasuk gratifikasi.


---

Wajib: Menunaikan Hak-Hak Harta

Dalam cash flow, ada pengeluaran yang statusnya wajib:

1. Zakat
Allah berfirman:

> “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)



Zakat adalah saluran wajib agar harta tetap bersih dan arus rezeki tidak tersumbat.


2. Nafkah keluarga
Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Dinar yang paling besar pahalanya adalah yang kamu nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim)



Nafkah bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan ibadah dengan pahala terbesar.


3. Pelunasan hutang
Rasulullah ﷺ sangat menekankan pelunasan hutang, bahkan pernah menolak menyolatkan jenazah yang masih berhutang, sampai hutangnya dilunasi.



Cash flow wajib ini ibarat pilar rumah. Tanpa menunaikan pilar ini, seluruh bangunan keuangan runtuh.


---

Sunnah: Mengalirkan Kebaikan Lebih Luas

Setelah kewajiban, cash flow sunnah membuka ruang pahala lebih besar.

Sedekah
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sedekah itu tidak mengurangi harta.” (HR. Muslim)

Sahabat Utsman bin Affan pernah membeli sumur dan mewakafkannya untuk penduduk Madinah. Inilah cash flow sunnah yang menyejukkan banyak orang.

Infak sosial
Membantu pembangunan masjid, sekolah, atau membantu tetangga adalah arus sunnah yang memperluas keberkahan.


Cash flow sunnah ini adalah rahasia kelapangan rezeki. Semakin banyak mengalir keluar, semakin deras pula aliran masuk dari jalan yang tak disangka.


---

Haram: Kanal Gelap yang Menutup Keberkahan

Haram adalah kanal yang harus ditutup rapat dalam cash flow.

Riba
Allah berfirman:

> “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)



Korupsi dan suap
Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap.” (HR. Ahmad).

Mubazir untuk maksiat
Allah berfirman:

> “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra: 27)




Jika cash flow kita dialirkan ke haram, maka ia ibarat sungai yang tercemar racun. Mengalir, tapi merusak kehidupan.


---

Makruh: Pengeluaran yang Melemahkan Jiwa

Ada pengeluaran yang tidak sampai haram, tapi dibenci (makruh).

Belanja berlebihan untuk kemewahan tak perlu.

Mengutamakan gaya hidup di atas kebutuhan riil.


Umar bin Khattab pernah menegur anaknya yang membeli daging dua hari berturut-turut. Katanya: “Apakah jika engkau ingin, engkau harus selalu membeli?” Baginya, makruh adalah celah menuju boros.

Dalam cash flow, makruh ibarat kebocoran kecil. Ia tidak merusak seketika, tapi perlahan mengikis kekuatan finansial.


---

Mubah: Ruang Kreativitas dan Kehidupan

Banyak bagian cash flow bersifat mubah: pilihan hidup sehari-hari. Makan yang halal, pakaian yang pantas, hiburan yang sehat, semua termasuk mubah.

Di sinilah ruang kreativitas bisnis modern. Asalkan bebas dari riba dan maksiat, inovasi keuangan termasuk mubah yang bernilai positif.

Robert Kiyosaki dengan cash flow quadrant-nya mengajarkan pentingnya mengalihkan penghasilan ke investasi. Dalam Islam, ini sejalan selama jalurnya halal dan adil.


---

Cash Flow Sahabat: Teladan Nyata

Abdurrahman bin Auf: mengelola bisnis halal, zakat besar, sedekah luas.

Utsman bin Affan: cash flow sunnah dengan wakaf sumur.

Umar bin Khattab: disiplin menghindari makruh.

Abu Bakar Ash-Shiddiq: seluruh hartanya dialirkan untuk perjuangan Nabi ﷺ.


Cash flow para sahabat adalah bukti bahwa kekayaan sejati bukan pada jumlah, tapi pada aliran yang sesuai syariat.


---

Perspektif Pakar Keuangan Modern

Peter Drucker: “What gets measured, gets managed.” Islam sudah lebih dulu mengajarkan pencatatan keuangan. Sahabat Rasul menulis kitabah (catatan hutang) sebagaimana QS. Al-Baqarah: 282.

Robert Kiyosaki: kaya bukan soal pendapatan tinggi, melainkan pengelolaan arus kas. Ini sejalan dengan prinsip taklîf: aliran harus dijaga dari haram, wajib disalurkan, sunnah diperluas.

Dave Ramsey: menekankan hidup tanpa hutang. Rasulullah ﷺ pun menekankan pelunasan hutang sebagai prioritas wajib.



---

Penutup: Kaya dengan Cash Flow Taklîf

Cash flow sejati bukan sekadar pemasukan lebih besar daripada pengeluaran. Kaya sejati adalah ketika aliran uang kita sejalan dengan peta taklîf:

Halal dalam penerimaan.

Wajib tertunaikan.

Sunnah diperbanyak.

Haram dihindari.

Makruh dijauhi.

Mubah dimanfaatkan bijak.


Dengan begitu, cash flow bukan hanya membawa kita ke kekayaan dunia, tapi juga mengantarkan pada kekayaan akhirat.

> Seorang mukmin yang bijak akan melihat setiap rupiah bukan sekadar uang, tetapi sebagai ayat ujian. Dan cash flow yang dikelola dengan hukum taklîf adalah sungai jernih yang mengalirkan kita menuju ridha Allah SWT.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (361) Al-Qur’an (6) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (7) Dakwah (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (2) Kecerdasan (263) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (2) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (3) Nusantara (249) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (568) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (263) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (6) Sirah Penguasa (243) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (160) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (21) Sirah Ulama (157) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)