Marilah Duduk Sesaat
Seorang juru dakwah yang beriman tidak pernah berjalan di jalan yang sunyi dari tarikan. Ia selalu berada di antara dua arus yang saling menarik jiwanya.
Di satu sisi, ada tarikan iman: niat yang jernih, semangat yang menyala, dan rasa tanggung jawab yang menuntunnya untuk beramal saleh serta bersegera dalam kebaikan. Tarikan ini mengajaknya bangkit, bergerak, dan memberi.
Namun di sisi lain, ada tarikan setan yang halus dan menipu. Dunia ditampakkan indah, kemalasan diberi wajah kenikmatan, angan-angan dipanjangkan tanpa ujung. Maka muncullah cinta dunia, kelalaian, kebiasaan menunda, kesenangan berkhayal, serta keengganan untuk mempelajari apa yang belum diketahui.
Keterombang-ambingan di antara dua tarikan ini bukanlah hal baru. Ia adalah kondisi yang senantiasa menyertai perjalanan manusia beriman, sejak dahulu hingga hari ini. Tidak ada yang benar-benar aman darinya.
Karena itulah, orang-orang mukmin diwajibkan untuk terus berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk berpikir. Bukan untuk melemah, tetapi untuk mengoreksi diri. Mereka diperintahkan untuk saling menasihati, merenungkan keadaan jiwa, dan menimbang ulang arah langkahnya.
Jangan-jangan hati telah disusupi kesombongan yang samar. Jangan-jangan semangat telah berubah menjadi ambisi. Jangan-jangan ilmu tercemari bid‘ah, atau perintah dan petunjuk Allah mulai diabaikan tanpa disadari.
Kepekaan semacam inilah yang diterjemahkan Mu‘adz bin Jabal dengan sebuah kalimat sederhana, namun mengguncang kesadaran. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya,
“Marilah kita duduk untuk beriman sesaat.”
Kalimat itu bukan ajakan untuk berhenti dari amal, melainkan undangan untuk menghidupkan kembali iman di tengah kesibukan.
Ucapan itu kemudian dihidupkan kembali oleh Ibnu Rawahah. Ia menggenggam tangan Abu Darda seraya berkata,
“Marilah kita beriman sesaat. Sesungguhnya hati itu berbolak-balik lebih cepat daripada air mendidih di dalam periuk.”
Dua kalimat ini diwariskan lintas generasi, bukan sekadar sebagai kata-kata, tetapi sebagai metode menjaga jiwa. Sebagai pengingat bahwa iman pun perlu dijaga, dirawat, dan diperbarui.
Maka kami pun mengambil kalimat itu dari mereka berdua, menjadikannya nasihat dalam memahami dakwah dan perjalanan para penyerunya.
Dengan kalimat itu pula kami menyeru setiap juru dakwah: duduklah sesaat. Ambillah waktu untuk merenung, memperbarui iman, dan mengoreksi diri—ilmu, niat, dan semangat. Sebab dakwah yang terus berjalan tanpa jeda perenungan, perlahan akan kehilangan kejernihan arah.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif