Tahun 9 Hijriah, seorang pemimpin suku dari Palestina datang ke Madinah menemui Rasulullah. Namanya Tamim ad-Dari. Ia baru masuk Islam dan meminta sesuatu yang tak biasa: tanah di kampung halamannya yang masih dikuasai Kekaisaran Romawi. Rasulullah tak ragu. Beliau menulis dokumen resmi di hadapan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali—empat khalifah agung sekaligus sebagai saksi. Isinya? Seluruh wilayah Hebron (Al-Khalil) berikut desa-desa di sekitarnya diwakafkan untuk Tamim dan keturunannya hingga hari kiamat [citation:7]. Di atas kertas, ini mustahil. Tapi 1.400 tahun kemudian, wakaf itu masih hidup, produktif, dan memberi makan jutaan manusia setiap tahunnya.
Tanah itu belum dikuasai Muslim saat Nabi menulis surat wakaf. Ini bukan hibah biasa; ini adalah janji dan mukjizat kenabian. Nabi Muhammad SAW, dengan izin Allah, mewakafkan tanah yang belum beliau miliki secara fisik—sebuah terobosan hukum yang mencengangkan. Maknanya: "Tanah ini akan terbebaskan dan akan menjadi wakaf abadi untuk umat." Ketika Umar bin Khattab menaklukkan Baitul Maqdis beberapa tahun kemudian, janji itu ia tepati. Surat Nabi dikeluarkan dari kantong sejarah, dan tanah Al-Khalil resmi menjadi wakaf pertama di Palestina atas nama Tamim ad-Dari.
Sekarang, bayangkan apa yang terjadi 14 abad kemudian. Al-Khalil adalah kota dengan Masjid Ibrahimi, tempat makam Nabi Ibrahim. Ratusan ribu peziarah datang setiap tahun. Dan siapa yang menyambut mereka? Keturunan Tamim ad-Dari masih tinggal di sana, memegang dokumen asli tulisan Nabi yang diwariskan turun-temurun. Mereka tidak menjual tanah itu, tidak menggadaikannya, tidak membaginya jadi kavling komersial. Mereka menjalankan amanah wakaf: dari hasil tanah itu, mereka mendirikan rumah tamu abadi (al-Dhiyafah) yang menyediakan makanan gratis bagi siapa pun yang singgah.
Al-Maqdisi, sejarawan geografi terkemuka abad ke-10, mencatat dalam kitabnya Ahsan al-Taqasim: "Di kota Al-Khalil, ada rumah tamu permanen yang memiliki tukang roti, juru masak, dan pelayan. Mereka menyajikan kacang lentil dengan minyak zaitun gratis bagi setiap peziarah dan pengembara yang melewati kota ini." Itu ditulis 1.000 tahun lalu. Dan tradisi itu TIDAK PERNAH BERHENTI sampai hari ini. Bayangkan: resep masakan yang sama, jenis minyak yang sama, niat yang sama, mengalir dari generasi ke generasi tanpa putus sejak Tamim ad-Dari menerima selembar kertas dari tangan Rasulullah.
Pada tahun 2025, tradisi itu masih hidup. Wakaf Tamim ad-Dari tidak hanya memberi makan puluhan ribu jamaah setiap musim haji dan Ramadhan, tetapi juga membiayai pemeliharaan Masjid Ibrahimi, membantu yatim-piatu di Tepi Barat, dan menjadi fondasi ekonomi masyarakat Palestina di Hebron. Bahkan di tengah konflik dan pendudukan, aset wakaf ini tidak pernah disita, tidak pernah dijual, tidak pernah berpindah tangan ke non-muslim. Karena sejak 1.400 tahun lalu, Umar bin Khattab sudah menetapkan: Tanah Palestina untuk muslim adalah wakaf majazi—boleh dimiliki dan diwariskan antar muslim, tapi HARAM hukumnya dijual kepada pihak asing. Ini adalah benteng ekonomi dan spiritual yang tak terlihat.
Coba renungkan: Selembar dokumen yang ditulis di atas kulit kambing di Madinah, disaksikan oleh para sahabat yang kelak menjadi khalifah, kini menjadi bukti sejarah sekaligus instrumen keadilan sosial tertua di dunia yang masih beroperasi. Ini bukan fosil museum. Ini adalah dapur umum yang setiap hari mengepul asapnya, roti yang setiap pagi diantar ke rumah-rumah fakir miskin, dan hotel gratis yang menyambut para musafir. Semua pahalanya, Rasulullah SAW bersabda, masih mengalir ke Nabi Muhammad SAW, kepada Tamim ad-Dari, dan kepada setiap generasi yang menjaga amanah ini.
Kisah Tamim ad-Dari adalah bukti bahwa wakaf tidak selalu tentang sumur atau kebun kurma yang membesar menjadi hotel bintang lima. Kadang, wakaf adalah tentang dokumen kecil yang tidak pernah diingkari, tentang janji yang ditepati meski penandatangan dan para saksinya telah tiada 14 abad. Tamim tidak meninggalkan gedung pencakar langit atas namanya. Tapi ia meninggalkan dapur umum yang terus menyala. Ia tidak punya rekening bank dengan saldo triliunan. Tapi ia punya "rekening langit" yang terus bertambah setiap kali seorang musafir usai menyantap sepiring lentil di Al-Khalil lalu mengucap: Alhamdulillah. Dan selama itu masih terjadi, selama peziarah masih singgah, selama roti masih dipecah, maka Tamim ad-Dari—sahabat Nabi yang namanya mungkin asing di telinga—akan terus menuai pahala hingga pintu surga terbuka untuknya. Maukah kita membuka "rekening abadi" versi kita sendiri, sekecil apa pun?
https://www.facebook.com/share/p/1BusbrErQ4/
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif