India: Agama, Masyarakat, dan Akhlaknya Sebelum Era Islam
Para sejarawan berpendapat bahwa sejak pertengahan abad ke-6 M, India mengalami kemerosotan yang sangat dalam dalam bidang keagamaan, akhlak, dan kehidupan sosial. Dalam kurun waktu tersebut, pengaruh India bahkan turut menjalar ke negeri-negeri tetangganya di kawasan Asia dan, menurut gambaran para penulis yang dikutip dalam uraian ini, ikut memengaruhi kerusakan kehidupan masyarakat di wilayah tersebut.
India sendiri digambarkan telah terbenam dalam kegelapan. Gejala kemerosotan itu tampak setidaknya dalam tiga hal utama: pertama, berkembangnya keberhalaan dalam bentuk yang sangat ekstrem; kedua, merajalelanya pelampiasan nafsu seksual; dan ketiga, munculnya sistem kasta yang melahirkan diskriminasi sosial.
Ketiga gejala tersebut tidak berdiri sendiri. Keberhalaan memengaruhi cara pandang manusia terhadap kehidupan dan kesucian. Pelepasan kendali terhadap hawa nafsu merusak akhlak pribadi dan masyarakat. Sementara itu, sistem kasta menjadikan ketimpangan sosial seolah-olah memiliki legitimasi keagamaan. Dari sinilah kita dapat melihat gambaran kehidupan India pada masa tersebut secara lebih utuh.
Keberhalaan yang Ekstrem
Keberhalaan mencapai perkembangan yang sangat luas di India pada abad ke-6 M. Menurut sumber yang dikutip dalam uraian ini, jumlah tuhan yang dalam Weda disebut sebanyak tiga puluh tiga berkembang menjadi tiga ratus tiga puluh juta.
Jumlah benda, patung, tuhan, dan sesembahan lainnya pun digambarkan tidak lagi dapat dihitung. Hampir segala sesuatu yang menarik perhatian atau dianggap memiliki keindahan dan kekuatan dapat ditempatkan sebagai objek pemujaan. Tokoh-tokoh sejarah dan para pahlawan dipandang sebagai perwujudan kekuatan tertentu. Gunung-gunung dianggap sebagai penampilan para tuhan. Sungai Gangga, misalnya, dikaitkan dengan Mahadewa dan dianggap keluar dari kepalanya.
Bukan hanya alam. Benda-benda tambang seperti emas dan perak, alat-alat perang, alat-alat tulis, bahkan berbagai benda yang berkaitan dengan keturunan dan kesuburan turut dijadikan objek pemujaan. Binatang tertentu, terutama lembu, memperoleh kedudukan yang sangat tinggi. Berbagai benda dan fenomena kehidupan yang pada hakikatnya tidak memiliki kekuasaan apa pun diperlakukan sebagai sesuatu yang sakral dan disembah.
Akibatnya, agama bercampur dengan ketakhayulan, dongeng-dongeng kuno, nyanyian, dan berbagai kepercayaan khayal yang sulit diterima oleh akal sehat. Batas antara agama, mitos, dan kepercayaan rakyat pun semakin kabur.
Dalam suasana seperti itu, seni pembuatan patung berkembang dengan sangat pesat, terutama pada abad ke-6 dan ke-7 M, bahkan melampaui perkembangan pada masa sebelumnya. Penyembahan berhala bukan hanya dilakukan oleh rakyat biasa. Raja, para pangeran, pembesar, hingga masyarakat miskin turut mengambil bagian di dalamnya.
Bahkan, agama Budha dan berbagai agama lainnya, menurut gambaran sumber ini, tidak mampu melepaskan diri dari arus tersebut. Demi mempertahankan keberadaan dan penyebarannya, sebagian di antaranya turut menggunakan bentuk-bentuk pemujaan patung dan simbol-simbol keberhalaan.
Seberapa jauh pemujaan terhadap patung telah berkembang dapat dilihat dari kesaksian seorang pengembara Cina yang terkenal, Huan Suang, yang mengembara di India antara tahun 630–644 M. Ia menyaksikan keadaan India pada masa pemerintahan Raja Harsa, yang berkuasa antara tahun 606–647 M.
Ia menceritakan bahwa Raja Harsa menyelenggarakan suatu perayaan besar yang dihadiri oleh para pemuka berbagai agama yang ketika itu berpengaruh di India. Dalam perayaan tersebut, raja memancangkan sebuah patung Budha yang terbuat dari emas di atas sebuah menara setinggi lima puluh hasta.
Setelah itu, ia keluar membawa patung Budha lain yang berukuran lebih kecil dalam sebuah iring-iringan. Raja Harsa berdiri di samping patung tersebut sambil memegang payung, sedangkan raja lain yang menjadi sekutunya, Kamrub, mengipasinya agar tidak dihinggapi lalat.
Kesaksian tersebut memberikan gambaran mengenai kedudukan patung dalam kehidupan keagamaan dan bahkan dalam upacara kerajaan pada masa itu.
Huan Suang juga menggambarkan keadaan keluarga kerajaan dan para pembesar istana. Menurutnya, sebagian dari mereka merupakan penyembah Syiwa, sebagian lainnya mengikuti Budhisme. Ada yang menyembah matahari dan ada pula yang menyembah Wishnu. Masing-masing memiliki tuhan tertentu yang disembah secara pribadi ataupun beberapa tuhan yang dipuja secara bersama-sama.
Dengan demikian, keberhalaan bukan lagi sekadar praktik masyarakat awam. Ia telah masuk ke dalam kehidupan istana, upacara kerajaan, dan lingkungan para penguasa.
Selera Seksual yang Merajalela
Jika keberhalaan merupakan gejala pertama, maka gejala kedua adalah merajalelanya nafsu seksual dalam kehidupan keagamaan dan sosial.
Nafsu syahwat, menurut uraian ini, telah memiliki tempat yang sangat menonjol dalam Hinduisme dan masyarakat India sejak zaman kuno. Persoalan seksual bahkan digambarkan masuk begitu jauh ke dalam cerita-cerita keagamaan.
Berbagai kitab dan cerita keagamaan Hindu, ketika membicarakan sifat-sifat tuhan, peristiwa besar, ataupun persoalan alam semesta, sering kali disertai kisah tentang hubungan seksual dan pencampuran antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan oleh para tuhan. Bahkan terdapat kisah tentang tuhan-tuhan yang mendatangi keluarga-keluarga baik-baik untuk melakukan perbuatan yang dianggap sangat memalukan.
Cerita-cerita semacam itu tidak berhenti sebagai dongeng. Menurut sumber yang dikutip di sini, kisah-kisah tersebut dibaca dan diceritakan berulang-ulang sehingga memberikan pengaruh terhadap kehidupan keagamaan para pemeluknya.
Pengaruhnya semakin kuat ketika simbol-simbol seksual masuk ke dalam praktik pemujaan. Penggambaran alat kelamin Mahadewa, misalnya, menjadi bagian dari objek pemujaan dan dikerumuni oleh masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda.
Sejumlah penulis sejarah yang dikutip dalam uraian ini bahkan menggambarkan adanya kelompok keagamaan yang menyembah patung perempuan telanjang, sementara kaum wanitanya menyembah patung lelaki dalam keadaan telanjang.
Lebih buruk lagi, menurut kesaksian yang dikutip, praktik-praktik tersebut tidak hanya berlangsung di tengah masyarakat, tetapi juga masuk ke lingkungan kuil.
Para penjaga atau pengelola kuil digambarkan melakukan berbagai tindakan kejahatan terhadap perempuan yang datang beribadah. Kuil-kuil yang seharusnya menjadi tempat ibadah berubah menjadi tempat berlangsungnya kemaksiatan. Orang-orang jahat datang untuk mencari mangsa dan melampiaskan hawa nafsunya.
Jika tempat yang seharusnya menjadi pusat kesucian dan ibadah telah berubah menjadi tempat kemesuman, dapat dibayangkan bagaimana keadaan lingkungan istana para raja, pangeran, dan kaum hartawan.
Di lingkungan istana, para pembesar berlomba-lomba dalam kehidupan yang penuh kemewahan dan kemaksiatan. Pertemuan antara laki-laki dan perempuan dari kalangan bangsawan berlangsung dalam suasana pesta. Ketika minuman keras telah menguasai kesadaran mereka, rasa malu dan harga diri pun tersingkir. Tata krama dan sopan santun kehilangan tempat.
Dengan demikian, menurut gambaran sumber-sumber tersebut, India pada masa itu dilanda arus hawa nafsu yang semakin sulit dikendalikan. Kerusakan tersebut tidak hanya menyentuh individu, tetapi juga merembes ke dalam lembaga keagamaan, istana, dan kehidupan sosial.
Sistem Kasta yang Zalim
Namun, kerusakan kehidupan masyarakat India tidak berhenti pada persoalan agama dan akhlak. Di bidang sosial, muncul persoalan yang tidak kalah berat: sistem kasta.
Sepanjang sejarah, menurut uraian ini, hampir tidak ada sistem sosial yang memisahkan manusia berdasarkan kelahiran secara begitu ketat sebagaimana yang berkembang di India. Sistem tersebut tidak hanya menciptakan perbedaan pekerjaan dan kedudukan, tetapi juga melahirkan diskriminasi yang memperoleh pembenaran keagamaan.
Pengastaan masyarakat mulai berkembang sejak akhir zaman Weda. Salah satu faktor yang memperkuatnya adalah keinginan kelompok keturunan Aria untuk mempertahankan kedudukan, keistimewaan, dan pengaruh mereka.
Sekitar tiga abad sebelum kelahiran Al-Masih, peradaban Brahmanisme berkembang di India. Peradaban tersebut kemudian membentuk hubungan sosial dan aturan kehidupan sipil maupun politik yang berlaku luas. Ketentuan-ketentuan tersebut dikenal dengan nama Manusastra.
Manusastra membagi masyarakat menjadi empat kasta utama:
1. Brahmana, yaitu para pendeta dan pemuka agama.
2. Ksatria, yaitu para penguasa dan tokoh-tokoh peperangan.
3. Wesya, yaitu kaum petani dan pedagang.
4. Sudra, yaitu masyarakat awam dan kaum pekerja.
Pembagian tersebut tidak sekadar membedakan pekerjaan. Ia juga menentukan kedudukan seseorang dalam masyarakat sejak lahir.
Manu, sebagaimana dikutip dalam uraian ini, memberikan legitimasi keagamaan terhadap pembagian tersebut. Ia menyatakan bahwa Yang Mahakuasa menciptakan Brahmana dari mulut-Nya, Ksatria dari lengan-Nya, Wesya dari paha-Nya, dan Sudra dari kaki-Nya. Masing-masing kemudian diberi tugas yang berbeda.
Brahmana berkewajiban mengajarkan Weda, menyediakan sesaji kepada tuhan, dan menerima sedekah. Ksatria berkewajiban melindungi rakyat, bersedekah, menyediakan sesaji, mempelajari Weda, dan mengendalikan hawa nafsu. Wesya bertugas menggembala dan mengurus peternakan, berdagang, serta bercocok tanam. Adapun Sudra hanya diberi kewajiban melayani tiga kasta di atasnya.
Dengan demikian, pembagian sosial tersebut tidak hanya bersifat administratif. Ia disusun sebagai tatanan yang menempatkan manusia pada tingkat yang berbeda-beda berdasarkan kelahirannya.
Keistimewaan Kasta Brahmana
Kedudukan paling tinggi diberikan kepada kasta Brahmana. Manusastra memberikan berbagai hak istimewa kepada mereka dan menghubungkan kedudukan tersebut dengan kehendak tuhan.
Brahmana disebut sebagai manusia pilihan dan bahkan ditempatkan sebagai penguasa manusia. Apa yang terdapat di alam semesta dianggap sebagai milik mereka. Karena itu, mereka dipandang sebagai golongan yang paling utama dan sebagai penguasa di bumi.
Dalam ketentuan yang dikutip dari Manusastra, seorang Brahmana bahkan diperbolehkan mengambil harta milik hamba sahaya karena hamba sahaya dianggap tidak memiliki hak kepemilikan yang sempurna. Apa yang mereka miliki dipandang sebagai milik tuannya.
Keistimewaan tersebut juga tampak dalam persoalan hukum. Seorang Brahmana yang menghafal kitab suci Weda disebut memperoleh ampunan atas dosa-dosanya, bahkan apabila ia telah membunuh seseorang dari tiga kasta lainnya.
Seorang raja juga tidak diperbolehkan membebani orang-orang Brahmana dengan pajak ataupun meminta upeti dari mereka. Tidak boleh ada seorang Brahmana mati kelaparan di negerinya.
Bahkan, apabila seorang Brahmana melakukan perbuatan yang menurut hukum layak dijatuhi hukuman mati, hukuman mati tidak boleh dijatuhkan kepadanya. Hukuman yang diberikan cukup berupa pencukuran rambut kepala, sementara orang dari golongan lain dapat dikenai hukuman yang jauh lebih berat.
Adapun Ksatria, meskipun kedudukannya berada di atas Wesya dan Sudra, tetap ditempatkan jauh di bawah Brahmana. Manu bahkan mengatakan bahwa seorang Brahmana yang baru berusia sepuluh tahun berada di atas seorang Ksatria yang berusia lebih dari seratus tahun, sebagaimana seorang ayah berada di atas anaknya.
Dengan demikian, struktur sosial tersebut menempatkan Brahmana pada puncak hierarki, sedangkan kasta lainnya berada di bawahnya dengan tingkat kehormatan dan hak yang berbeda-beda.
Manusia yang Dipandang Paling Rendah dan Sengsara
Di dasar struktur tersebut terdapat kaum Sudra. Mereka dipandang sebagai golongan paling rendah dalam masyarakat India, baik menurut ketentuan sosial maupun keagamaan.
Menurut ketentuan Manusastra yang dikutip dalam uraian ini, melayani Brahmana merupakan kebahagiaan bagi seorang Sudra. Tanpa melakukan pelayanan tersebut, mereka dianggap tidak memperoleh pahala.
Mereka juga dibatasi dalam kepemilikan harta. Seorang Sudra tidak diperbolehkan menyimpan uang atau mengumpulkan kekayaan karena, menurut aturan yang dikutip, kekayaan tersebut dikhawatirkan mengganggu kedudukan Brahmana.
Hukuman yang berlaku bagi Sudra pun sangat berat dan berbeda dari hukuman bagi kasta yang lebih tinggi. Apabila seorang Sudra mengangkat tangan atau tongkat hendak memukul seorang Brahmana, tangannya harus dipotong. Jika ia menendang seorang Brahmana karena marah, kakinya harus dipuntir.
Apabila seorang Sudra berusaha bergaul dengan seorang Brahmana, ia dapat dikenai hukuman yang sangat kejam. Jika ia menyentuh tubuh seorang Brahmana, hukuman yang diberikan juga sangat berat. Bahkan, apabila ia berani memaki seorang Brahmana, ia dapat dikenai hukuman berupa pencabutan lidah.
Ketimpangan tersebut mencapai titik yang sangat ekstrem dalam persoalan nilai kehidupan. Denda atas pembunuhan seorang Sudra, sebagaimana dikutip dari ketentuan tersebut, disamakan dengan denda atas pembunuhan berbagai jenis binatang.
Dengan demikian, sistem kasta tidak hanya membedakan manusia berdasarkan pekerjaan atau kedudukan sosial. Ia menciptakan tingkatan nilai manusia berdasarkan kelahiran, memberikan hak istimewa kepada sebagian orang, dan merendahkan sebagian lainnya.
Kedudukan Wanita dalam Masyarakat Hindu
Di samping kaum Sudra, kelompok lain yang digambarkan mengalami kedudukan sosial yang sangat rendah adalah kaum wanita.
Dalam masyarakat Hindu yang digambarkan dalam sumber ini, wanita ditempatkan dalam posisi yang menyerupai hamba sahaya. Kedudukannya sangat bergantung kepada laki-laki dan lingkungan keluarganya.
Dalam sejumlah praktik yang disebutkan, seorang suami bahkan dapat mempertaruhkan istrinya dalam perjudian. Dalam keadaan tertentu, seorang wanita juga dapat memiliki beberapa suami.
Nasib seorang wanita menjadi lebih berat setelah suaminya meninggal. Ia dipandang seolah-olah kehilangan haknya untuk menjalani kehidupan yang normal. Ia tidak diperbolehkan menikah lagi dan dapat menjadi sasaran penghinaan serta celaan masyarakat.
Dalam kehidupan keluarga suaminya, ia diperlakukan seperti pelayan bagi keluarga dan mertuanya. Bahkan, dalam praktik tertentu yang dikenal kemudian sebagai sati, seorang wanita ikut membakar diri bersama jenazah suaminya.
Praktik tersebut memperlihatkan betapa beratnya tekanan sosial yang dapat dialami seorang wanita dalam sistem masyarakat tersebut.
Sebuah Peradaban yang Kehilangan Arah
Demikianlah gambaran India yang disajikan dalam uraian ini: sebuah negeri yang subur, kaya, dan memiliki tradisi pemikiran yang panjang. Bahkan, sebagian sejarawan Arab pada masa lalu menggambarkan bangsa India sebagai bangsa yang memiliki kearifan, keadilan, kebijaksanaan, cita-cita yang tinggi, dan pandangan hidup yang luhur.
Namun, dalam perspektif penulis yang menjadi sumber uraian ini, kekayaan intelektual dan potensi peradaban tersebut tidak mampu menyelamatkan masyarakat ketika agama kehilangan arah dan ketika sebagian tokoh agama mengubah-ubah ajaran serta membiarkan manusia mengikuti hawa nafsu.
Akibatnya, agama bercampur dengan keberhalaan dan ketakhayulan; kehidupan sosial terbelenggu oleh sistem kasta; hawa nafsu merusak akhlak; dan kelompok-kelompok yang berada di bawah hierarki sosial mengalami penindasan serta diskriminasi.
Dengan demikian, kemerosotan India pada masa tersebut tidak hanya dipahami sebagai kemunduran agama. Ia merupakan kemerosotan yang menjalar dari keyakinan ke dalam akhlak, dari akhlak ke dalam kehidupan keluarga, dan dari kehidupan keluarga ke dalam struktur masyarakat.
Inilah gambaran yang hendak ditegaskan oleh uraian ini: ketika agama kehilangan kemurnian tauhid dan manusia menjadikan hawa nafsu serta kepentingan golongan sebagai sumber nilai, kerusakan tidak berhenti pada kehidupan pribadi. Ia dapat menjelma menjadi sistem sosial, kebudayaan, dan bahkan tatanan kekuasaan.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif